Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 26



Kedatangan orang itu membuat Fellix dengan cepat melepaskan pelukannya pada tubuh Yaya.


"Ocha," gumam Yaya.


"Kenapa kalian berdua ada disini ?" tanya Ocha heran.


"Tidak ada apa-apa Cha, aku mohon kamu jangan salah faham ya," jawab Yaya seraya menghampiri Ocha dan menggenggam tangannya.


"Salah faham kenapa Yaya ?"


"Tadi Fellix--"


"Fellix peluk kamu ?"


"Kenapa kau bersikap biasa saja Cha ?"


"Yaya sayang, aku mengenal mu cukup lama, dan aku percaya dengan apa-pun yang keluar dari mulut mu," ungkap Ocha, yang kemudian memeluk Yaya, namun mata Ocha tajam menatap kearah Fellix.


"Terimakasih Cha, karena tidak salah faham padaku dan Fellix,"


"Iya sama-sama.


Oh iya sebaiknya kau menemui Alvin, sepertinya dia mencari mu,"


"Hm, baiklah, kalian juga cepat masuk acara sudah akan dimulai, kan,"


"Iya, masuklah terlebih dahulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan Fellix mengenai kekurangan diacara," jawab Ocha


"Baiklah," jawabnya singkat.


Setelah Yaya pergi, Ocha mendekati Fellix.


"Cha," gumam Fellix menahan rasa malu nya pada Ocha.


"Ya ?"


"Aku--"


"Kau tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan apa-pun yang baru saja ku lihat, karena aku tahu betul siapa Yaya untuk mu Fell,"


"Cha, aku--"


"Fell, masih ada waktu kalau memang kau ingin membatalkan pertunangan kita, aku tidak apa-apa, jangan fikirkan aku.


Aku tidak ingin hubungan ini dijalani dengan keterpaksaan Fell, masalah keluarga ku biar aku yang mengurusnya," ungkap Ocha.


"Cha bukan seperti ini yang ku inginkan, jangan asal bicara, kita sudah sampai pada titik ini !"


"Lalu aku harus bagaimana Fell, sementara aku tahu perasaan mu pada Yaya masih tetap sama seperti dulu !


aku harus bagaimana ?" tanya Ocha dengan suaranya yang mulai bergetar.


"Cha tenang dulu,"


"Fell Yaya itu istri Alvin, aku hanya ingin mengingatkan mu tentang karma merebut milik orang lain !


kalau memang kau bisa membuat Yaya bahagia lebih dari yang Alvin bisa lakukan untuk Yaya, demi apa-pun yang ada didunia ini aku ikhlas Fell !"


"Cha tolong jangan bicara seperti itu,"


"Kenapa ?


apa karena semua yang aku katakan benar !" teriak Ocha.


"Ocha tolong tenang !


kecilkan suara mu, kalau sampai Yaya mendengarnya bagaimana perasaannya ?"


"Iya maaf, aku terbawa emosi,"


"Tenang dan dengarkan aku baik-baik !


Cha aku akui semua yang kau katakan itu benar adanya, tapi tadi aku hanya mencoba menenangkannya, karena Yaya memergoki Alvin dengan mata kepalanya sendiri sedang dekat dengan wanita lain !" jelas Fellix.


"Apa !?"


"Kau tidak salah mendengar Cha, aku hanya ingin Yaya tahu kalau kita berdua perduli padanya, Cha sebesar apa-pun perasaan yang ku miliki untuk dia, sampai kapan pun dia tidak akan pernah berlari kearah ku, aku hanya meminta kau untuk lebih bersabar dan terus ajari aku sampai benar-benar bisa melupakannya !


kau fikir kenapa aku memutuskan untuk bertunangan dengan mu ?


itu semua adalah cara ku untuk membuktikan kalau aku juga memiliki perasaan untuk mu,"


Fell, aku juga manusia, aku bisa merasa sakit, tapi rasa sakit itu selalu kalah oleh rasa sayang ku pada Yaya dan kamu, aku harus bagaimana menghadapi kamu Fell ?"


"Maafkan aku Ocha, aku berjanji untuk benar-benar hanya memiliki kamu dihatiku, jadi tolong jangan batalkan pertunangan kita, beri aku kesempatan satu kali lagi, agar aku bisa menebus kesalahan yang sudah ku perbuat," pinta Fellix seraya menggenggam kedua tangan Ocha, sementara tangis Ocha masih tetap tidak berhenti.


"Maaf sayang," ucap Fellix lagi dengan nada memohon, Ocha hanya menjawabnya dengan anggukan dan langsung menghambur kepelukan Fellix.


