Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 37



"Maaf,"


"Maaf lagi ?


pernahkah kau merasa bosan ketika kau mengatakannya ?


Fell kata-kata maaf mu sudah tidak bisa membuatku tersentuh lagi, karena sudah terlalu sering aku mendengarnya, sampai kata itu sudah tidak ada artinya lagi sekarang,"


"Lalu kau ingin aku bagaimana Cha ?"


"Jika kau tanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa Fell ?"


"Sudahlah jangan diperpanjang lagi, sekarang aku tanya apa mau mu ?"


"Keinginan ku masih sama seperti saat pertama kali kau memintaku untuk mendampingi mu pada hari itu.


Fell percayalah aku ingin yang terbaik untuk mu, jika Yaya belum bersama Alvin, mungkin aku akan dengan senang hati mendukung mu sampai kau benar-benar bisa bersatu dengannya, tapi ini ceritanya berbeda Fell, tolong sadarlah, belajar untuk mengasihani dirimu sendiri Fell, jangan terus menyiksa dirimu, karena sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa merubah apa yang dinamakan takdir !"


"Apa kau tengah mengeluh sekarang ?


atau kau tengah mengajariku tentang takdir ?" tanya Fellix sinis.


"Fellix !!!" seru Ocha geram.


"Dulu kau mengatakan akan membantuku untuk melupakan Yaya, tapi sampai saat ini pun aku masih belum bisa melupakannya !


apa itu salah ku juga ?"


"Lalu apa kau juga ingin mengatakan bahwa aku sudah gagal membuat mu melupakannya ?"


"Bukan begitu maksudku Cha, tolong jangan salah mengartikan setiap kata yang ku ucapkan, karena saat ini aku sedang tidak bisa berfikir normal,"


"Kenapa ?


apa karena saat ini kau sudah mengetahui bahwa Yaya dan Alvin sudah baik-baik saja, dan itu membuat mu patah hati lagi, begitukah Fell ?"


"Diamlah, aku hanya tengah merasa sakit Cha itu saja, tolong mengerti !"


"Lalu bagaimana dengan rasa sakit ku selama ini ?


apa kau perduli ?


apa kau juga mengerti ?


atau apa kau pernah setidaknya hanya bertanya bagaimana tentang aku ?


rasa sakit yang kau rasakan itu semua akibat ulah mu sendiri Fellix, kau yang mencari-cari kesakitan mu sendiri, faham !"


"Cukup dengan kata-kata mu Cha !


kalau memang kau merasa sakit bersama dengan ku selama ini, kenapa dari awal kau menerima ku ?


dan masih terus memaafkan ku, jadi siapa yang bodoh sebenarnya ?"


"Fell, bukankah aku sudah pernah mengatakan ayo mundur, karena jujur saja aku mulai merasa tidak tahan dengan perlakuan mu yang tidak adil, dan aku hampir muak setiap kali kau diam karena patah hati oleh Yaya, dan mungkin kau benar, aku selama ini tidak bisa membedakan antara harapan dan kebodohan, maka dari itu aku akan belajar menjadi pintar sekarang, agar harapan itu bisa menghilang !"


"Jadi maksud mu sekarang kau ingin menyudahi semuanya ?" tanya Fellix.


"Mungkin memang ini yang sebenarnya kau inginkan Fell," jawab Ocha seraya melepaskan cincin dijari manisnya, dan meletakannya dimeja dihadapan Fellix.


"Hm," jawab Fellix malas tanpa merasa bersalah.


"Sebaiknya aku pulang sekarang sudah terlalu larut," pamit Ocha seraya berdiri dan meraih tas tangannya.


"Aku antar," jawab Fellix seraya berdiri dan meraih lengan Ocha.


"Tidak perlu Fell, kau disini saja dulu, tenangkan fikiran mu.


Ingat besok malam kita sudah ada janji dengan Yaya dan Alvin, cobalah untuk bersikap biasa saja didepan mereka seolah kita tidak pernah ada percakapan apa-pun mengenai mereka.


Kemudian berpura-pura lah, kalau kita baik-baik saja, dengan begitu kau tidak akan membuat Yaya khawatir," pesan Ocha.


