Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 31



Setelah Alena pergi, Nino pun datang menghampiri meja tempat Yaya yang masih duduk termenung.


"Yaya," sapa Nino perlahan.


"Eh Nino, kenapa kau masih disini ?


bukankah tadi aku sudah meminta mu untuk segera pulang?" tanya Yaya seraya menghapus air mata yang masih membasahi pipinya.


"Lo juga akan datang mengajar kerumah gua, kan hari ini ?


jadi gua fikir tidak ada salahnya kalau gua menunggu lo, dan kita bisa pergi kerumah gua bersama,"


"Hm," jawab Yaya singkat.


"Kenapa lo menangis ?


apa yang Alena katakan sampai membuat lo seperti ini ?" tanya Nino penasaran.


"Sudahlah, ayo kita kembali kerumah mu Nino, jangan buang-buang waktu terlalu lama disini," ajak Yaya seraya berdiri, tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan yang Nino ajukan padanya.


Diperjalanan ataupun saat sudah berada dirumah Nino, Yaya masih saja terus mengunci mulutnya, dia tidak mengatakan satu patah katapun tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Alena, sikap Yaya ini membuat Nino semakin kesal dan marah pada Alena, Alvin dan juga pada dirinya sendiri.


"Sialan !!!" umpat Nino, seraya melemparkan Balpoin dengan sekuat tenaga kelantai, yang secara otomatis membuat Yaya terkejut.


"Ada apa dengan mu Nino ?" tanya Yaya.


"Gua tidak menyukai suasana seperti ini, lo terus diam gua tidak bisa mendengar suara lo, itu membuat gua merasa frustasi !


mengerti tidak !


gua mohon bicaralah walaupun kata-kata yang akan keluar dari mulut lo itu hanya sekedar cacian untuk gua !


gua rela asalkan lo tidak diam seperti sekarang !" seru Nino.


"Maaf Nino, aku hanya ingin fokus mengajari mu, aku tidak bermaksud membuat mu marah, atau sampai merasa frustasi seperti ini, maafkan aku,"


"Yaya kenapa lo tidak pernah bercerita tentang apa yang tengah lo fikirkan, dan kenapa lo selalu menyimpan masalah untuk diri lo sendiri !


Yaya lo masih punya gua, kalau memang lo ingin bercerita,"


"Nino, aku hanya tidak ingin membahas masalah itu lagi, tapi jika suatu waktu aku butuh tempat untuk bercerita, bisakah aku mencari kamu ?" tanya Yaya, dengan senyum manis diujung bibirnya.


Yaya tahu benar bagaimana caranya meredam amarah Nino, sampai berhasil membuat Nino kehilangan kata-katanya dan hanya mampu mengangguk lalu tersenyum.


##


Sementara itu Alena setelah selesai bicara dengan Yaya, ia hendak segera menghampiri Alvin, namun dari kejauhan ia melihat wajah Alvin yang tengah gelisah, itu membuatnya menghentikan langkah kakinya.


(Istrimu berani menemuiku Vin, bahkan dia juga berani mempertaruhkan hubungannya dengan mu, maka aku tidak akan membuang-buang waktu lagi, aku harus mendapatkan mu !) gumam Alena.


Tidak hanya itu Alena bahkan rela melukai dirinya sendiri, dengan menampar wajahnya sendiri berkali-kali, ia juga membuat dirinya berantakan agar bisa menarik perhatian Alvin.


Dengan senyum liciknya Alena berlari sambil menangis menghampiri Alvin.


"Mas Alvin," sapanya dengan suara bergetar.


"Alena, apa yang terjadi dengan mu ?


kenapa kau terlihat sangat kacau ?" tanya Alvin cemas.


"Aku tidak apa-apa mas, mari kita pulang saja,"


"Baiklah, cepat masuk mobil," perintah Alvin.


Diperjalanan Alena masih menangis dan tidak bicara apa-pun pada Alvin.


(Apa yang sebenarnya terjadi ?


Alena pergi untuk bicara dengan Yaya, apa benar semua ini Yaya yang melakukannya ?


tapi kenapa aku tidak bisa mempercayai istriku bisa berbuat bar-bar seperti ini, namun kalau bukan Yaya, lalu siapa ?


aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi !) gumam Alvin dalam hati.