"Maaf juga Fell, aku tidak tahu kalau Yaya sedang menghadapi masalah sebesar itu, aku hanya mementingkan ego ku sendiri, aku bukan teman yang baik untuknya Fell,"


"Sudahlah Cha, jangan bicara seperti itu, bagi Yaya kau adalah sahabat terbaik untuknya, jadi berhenti bicara yang tidak-tidak,"


"Hm, aku hanya merasa buruk saat ini,"


"Iya sudahlah,"


"Ocha, Fellix sedang apa kalian disana ?


acara sudah akan dimulai !


dan kenapa Ocha menangis Fell ?" tanya Yaya yang baru saja datang menghampiri mereka dan didampingi oleh Alvin.


"Aku tidak apa-apa Yaya, hanya terharu ketika aku mengingat sebentar lagi aku dan Fellix akan resmi bertunangan," jawab Ocha seraya menghapus air matanya dan menggantinya dengan senyuman.


"Iya aku tahu benar perasaan kamu Cha, tapi sekarang kalian harus cepat masuk karena para tamu sudah tidak sabar menantikan kalian bertukar cincin,"


"Iya kalau begitu mari masuk," ajak Ocha menggenggam jemari Yaya dan menariknya masuk bersama dengannya.


Sementara Alvin dan Fellix tertinggal dibelakang mereka.


"Ada apa dengan tatapan mu itu Fell ?" tanya Alvin yang melihat Fellix menatapnya seolah ingin melahapnya hidup-hidup.


"Alvin, jangan kau kira karena aku memiliki Ocha, aku tidak bisa melindungi Yaya !


dengar baik-baik, aku bisa menjaga keduanya jika memang kau sudah tidak menginginkannya !" tegas Fellix.


"Apa Yaya menceritakannya padamu ?" tanya Alvin.


Fellix tidak menjawabnya, ia hanya menatap kesal pada Alvin, lalu pergi meninggalkannya sendiri.


(Yaya kenapa kau selalu meminta perlindungan pada Fellix ?) gumam Alvin.


Tidak lama kemudian Alvin pun ikut masuk dan bergabung dengan tamu lain, ia berdiri tepat disamping Yaya.


Ketika Fellix dan Ocha selesai menyematkan cincin dijari masing-masing semua orang memberi mereka tepukan tangan yang sangat meriah.


Yaya tersenyum ikut merasakan kebahagiaan yang saat ini dirasakan oleh sahabatnya, sementara Alvin masih mencoba peruntungannya dengan memegang jemari tangan Yaya.


Yaya yang menyadari apa yang hendak Alvin lakukan pun segera menarik tangannya dan berpura-pura merapihkan tatanan rambutnya.


"Vin, ayo beri ucapan selamat pada Ocha dan Fellix, setelah itu mari pulang," ajak Yaya, Alvin menjawabnya hanya dengan anggukan kecil.


"Ocha, selamat ya sekarang kalian resmi bertunangan, aku ikut senang untuk kalian berdua," ucap Yaya.


"Terimakasih Yaya," jawab Ocha.


"Fellix jaga dia untuk ku, semoga kalian lancar sampai jenjang pernikahan," tambahnya.


"Baiklah, tugas akan dilaksanakan," jawab Fellix, diiringi tawa dari ketiganya sementara wajah Alvin terlihat tertekan karena fikirannya sendiri.


Disaat itu pula seseorang juga datang menghampiri mereka untuk memberikan ucapan selamat.


"Hai, tidak menyangka kita bisa bertemu dan berkumpul diacara pertunangan Fellix dan Ocha," ucapnya.


"Ajeng," gumam Yaya.


"Hai Yaya bagaimana kabar mu ?


cukup lama kita tidak bertemu, kau masih sama seperti dulu, pantas Alvin lengket terus padamu," tambahnya.


"Kabar ku baik Jeng, bagaimana dengan mu ?


maaf selama kau dirumah sakit aku tidak datang untuk menjenguk mu,"


"Tidak apa-apa Yaya, aku tahu kau pasti sibuk dengan kelahiran anak mu, tapi sepertinya kau harus lebih banyak mengurus wajah dan tubuh mu kalau tidak, kau akan kalah dengan para gadis yang masih berkeliaran disekitar Alvin.


Oh iya, Vin sepertinya wajah mu sedang tidak dalam kondisi baik, kenapa Vin ?"


"Ajeng cukup, ayo kita pergi," ajak Riki yang langsung menariknya pergi dari hadapan mereka, tanpa menunggu dulu jawaban dari Yaya dan Alvin.


Setelah Ajeng dan Riki pergi Yaya terdiam menahan amarah dan kekesalannya.