
Keesokan harinya Nino sudah berada didepan rumah Alena sebelum Alvin datang menjemputnya.
"Nino," sapa Alvin, yang memberhentikan kendaraannya dibelakang mobil Nino.
"Hai," jawabnya seraya melambaikan tangan.
"Sedang apa disini ?" tanya Alvin.
"Gua rasa tidak perlu menjelaskan apa-pun lo pasti sudah tahu masalah gua, kan Vin ?" Nino balik bertanya.
"Hm, dan sepertinya usaha yang istri gua lakukan untuk menyadarkan lo itu tidak sia-sia, semangat bro," ucap Alvin seraya menepuk beberapa kali bahu Nino.
Tidak lama kemudian percakapan mereka terhenti saat Alena datang menghampiri keduanya.
Wajahnya memucat karena terkejut saat melihat Nino berdiri tepat dihadapannya.
"Alena," gumam Nino pelan.
"Hai No," jawabnya berusaha seramah mungkin.
"Mas ayo berangkat ke sekolah," ajak Alena pada Alvin kemudian.
"Alena, mas rasa kamu harus pergi dengan Nino," ucap Alvin seolah memberi kesempatan pada Nino untuk memperbaiki semuanya.
Alena terdiam, mengernyitkan dahinya dan samar-samar ia juga memberi isyarat pada Alvin bahwa ia tidak ingin pergi bersama Nino, namun Alvin seolah tidak memperdulikan isyarat yang Alena tunjukan, ia berlalu pergi dan membawa kendaraannya masuk kehalaman rumah Alena.
"Len, pergi dengan ku, ada yang ingin aku katakan," ajak Nino.
"Hm," jawab Alena singkat, seraya berjalan menuju kursi penumpang disamping Nino.
Diperjalanan untuk sesaat mereka hanya terdiam, Alena yang tidak tahan dengan kondisi itu pun berinisiatif menyalakan music agar suasana tidak terasa hening dan mencekam, namun dengan cepat pula tangan Nino menghentikan niat Alena.
"Jangan !" seru Nino.
"Maaf, aku hanya merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini," jawabnya.
Mendengar jawaban Alena, membuat perasaan Nino semakin tidak menentu, ia dengan cepat menepikan kendaraannya.
"Len, seharusnya aku yang minta maaf, karena sudah membuat semuanya semakin rumit," ucapnya seraya melihat kearah Alena, namun Alena tetap memfokuskan pandangannya kearah depan jalan.
"Hm," jawab Alena singakat.
"Aku benar-benar menyesal dengan apa yang ku perbuat padamu malam itu Len, aku tidak bermaksud berbuat jahat padamu, saat itu aku hanya terlalu bahagia karena berhasil mendapatkan mu, sampai aku berfikir untuk benar-benar memilikimu, maaf Len," ucap Nino.
"Nino, ungkapan rasa bahagia itu tidak harus dengan melakukan hal yang melewati batas, sadarlah Nino kita masih sekolah, dan memang tidak sepantasnya kita berbuat seperti itu, kamu tidak ingin aku seperti Yaya, kan ?
aku yakin kamu tahu kisahnya, dia yang tidak bisa melanjutkan sekolah dan cita-citanya yang sudah dia impikan dari dia kecil, apa kamu tidak merasa miris jika itu juga terjadi padaku ?" tanya Alena.
"Iya Len aku salah, aku minta maaf, aku tidak berfikir panjang, benar kata orang-orang, aku memang tidak berguna, egois, dan keras kepala.
Sebenarnya hari ini aku datang hanya untuk meminta maaf, setelah itu aku janji tidak akan lagi mengganggu mu Len," jawab Nino menunduk penuh penyesalan.
"Jadi setelah aku memaafkan mu kau akan pergi dan kita selesai begitu saja ?
apa itu mau mu ?" tanya Alena menatap kesal kearah Nino yang masih menunduk.
Nino diam.
"Jawab aku Nino !" teriak Alena.
"Maaf Len, aku tidak pantas untuk wanita baik dan terhormat seperti kamu, kamu berhak mendapatkan laki-laki yang setara dengan mu, dan itu sudah pasti bukan aku.
Karena yang bisa ku lakukan hanyalah membuat masalah saja untuk mu," jawab Nino masih tetap menunduk seolah tidak kuasa untuk menatap Alena.
