Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 22



"Sekarang ayo kita mulai belajar," ajak Yaya seraya beranjak dari duduknya dan menggunakan lengannya untuk menyeka air mata yang terus mengalir dari kedua mata nya.


Nino dengan cepat menarik tangan Yaya untuk menghentikannya pergi dan membuatnya kembali duduk diatas tempat tidur.


"Hari ini gua sedang tidak ingin belajar, dan gua tahu lo juga tidak akan fokus mengajar dengan kondisi seperti sekarang ini,"


"Tapi Nino, kemarin kita juga sudah tidak belajar, kan ?


maka hari ini kita harus belajar, ayo jangan buang-buang waktu lagi,"


"Sudah tidak apa-apa, gua bisa mengulang lagi pelajaran yang gua dapat di sekolah hari ini, lebih baik sekarang gua antar lo pulang, tenangkan diri lo dulu, agar lo bisa mengambil langkah yang baik untuk hidup lo kedepannya," nasehat Nino.


"Tapi Nino, aku sedang tidak ingin pulang sekarang,"


"Yaya dengar, lo sudah dewasa dan lo juga seorang ibu, jangan pernah mencoba menghindari masalah, hadapi, gua yakin lo mampu melewati semua godaan dihidup lo,"


Yaya mengangguk dan menuruti apa yang Nino katakan.


Ia mengantarkan Yaya pulang kerumahnya.


"Yaya tersenyumlah, dan untuk sekarang berpura-puralah seperti lo tidak tahu apa-apa, sampai lo bisa membuktikannya sendiri," ucap Nino.


"Hm," jawab Yaya singkat.


Setelah Yaya keluar dari mobilnya, Nino pun juga segera pergi dari depan rumah Yaya.


"Kau pulang diantar murid mu itu lagi ?" tanya Alvin yang membukakan pintu untuk Yaya.


"Hm," jawabnya seraya mencium punggung tangan Alvin.


Alvin memeluk Yaya dan mencium keningnya seperti biasa, ia juga membawa Yaya untuk duduk dikursi ruang tamu rumah mereka.


Seperti kucing Alvin terus menempel dan bermanja-manja dengan tubuh Yaya, sementara Yaya terus menunjukan sikap datar dan biasa saja.


"Ada apa sayang ?" tanya Alvin.


"Tidak ada apa-apa Vin, hanya saja pembahasan pelajaran Nino hari ini cukup menguras fikiran ku, jadi aku sedikit merasa pusing," jawabnya.


"Hm, kasihan sekali istriku, kemarilah aku akan memberikan sedikit pijatan untuk mu," ucapnya seraya membuat Yaya tidur dipahanya.


(Kenapa kau bersikap seolah kau tidak sedang melakukan kesalahan Vin ?


kenapa kau begitu lembut, apakah ini salah satu cara mu untuk menutupi kecurangan mu dibelakang ku, kenapa kau harus membuat ku sebingung ini Vin,) gumam Yaya dalam hati.


"Bagaimana pijatan ku ?" tanya Alvin tiba-tiba yang membuat Yaya sedikit terkejut.


"Lumayan, terimakasih Vin,"


"Iya sama-sama,"


"Hm, Vin," Yaya kembali memanggil nama Alvin.


"Ya,"


"Tidak jadi,"


"Kenapa tidak jadi ?


katakan, apa yang ingin kau sampaikan sayang, kalau kau ada masalah ceritakan saja padaku,"


"Ini bukan masalah serius Vin, aku hanya ingin bertanya, apa kau masih mencintaiku ?" tanya Yaya.


"Pertanyaan macam apa itu ?"


"Jawab saja,"


"Baiklah, dengar baik-baik, aku Alvin Putra Adiwijaya, untuk hari-hari kemarin yang sudah kita lewati, hari ini, dan seterusnya bahkan selamanya, aku akan selalu mencintai Yaya istriku, apa itu cukup untuk menjawab pertanyaan mu sayang ?"


"Hm, terimakasih sayang karena sudah mencintaiku sejauh ini,"


Yaya tersenyum dan memejamkan matanya sementara Alvin masih tetap memijat bagian kepala Yaya.


"Oh iya sayang, hari ini Ocha dan Fellix datang menemuiku dan memberikan undangan pertunangan mereka berdua,"


"Benarkah ?


kapan itu acaranya ?"


"Minggu depan," jawab Alvin malas.


"Kamu kenapa Vin, dari nada bicara mu sepertinya ada yang sedang mengganggu fikiranmu ?"


"Iya kamu benar, karena tadi selain mereka datang untuk memberiku undangan, Fellix juga tiba-tiba mengingatkan ku akan ancamannya agar aku tidak menyakitimu," ungkapnya.


"Aku mengatakan apa yang seharusnya aku katakan bahwa aku tidak akan pernah menyakitimu apa lagi sampai menyia-nyiakan mu.


