Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 45



"Kenapa lo diam ?


ingin menangis ?


apa yang lo tangisi, yang terluka bukan lo, tapi Wita, sekarang berikan alat itu !" teriak Nino memaksa.


Alena tetap diam.


Nino sudah tidak tahan lagi melihat Alena yang terus diam dan mengabaikannya, ia pun berusaha merebut palu itu.


"Aw !" gumam Alena pelan.


"Tangan mu--" kata-kata Nino terpotong karena Alena yang sudah lari menjauh.


"Nino, seharusnya kamu tidak berkata sekasar itu pada Alena,"


"Tapi dia ceroboh sampai melukai tangan lo,"


"Tapi dia juga kena pukulan itu, kan ?


bahkan seingatku lukanya jauh lebih parah dari pada luka ku, ditambah lagi luka dihatinya karena kata-kata mu,"


"Biarkan saja, dia pantas mendapatkannya !" seru Nino seraya berlalu pergi.


Tidak seperti kata-kata yang keluar dari mulutnya, apa yang Nino lakukan justru sebaliknya, ia menemui petugas kesehatan dan meminta kotak p3k, lalu dengan cepat berlari mencari Alena.


"Alena !" teriak Nino.


"Hai," sapa seseorang yang tengah memegang dan mengobati luka Alena.


"Lo berlari untuk membawakan kotak itu untuk Alena ?" tanyanya.


"Iya.


Gua diminta oleh Wita membawakannya untuk dia, tapi sepertinya dia tidak lagi membutuhkan kotak ini, bukankah lo sudah mengobati lukanya ?" tanya Nino.


"Iya, lalu sedang apa lagi lo masih berdiri disini ?


lo ingin jadi pengganggu dalam hubungan gua dan Alena ?"


"Hubungan ?" tanya Nino heran.


"Raja !" seru Alena.


"Ya sayang,"


"Jangan urusi dia, kembali kemari dan duduk disebalahku," pinta Alena.


"Oh, maaf-maaf gua tidak ada maksud mengganggu atau apa, ini semua karena Wita yang memaksa saja, makanya gua berlari kemari, sebenarnya gua sangat malas melakukan hal seperti ini, sama sekali tidak penting,"


"Yasudah pergi sana !" teriak Raja.


"Tidak perlu lo usir, gua akan dengan senang hati pergi sendiri !" seru Nino.


Setelah Nino pergi, Alena menatap Raja dengan tatapan membunuh.


"Hm, Len maaf aku mengatakan hal yang tidak seharusnya, aku hanya tidak ingin dia terus datang dan melukai mu, itu saja Len,"


"Terimakasih untuk kebaikan mu, tapi aku lebih mengenal dia dibandingkan dengan mu !" tegas Alena seraya berdiri dan hendak pergi.


"Satu lagi, menjauhlah dariku, dan lebih baik kau kembali mendaki, disini bukan tempat mu !" seru Alena.


(Gadis sombong !


lihat saja, gua akan membuat lo merangkak dibawah kaki gua dan memohon agar gua bisa menerima lo !)


gumam Raja dalam hati.


#


Malam harinya Alena kembali berkumpul dengan Wita dan teman yang lainnya, sebagian dari mereka ada yang duduk mengelilingi api unggun, ada yang berbincang dengan pasangannya, ada juga yang lebih memilih menyendiri dengan gitarnya.


"Lena kau baik-baik saja ?" tanya Wita.


"Hm," jawabnya dengan senyum manis menyungging diujung bibirnya.


"Wit, seharusnya kau tidak perlu repot-repot meminta dia untuk membawakan ku kotak obat, karena kau tahu sendiri apa-pun perbuatan baik yang dia lakukan pasti akhirnya juga akan menyakitkan," jelas Alena.


"Dia ?


maksud mu Nino ?" tanya Wita heran.


"Hm,"


"Aku tidak pernah meminta dia membawakan kotak obat, aku hanya memberitahu dia tentang tangan mu yang juga terluka, tapi dia hanya mengatakan bahwa dia tidak perduli, aku tidak menyangka ternyata anak itu melakukan hal yang sebaliknya," jelas Wita seraya tersenyum menggoda Alena.


"Jangan asal bicara Wit !" jawabnya ketus.


"Ya siapa yang tahu isi dalam hati seseorang, ia kan ?"


