
"Nino, apa kamu melamun lagi ?"
"Aku tidak melamun, aku hanya sedang fokus pada jalan raya,"
"Hm, lalu sekarang kemana tujuan kita ?" tanya Yaya.
"Mumpung masih sore, bagaimana kalau kita pergi ke pantai saja ?" tanya Nino.
"Untuk apa jauh-jauh pergi kesana ?"
"Gua hanya sudah sangat lama tidak ke pantai, sekalian untuk menenangkan diri juga," jawabnya.
"Oh, baiklah, tapi kita harus kembali tepat waktu, karena aku tidak ingin orangtua mu menyalahkan ku saat tahu anaknya bukannya belajar, malah pergi kepantai, dan juga aku tidak ingin suami ku marah jika aku terlambat pulang nanti," ucap Yaya memberi syarat.
"Gua rasa dia tidak akan marah sama lo, karena ia tengah asik dengan dunia barunya saat ini," gerutu Nino.
"Apa maksud ucapan mu Nino ?" tanya Yaya heran.
"Ah tidak apa-apa, gua hanya asal bicara saja, jangan ambil hati," jawab Nino.
"Aneh,"
Sesampainya ditepi pantai, Nino segera berlari mendekati laut, dan berteriak sangat kencang seakan ia tengah menumpahkan kekesalan didalam dirinya.
"Ayo coba lakukan seperti yang gua lakukan, berteriaklah dengan semua sisa tenaga lo !" seru Nino.
"Untuk apa ?"
"Sudah lakukan saja jangan banyak bertanya,"
Yaya pun mengikuti apa yang Nino lakukan, ia berteriak dengan sisa-sisa tenaga didalam dirinya, sampai membuat nafasnya terengah.
"Bagaimana perasaan lo ?" tanya Nino.
"Hm, sulit dipercaya, tapi seolah ada kepuasan tersendiri yang aku rasakan saat aku berteriak dengan kencang kearah laut," jawabnya dengan tersenyum manis.
"Gua percaya bahwa bidadari itu memang nyata adanya setelah gua melihat lo," gumam Nino perlahan seraya mengamati senyum manis diujung bibir Yaya.
"Ha ?
kamu bicara apa ?
suara kamu tidak jelas terbawa angin pantai yang sangat kencang,"
"Tidak, tidak apa-apa, ayo lakukan sekali lagi," ajaknya untuk mengalihkan pembicaraan dan ia pun kembali berteriak.
(Ada apa sebenarnya dengan anak ini, sikapnya hari ini benar-benar berbeda dari biasanya,) gumam Yaya dalam hati seraya menatap Nino yang seolah tengah memaki lautan luas.
Setelah puas berteriak Yaya memegang tangan Nino.
"Hentikan Nino, sudah cukup, kamu akan menyakiti tenggorokan mu, dan menghabiskan suara mu !
sekarang beritahu aku, apa yang sebenarnya telah terjadi padamu ?
ceritakan semuanya," tanya Yaya memulai pembicaraan.
Nino duduk dipasir tepi pantai, dan menekuk lutut menjadikannya sebagai sandaran untuk tangannya, Yaya pun mengikuti apa yang Nino lakukan.
"Hari ini gua bertemu dengan dia," ucap Nino berbicara sambil menatap laut lepas.
"Dia ?
dia siapa ?"
"Dia adalah penyesalan gua dimasa lalu, semua dimulai saat gua berlebihan mengganggunya, dan yang lebih parahnya lagi gua melimpahkan semua kesalahan yang gua lakukan sama dia, gara-gara itu juga, dia terpaksa berhenti sekolah dan juga dipaksa menuruti keinginan ayahnya untuk pindah sekolah keluar negeri,"
"Dia seorang wanita ?"
"Hm, dia seorang wanita cantik yang sangat lembut saat itu, dia tidak pernah marah saat gua menggoda atau mengerjainya, tapi hari itu gua memang benar-benar keterlaluan jadi wajar saja dia menamparku sampai berkali-kali sebagai wujud kekecewaannya padaku,"
"Lalu ?"
"Awalnya gua mengira setelah dia pergi, gua tidak akan pernah lagi bertemu dengannya, tapi ternyata takdir masih mempertemukan kami, namun dalam kondisi dia yang sangat membenci gua,"
"Dari mana kamu tahu kalau dia membencimu ?"
