
Ditengah makan malam itu tiba-tiba saja Alena berdiri.
"Aku sudah selesai," ucapnya lekat menatap Yaya.
"Tapi makanan mu belum habis, duduk lah dulu jangan terburu-buru," jawab Yaya yang juga ikut berdiri seraya meraih pergelangan tangan Alena.
"Tidak terimakasih," jawabnya ketus, melepaskan genggaman Yaya dengan kasar.
"Mas Alvin selamat ulangtahun, dan Yaya terimakasih atas jamuan makan malamnya !" serunya seraya berbalik hendak melangkah pergi meninggalkan meja makan.
"Pernah diajarkan sopan santun tidak !" Nino angkat bicara.
"Nino,--" gumam Yaya mencoba menghalau.
"Kenapa Yaya ?
orang seperti dia tidak pantas duduk dimeja yang sama dengan orang sebaik lo," tambah Nino.
"Betul, orang seperti saya memang tidak pantas berada diantara kalian !
lalu untuk apa aku masih berada disini ?" tanya Alena tanpa membalikan badannya.
"Alena-Alena, duduk dulu ya, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik, jangan dengarkan apa yang Nino katakan," ucap Yaya kembali mendekati Alena.
"Tidak !
asal kamu tahu semua ini gara-gara kamu !" seru Alena, dengan mata yang hampir melompat keluar.
Mendengar cacian Alena, Yaya sedikit menjauh darinya, namun hal ini semakin memicu amarah Nino, ia segera beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan mendekati Alena.
"Masalah lo dengan gua, bukan dengan Yaya !" seru Nino dengan emosi tertahan.
"Lalu apa mau mu ?"
"Ikut gua !" seraya menarik paksa tangan Alena.
"Tidak, lepaskan !"
"Nino kau mau membawa Alena kemana ?" tanya Yaya.
"Memberi anak manja ini pelajaran, agar dia bisa sedikit saja menghormati orang yang lebih tua dari dia !" jawabnya.
"Ayo !!!" ajak Nino lagi, tapi kali ini Alena berhasil memberontak bahkan tidak hanya itu Alena juga berhasil mendaratkan telapak tangannya diwajah Nino dengan kuat.
Apa yang Alena lakukan membuat Alvin dan Yaya terkejut sekaligus prihatin terhadap Nino, namun diluar dugaan Nino menatap Alena dan tersenyum sinis padanya.
"Sudah puas ?
sekarang ikut gua !" ucap Nino kembali membawa Alena keluar dari rumah Alvin dan Yaya.
Yaya terduduk kembali dikursinya, ia terdiam memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa ?" tanya Alvin mendekat dan mengusap lembut kepala Yaya.
"Vin, apa aku salah ?
aku hanya bermaksud agar hubungan diantara mereka jadi jelas, dan Nino bisa kembali konsentrasi pada pelajaran yang aku berikan, apa aku salah Vin ?" tanya Yaya frustasi.
"Aku tidak tahu ini salah atau benar, tapi menurutku sudah cukup kamu membantu Nino, selanjutnya biarkan dia sendiri yang menentukan akan jadi apa dia nantinya, aku tidak ingin melihat mu diperlakukan seperti itu lagi," jawab Alvin.
"Hm," Yaya mengangguk mengerti.
#
Sementara itu.
"Masuk !" teriak Nino meminta Alena untuk masuk kedalam mobilnya.
Melihat amarah Nino yang menggebu-gebu membuat Alena kehilangan keberanian untuk menolaknya.
Sepanjang perjalanan Nino hanya diam, mengerutkan dahi dan mata terus fokus kedepan, dengan emosi yang masih jelas terlihat diwajahnya.
Sementara Alena terus menunduk, tidak tahu harus berbuat apa.
Tidak lama kemudian suara rem mobil berdecit kencang membuat tubuh keduanya sedikit terhempas.
"Turun !" seru Nino.
"Ini dimana ?" tanya Alena, matanya menyusuri tempat yang begitu asing untuknya.
"Kenapa kau membawa ku kemari ?
aku ingin pulang !"
"Tidak sebelum lo sama gua menyelesaikan masalah diantara kita !
setelah itu gua janji tidak akan pernah mengganggu hidup lo lagi se-la-ma-nya !" ucap Nino menekankan kata-katanya.