Dengan rasa kesal dan amarah yang terpendam Ocha pergi dari hadapan Fellix.


Fellix pun diam dan tidak bisa memaksa keinginan Ocha, namun tiba-tiba saja matanya tertuju pada layar ponsel yang baru saja bergetar, ia bukan melihat isi pesan diponsel itu, tapi ia justru fokus melihat foto dirinya, Ocha dan juga Yaya yang ketika itu ia jadikan sampul diponselnya.


"Yaya, aku fikir semuanya akan mudah ketika aku mulai menjalin hubungan dengan Ocha, aku fikir aku bisa dengan cepat melupakan mu, tapi ternyata semuanya malah menjadi semakin rumit saja.


Jujur sebenarnya aku tidak mempunyai niat untuk menyakiti Ocha, tapi aku hanya tidak tahu bagaimana caranya mengalihkan perhatianku darimu untuknya, karena bahasa tubuhku juga sudah tidak mampu lagi menyembunyikan semua kebenarannya dari Ocha.


Yaya aku harus bagaimana ?


aku bisa gila jika terus berharap padamu !" gumamnya frustasi, masih tetap menatap foto mereka bertiga.


#


Keesokan harinya.


Makan malam yang dijanjikan pun akhirnya tiba, Ocha dan Fellix sudah datang lebih dahulu dari mereka.


"Hai Cha, Fell, sudah menunggu lama ?


maaf kami terlambat, macet, jalanan malam minggu begini sangat ramai, biasa anak-anak muda memenuhi jalan, haha," gurau Yaya saat datang dan mulai duduk, namun gurauannya hanya ditanggapi dingin oleh keduanya.


"Ada apa ?


kenapa kalian terlihat diam ?" tanya Yaya heran.


"Ha ?


tidak apa-apa Ya semuanya baik-baik saja, ia kan Fell ?" tanya Ocha pada Fellix.


"Hm," jawab Fellix singkat.


"Tidak mungkin, kalian terlihat sangat asing dan dingin, apa kalian sedang bertengkar ?"


"Tidak Yaya, kau terlalu banyak berfikir," jawab Ocha dengan senyum lebar diwajahnya.


"Sayang, kalau mereka mengatakan baik-baik saja, itu artinya kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa," timpal Alvin.


"Tapi--"


"Sudah-sudah ayo kita pesan makanan, aku sudah sangat lapar," ajak Alvin yang dengan cepat memotong kata-kata Yaya.


Mereka pun melihat buku menu masing-masing memegang satu buku.


Kala itu Yaya semakin dibuat heran saat melihat tidak ada lagi cincin yang biasanya menghiasi jemari Ocha, ketika itu ia mulai menyadari bahwa Ocha dan Fellix tengah dirundung masalah yang tidak bisa mereka ungkapkan padanya dan Alvin, ia pun memutuskan untuk menyimpan rasa penasarannya dalam-dalam.


#


Setelah makan malam selesai mereka pun berpisah dan masing-masing kembali pulang.


"Vin, apa tadi kamu melihat ada yang aneh dengan sikap Ocha dan Fellix ?" tanya Yaya.


"Memangnya apa yang membuat mereka tampak aneh ?" tanya Alvin lagi.


"Mereka seperti tengah perang dingin, tidak saling melihat, dan Ocha juga tidak lagi memakai cincin pertunangan mereka, aneh kan ?"


"Hm, ia juga, wajah Ocha juga terlihat seperti dia tengah menahan amarah, dan matanya juga sembab seperti orang yang menangis semalaman, apa mungkin mereka--"


"Hus, bicara jangan sembarangan, mungkin mereka hanya sedang tidak ingin memakainya saja, sudahlah besok aku akan bertanya pada mereka,"


"Tanyakan pada Ocha saja, tidak usah bertanya pada Fellix !" gerutu Alvin.


"Iya sayang, iya,"


#


Sementara itu Fellix dan Ocha tetap saling diam, mengunci mulut mereka dengan sangat rapat, baik Ocha ataupun Fellix keduanya tidak ingin memulai kembali pertengkaran seperti yang sudah terjadi sebelumnya.