"Tidak perlu membukakan pintu untuk Alena mas, Alena bisa melakukannya sendiri, sebaiknya mas Alvin segera pulang, Alena takut mbak Yaya akan salah faham dan marah lagi pada Alena kalau mas Alvin pulang terlalu malam," ucap Alena seraya membuka pintu mobil.


"Alena tunggu !" seru Alvin.


"Apa benar keadaan mu ini disebabkan oleh Yaya ?" tanya Alvin tanpa menoleh ke kursi belakang untuk melihat Alena.


"Jangan salahkan mbak Yaya mas, wajar kalau dia marah karena tidak tahu kebenarannya.


Sepertinya Nino sudah berhasil meracuni fikiran mbak Yaya tentang kedekatan kita, dan Alena rasa hubungan mereka sangat dekat, sampai-sampai mbak Yaya lebih percaya pada Nino dibandingkan dengan mas Alvin suaminya sendiri,"


Alvin tidak menjawab Alena, namun terlihat jelas kalau Alvin sudah terpancing emosinya, ia hanya melampiaskan amarah pada setir mobil yang ia genggam erat sampai membuat urat-urat ditangannya tegang.


"Mas Alvin maafkan Alena, Alena tidak bermaksud membuat keadaan semakin panas, Alena hanya tidak ingin mas Alvin terlihat lemah dihadapan Nino," ucap Alena seraya menghambur memeluk Alvin dari belakang.


"Kamu tidak salah Alena, malah seharusnya Mas Alvin berterimakasih padamu, dan juga meminta maaf atas perlakuan Yaya yang sudah kasar menyakiti mu,"


"Alena tidak apa-apa mas, karena sebelum mas Alvin minta maaf atas nama mbak Yaya, Alena sudah terlebih dahulu memaafkan dan melupakan apa yang mbak Yaya lakukan,"


"Anak baik, cepat masuk kedalam, mas Alvin harus pulang," perintah Alvin seraya mengusap lembut rambut Alena.


"Baiklah," jawabnya.


Ketika pintu mobil sudah terbuka, Alena tidak kunjung keluar, ia malah kembali menutupnya dan dengan cepat bergerak mencium pipi Alvin, perbuatannya membuat Alvin terdiam tanpa kata.


"Hati-hati dijalan mas," pesannya sebelum benar-benar keluar.


(Mungkin dia hanya menganggapku sebagai kakaknya, sudahlah aku harus menyelesaikan masalah ku yang lebih penting,) gumam Alvin.


##


Alvin mengemudikan mobil menuju rumah orangtuanya.


Sesampainya disana.


"Yaya, Yaya dimana kamu !" teriak Alvin.


"Vin, jangan berteriak seperti itu !


ini rumah papa, bisa tidak kau menunjukan rasa hormat mu pada kami orangtua mu !" seru sang ayah.


"Maaf pa, tapi Alvin kesini ingin menjemput Yaya untuk kembali kerumah kami,"


"Ada apa Vin ?


sepertinya wajah mu tidak menunjukan kalau hubungan kalian sudah membaik ?"


"Masalah diantara kami semakin melebar pa, semenjak tadi Yaya datang menemui Alena, dan melakukan kekerasan pada Alena !" jelas Alvin.


"Apa ?


Yaya melakukan kekerasan ?"


"Iya pa, dan perbuatannya itu sudah diluar batas !"


"Kau melihatnya langsung saat Yaya berbuat kasar pada Alena ?"


"Tidak pa,"


"Lalu atas dasar apa kau bisa mempercayai bahwa istri mu yang melakukan kekerasan padanya !"


"Alena datang sambil menangis pa, wajahnya merah karena tamparan, rambut dan pakaiannya juga berantakan, sementara dia baru saja menemui Yaya, jadi atas dasar apa Alvin tidak percaya bahwa bukan Yaya yang melakukan itu !" ungkapnya.


"Hm, Alvin sebaiknya kau cari tahu dulu kebenarannya, jangan kau biarkan emosimu itu menguasai dirimu kemudian menghancurkan hidup mu,"


"Alvin tahu apa yang harus Alvin lakukan untuk mendidik istri Alvin itu pa !" seru Alvin.


Tidak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti didepan rumah.


Alvin dengan cepat melihat keluar jendela untuk mengetahui siapa yang datang.


Wajah Alvin berubah semakin tegang saat mengetahui siapa yang baru saja datang.