Hal yang menggangguku adalah, saat aku mengetahui kebenaran bahwa ternyata Fellix masih belum bisa sepenuhnya melupakan tentang kamu, rasanya aku ingin sekali memukulnya saat itu juga !"


"Apakah saat mengetahui Fellix masih mencintaiku sangat menyakitkan untukmu Vin ?"


"Tentu saja, aku tidak akan pernah rela membiarkan orang lain menyimpan perasaan lebih terhadap istriku, jika berani maka orang itu harus bisa melawan dan mengalahkan ku terlebih dahulu,"


"Hm, lalu jika ada orang lain yang menyimpan perasaan untuk mu, apa aku juga bisa berbuat seperti yang kamu ucapkan tadi ?"


"Ya, tentu saja, kenapa tidak bisa ?


bukankah dulu, kau sudah berhasil membuat Ajeng menjauh dari ku," jawab Alvin mengingatkan.


"Iya, kau benar,"


(Kau benar, tapi dulu lain ceritanya Vin, dulu aku tahu dengan sangat jelas bahwa kau tidak mempunyai perasaan lebih terhadap Ajeng, tapi terhadap wanita muda itu---


ahh sudahlah, Nino benar aku harus berpura-pura tidak ada apa-apa didepannya saat ini, jangan sampai aku mengeluarkan kalimat yang bisa memancing emosiku juga,) gumam Yaya dalam hati.


Yaya menjalani malam nya dengan perasaan tidak menentu.


Pagi hari ia sudah bersiap mengantar Alvin kedepan pintu untuk pergi bekerja, tidak lama setelah Alvin pergi, Nino pun juga datang menjemput Yaya.


"Nino," sapanya.


"Ayo cepat, kau tidak ingin terlambat melihat kebenarannya, kan !" pekik Nino dari dalam mobilnya.


Tanpa basa-basi lagi, Yaya segera mengunci pintu rumahnya dan mereka segera bergegas mengikuti kemana Alvin pergi.


"Rumah siapa ini ?" tanya Yaya, saat melihat mobil Alvin masuk kedalam sebuah rumah mewah.


"Tunggu dan Lihat saja," jawab Nino santai, tapi tetap memasang mata agar tidak kehilangan satu detik pun jejak berharga tentang targetnya.


Tidak lama kemudian mobil yang Alvin bawa kembali keluar dari balik gerbang rumah mewah itu.


"Nino Alvin pergi No, cepat ikuti dia !" teriak Yaya.


"Iya sabar Yaya, tidak perlu terburu-buru, lo tidak ingin kita celaka juga, kan ?"


"Iya maaf Nino," ucap Yaya menyesali tindakannya.


Setelah cukup lama mengikuti Alvin.


"Nino bukannya ini jalan menuju sekolah mu ?" tanya Yaya.


"Tepat sesuai dugaan lo,"


Saat memasuki Gerbang sekolah dan mencari tempat untuk parkir, Nino sedikit menjauh dari mobil Alvin, mereka hanya menonton dari kejauhan.


Seperti biasa, Alvin membukakan pintu mobil untuk Alena, sedikit berbincang, kemudian keduanya tersenyum lalu diakhiri dengan tangan Alvin mengusap dengan gemas kepala Alena.


Pemandangan didepannya itu membuat Yaya terpukul cukup keras, jantungnya berdegup sangat kencang, darah ditubuhnya pun terasa berhenti mengalir saat ia melihat kenyataan didepan matanya.


Ia terhentak memandang Alvin dari kejauhan dengan tatapan masih tidak percaya, namun air matanya sudah membanjiri pipinya itu membuktikan kalau ia tengah merasa kecewa saat ini.


Dengan cepat Yaya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Kamu menghubungi siapa ?


jangan gegabah Yaya," tanya Nino.


Namun Yaya tidak menjawabnya, ia hanya terus fokus menatap kearah Alvin dengan ponsel menempel ditelinganya.


Call :


Yaya : Sudah sampai kantor ?


Alvin : Sudah sayang, ini aku tengah mengisi absen dikantor sayang, setelah itu aku akan pergi kuliah.


Ada apa ?


Yaya : Tidak ada apa-apa, hanya bertanya saja, memangnya harus ada alasan dulu jika aku ingin menghubungi suamiku sendiri, dan menanyakan dia sedang melakukan apa saja saat tidak disampingku ?


Alvin : Tidak juga, hanya merasa kamu seperti tengah mengintrogasi saja, kamu baik-baik saja, kan ?


Yaya : Hm aku baik-baik saja, ya sudah itu saja Vin, semangat untuk aktivitas mu hari ini suamiku.


Yaya menutup sambungan telphone nya dengan Alvin, menggenggam erat ponsel itu dan masih menatap kesal kearah Alvin yang masih berdiri disamping pintu mobil yang ia bawa.