"Oh menurut mu wanita baik hanya pantas untuk laki-laki baik, dan sebaliknya juga begitu ?
fikiran macam apa itu Nino !
kalau menurutku yang namanya pasangan itu ada untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain, kalau mereka sama-sama sempurna untuk apa hidup berdua, kenapa tidak sendiri saja, bukannya sendiri juga sudah sempurna ?" tanya Alena dengan nafas terengah, berusaha bertahan untuk tidak menangis.
"Maksudmu kau bisa menerima semua kekurangan ku ?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu !
Nino aku mengenal mu bukan hanya hari ini, dari dulu aku sudah tahu semua tentang kamu, jadi menurutmu apa lagi yang aku tidak ketahui tentang kamu, kecuali sikap mu yang semalam !"
"Maaf tentang semalam,
hm, jadi apa kamu mau memaafkan kekhilafan ku ?" tanya Nino lagi.
"Hm,"
"Iya untuk kali ini aku maafkan, tapi ingat jangan diulangi lagi !" tegas Alena.
"Siap !
tapi kalau sudah menikah nanti pasti bisa, kan ?" tanya Nino mulai menggoda Alena, dan akhirnya kembali membuat Alena tersenyum malu.
"Itu sudah berbeda cerita Nino, sudahlah jangan dibahas lagi,"
"Baiklah-baiklah.
Jadi kita masih pasangan, kan ?"
"Menurutmu ?"
"Masih," jawab Nino seraya bersandar dibahu Alena.
"Duduk yang benar, dan mulai nyalakan mesin mobilnya, sebentar lagi kita telat kesekolah !" seru Alena mengingatkan bahwa mereka masih seorang pelajar.
"Siap sayang," jawab Nino, yang kembali membuat senyum malu terlukis diwajah Alena.
#
#
Chat :
Nino-Yaya : Semuanya sudah baik-baik saja, terimakasih untuk saran mu, kali ini aku akan menjaga dia yang sudah berada digenggamanku dengan sepenuh hati.
Yaya tersenyum membaca isi pesan yang Nino kirim untuknya.
"Semuanya pasti baik-baik saja jika kau berusaha menghadapinya, tapi jika kau lari itu artinya kau sudah siap untuk kehilangan segalanya," gumam Yaya disela senyum manisnya.
Yaya meletakan ponsel dan kembali membersihkan setiap sudut dirumahnya.
Tidak lama kemudian ponsel itu kembali berdering.
Call :
Ocha : Yaya, Fellix melamar ku, aku harus bagaimana ?
apa yang harus aku katakan padanya ?
apakah aku harus berpura-pura jual mahal ?
atau--
Yaya : Cha, Cha tenang dulu Cha, bicaralah perlahan, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan mu jika kau tidak berhenti bicara.
Ocha : Maaf Yaya, aku hanya bingung harus bagaimana.
Yaya : Sekaranga ku tanya, apa kau merasa senang ?
Ocha : Iya aku senang karena akhirnya Fellix benar-benar menyerah dengan perasaannya padamu, tapi--
Yaya : Tidak ada kata tapi untuk mendeskripsikan kebahagiaan Cha, dengar baik-baik, jika kau merasa senang itu artinya kau pun sudah siap untuk menerima lamaran Fellix, cepat beri dia kepastian, jangan ditunda, jika kau memang sudah yakin !
Ocha : Yaya, masalahnya Fellix tidak ingin bertunangan dulu, tapi dia ingin langsung menikah.
Yaya : Bukankah itu lebih bagus, karena itu artinya Fellix ingin bertanggungjawab sepenuhnya padamu.
Ocha : Begitukah ?
Yaya : Ya tentu saja.
Ocha : Kalau begitu, mau kah kamu mendampingi ku dipernikahan ku nanti ?
Yaya : Tentu, aku akan berada disana bersama Alvin.
Ocha : Terimakasih Yaya.
Yaya : Sama-sama Cha, aku ikut bahagia untuk kalian.
(Sambungan telphone terputus)
Yaya kembali tersenyum menatap layar ponselnya setelah panggilan itu berakhir, ia juga menarik nafas panjang dia merasa lega, seolah semua beban yang orang-orang sekitarnya rasakan sudah menghilang, dan berganti kebahagiaan.