"Apa lagi yang harus diselesaikan ?
kamu itu orang jahat Nino, dari dulu kamu selalu mencari masalah dengan ku, bahkan malam ini kamu meminta wanita itu untuk menjebak dan membohongi ku, aku tidak mengerti dengan jalan fikiran mu itu Nino !
apa mau kalian sebenarnya !" teriak Alena.
"Wanita itu punya nama !
dan asal lo tahu, apa yang Yaya lakukan itu untuk membuat gua berani mengungkapkan apa yang gua rasakan sama lo !
dia sama sekali tidak ada niat menjebak atau membohongi lo Alena, lo terlalu egois, semua perbuatan baik yang orang lain lakukan, lo anggap mereka semua jahat, yang gua tahu orang jahat itu adalah lo sendiri !
fikiran lo terlalu sempit---" kata-kata Nino terhenti, saat Alena kembali menampar wajahnya.
Nino menghela nafas panjang, dan kembali melihat kearah Alena.
"Masih ingin menampar lagi ?" tanya Nino dengan sedikit senyum diujung bibirnya.
Alena terdiam dengan airmata mengalir dari kedua matanya.
Nino menyeka airmata Alena dengan tangannya tanpa berkata apa-apa.
Alena pun dengan cepat mendekat dan mengecup lembut bibir Nino, kemudian menghambur kedalam pelukan Nino.
Nino yang terkejut hanya bisa diam mematung, merasakan tubuh kecil Alena yang hangat dalam dekapannya.
"Kamu benar aku egois, karena itulah tidak ada yang sayang sama aku, tidak ada yang memperdulikan ku, bahkan kamu pun selalu membelanya," ucap Alena masih memeluk Nino.
"Alena--"
"Nino dari dulu aku menyukai mu, tapi kamu tidak pernah melihat kearah ku, sampai suatu hari kamu benar-benar menghancurkan perasaanku, sejak saat itu aku memutuskan untuk membencimu, sebenarnya aku yang memohon pada orangtua ku agar bisa pindah keluar negeri, agar aku bisa melupakan semua tentang kamu, tapi saat kembali kenapa aku harus bertemu kamu lagi Nino, kenapa ?" tanya Alena lirih.
"Kamu bilang apa ?" tanya Nino mencoba melihat wajah Alena.
"Jangan lihat aku, aku tidak ingin terlihat lemah didepan mu !" seru Alena.
"Alena, dari dulu aku juga menyukaimu, namun aku tidak memiliki keberanian untuk mendekatimu,"
"Kenapa ?"
"Karena citraku yang buruk disekolah, dan salah satu teman baik ku, dia juga menyukai mu,"
"Bodoh !" umpat Alena.
"Ya, benar dulu aku memang bodoh, hanya untuk membuktikan padanya kalau aku tidak menyukai mu, aku malah membuat mu pergi jauh, dan aku tidak bisa menahan mu saat itu, tapi sekarang, tidak ada lagi Nino yang akan mengalah mengejarmu, aku juga tidak akan membiarkan mu pergi lagi Alena,"
"Lalu bagaimana dengan perasaan mu pada Yaya ?"
"Yaya, dia wanita yang sangat baik, terhormat, namun dia dengan mudah bisa mencuri perhatianku, tapi setelah aku tahu siapa pemiliknya, aku tidak lagi berharap lebih padanya, melainkan aku hanya ingin melindunginya sebagai seorang adik," jelas Nino.
"Hm," jawab Alena singkat.
"Lalu bagaimana dengan perasaan mu terhadap Alvin ?"
"Sebenarnya aku tidak menyukai mas Alvin seperti apa yang ada difikiran mu Nino, aku hanya senang ada yang perduli dan memperhatikanku, namun setelah aku tahu kamu mengenal mas Alvin, niat ku berubah, aku jadi ingin membuat mu kesal, bukankah itu tidak masuk akal ?"
"Menurutku masuk akal, mungkin karena kamu ingin membuat ku cemburu," jawab Nino.
Alena melepaskan pelukannya dan menatap sinis kearah Nino yang sangat percaya diri.