"Terserah kau saja ingin menyimpulkannya seperti apa,"


Ditengah perbincangan mereka, Doni datang dan menyeret Nino bersamanya.


"Hai Wita," sapa Doni.


"Hai Doni," jawab Wita tersipu malu.


"Ada apa dengan kalian berdua ?" tanya Nino yang merasa aneh.


"Tidak ada apa-apa, gua hanya tengah mengagumi ciptaan tuhan satu ini," jawab Doni seraya menatap Wita yang masih tersipu malu.


Nino menatap keduanya dengan pandangan geli, sesekali ia melihat kearah Alena yang menganggap tidak pernah ada dirinya disana.


"Oh iya, ayo kita main sesuatu yang seru !" ajak Wita.


"Apa itu ?" tanya Doni penasaran.


"Aku sudah mempersiapkan beberapa kertas, disini ada satu yang bertuliskan WIN siapa saja yang mendapatkannya bisa memberi perintah pada pemain yang kalah untuk melakukan apa saja, dan perintahnya tidak bisa dibantah karena dia adalah rajanya !" jelas Wita.


"Menarik, sangat menarik !" seru Doni antusias.


"Gua ikut !" teriak seseorang.


"Raja, kemarilah semakin ramai semakin seru," ajak Wita.


Tanpa banyak bertanya lagi Raja sudah duduk tepat disamping kiri Alena, sedangkan Nino dia duduk berhadapan dengan Alena.


Kertas mulai diacak, setiap orang mengambil masing-masing satu kertas.


"Aku mendapatkannya !" teriak Wita.


"Aku ingin memberikan tantangan pada Doni, hampiri seseorang yang kau suka, cium dia, kemudian nyatakan perasaan mu padanya !" jelas Wita memberikan tantangan pada Doni.


Doni tersenyum menghampirinya, mencium kemudian menyatakan perasaannya pada Wita.


Begitu terus menerus permainan berlangsung.


"Gua mendapatkannya !" teriak Raja.


"Gua ingin memberi tantangan pada Nino, Nino siapa orang yang sangat lo benci, dan siapa orang yang sangat lo inginkan saat ini !"


Nino terdiam dan sesekali mencuri pandang pada Alena, untuk beberapa saat sebelum menjawab tantangan Raja.


"Nino apa pertanyaan yang gua ajukan terlalu sulit untuk dijawab, jika ia bagaimana jika kita ganti dengan hanya menyatakan cinta pada orang yang lo benci saja, bukankah jauh lebih mudah ?" tanya Raja tersenyum sinis.


"Baiklah !


Alena, aku mencintaimu !" ucap Nino tanpa melihat kearah Alena, sementara Alena yang terkejut dengan ungkapan itu kembali menunduk karena dia sadar makna kata cinta yang Nino ucapkan itu adalah kebalikannya.


"Wah wah wah, apa itu artinya kau sangat membenci Alena Nino ?" Raja kembali memancing emosi Nino.


"Cukup Raja, ini hanya permainan !" teriak Wita yang kesal dengan sikap Raja.


"Baiklah-baiklah," jawabnya sinis.


Permainan pun kembali dilanjutkan kali ini Doni yang mendapatkan kertas bertuliskan WIN.


"Aku saja yang mewakili mu memberikan tantangan," pinta Wita pada Doni.


"Baiklah," jawabnya memberikan kesempatan pada Wita.


"Aku minta Nino, kau berdiri dan cium Alena sekarang !" seru Wita memberi perintah, empat orang didepannya secara bersamaan menatap heran kearahnya.


"Lo gila ?


ini tidak adil, bukankah kartu itu milik Doni, kenapa lo yang memberi perintah !" protes Raja kesal.


"Kenapa ?


bukankah mulai sekarang Doni adalah kekasihku, itu artinya apa yang Doni miliki itu juga bisa jadi milik ku !


jika kau tidak suka dan tidak terima silahkan pergi !" seru Wita tidak kalah kesalnya.


"Tapi ini tidak adil !"


"Kali ini Raja benar Wit, tidak seharusnya kau memberikan perintah untuk kekuasaan orang lain, walaupun orang itu adalah kekasih mu," ungkap Alena menimpali.


Nino mengerutkan keningnya mendengar apa yang Alena katakan, kali ini ia benar-benar yakin kalau memang hubungan diantara Raja dan Alena lebih dari apa yang terlihat.