"Dari tatapan matanya, yang seolah siap untuk melahap gua hidup-hidup, dan juga tadi dia berpura-pura tidak mengenali gua, apa menurut lo itu bukan sebuah bukti ?"
"Hm, lalu apa kau sudah meminta maaf padanya ?"
"Belum, bagaimana bisa minta maaf, dia saja tidak ingin melihatku,"
"Apa kau menyukainya ?"
"Tidak tahu, tapi dibanding dengan dia, saat ini gua lebih memilih untuk menyukai lo," goda Nino, ia seolah berusaha kembali mencairkan suasana.
"Jangan lihat aku seperti itu, kalau tidak ingin pasir-pasir ini pindah ke bola mata mu !" ancam Yaya.
"Jahat, tapi gua suka," jawab Nino seraya tertawa.
"Oh iya, Yaya bagaimana cara lo bertemu dengan suami dan akhirnya memutuskan untuk menikah ?" tanya Nino lagi.
Yaya menceritakan semua liku-liku kehidupannya dengan Alvin dari awal bertemu sampai akhirnya menikah dan memiliki Alya.
"Tentu saja, karena dia suami ku,"
"Hm, Yaya bagaimana kalau suatu hari nanti tiba-tiba saja Alvin membuat lo kecewa, kira-kira apa yang akan lo lakukan ?"
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu No ?" tanya Yaya heran.
"Cukup jawab saja,"
"Aku akan mencari tahu dulu apa penyebab Alvin sampai bisa membuat ku kecewa, kalau seandainya masalahnya berasal dari diriku, ya aku akan dengan sangat mudah memaafkannya,"
"Lalu jika ini tidak ada hubungannya dengan lo bagaimana ?"
"Hm, kemana sebenarnya arah pertanyaan mu ini Nino ?
kamu bertanya seolah kamu mengetahui bahwa Alvin tengah melakukan sesuatu yang bisa membuatku kecewa, apa kau mengetahui sesuatu ?"
"Jawab saja, anggap gua ini sedang berkonsultasi masalah suatu hubungan, agar bisa gua terapkan dikehidupan gua suatu saat nanti jika diperlukan,"
Yaya kembali menguraikan semua tentang Alvin, dan pengalaman hidupnya selama bersama Alvin.
"Yaya, lo pernah cerita tentang seseorang yang menghubungi suami mu tengah malam waktu itu, kalau gua boleh tahu siapa nama orang itu ?" tanya Nino keluar dari jalur pembahasan.
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu ?"
"Lo terlalu banyak tanya !
jawab saja !"
"Hm, dasar anak tengil.
Kalau aku tidak salah ingat, namanya A--"
"A siapa ?" tanya Nino tidak sabar.
"Sebentar aku sedang berusaha mengingatnya,"
"Lama !"
"Huh, namanya A-A Alena,"
"Alena !" teriak Nino.
"Kenapa kamu berteriak Nino, kamu menyakiti telingaku.
Memang kenapa ?
sikap mu menunjukan seolah kamu mengenal nama itu dengan baik,"
"Ha ?
tidak-tidak gua tidak mengenal nama itu sama sekali,"
"Hm, orang aneh,"
(Tidak apa-apa lo menganggap gua aneh sekarang, gua hanya akan berusaha menjaga agar suami lo yang sedang main belakang itu tidak bisa menyakiti perasaan lo Yaya,) gumam Nino dalam hati.
#
Sementara itu masih dicafe.
"Ada apa Alena ?
kenapa kau jadi murung lagi ?" tanya Alvin.
"Orang itu ada disini mas,"
"Mana ?
dimana orangnya ?" tanya Alvin seraya menjelajahkan matanya memandang setiap laki-laki dicafe itu.
"Dia sudah pergi," gumam Alena.
"Hm, kenapa kamu selalu bicara saat orangnya sudah tidak ada ?"
"Karena kalau sampai orangnya masih ada disini, mas Alvin pasti akan membuat keributan sama dia !"
"Tidak sampai membuat gaduh juga Alena, paling hanya memperingatinya dengan sedikit keras saja,"
"Sama saja mas Alvin !" seru Alena.
"Sudahlah lanjutkan makannya mas, agar mas Alvin cepat gemuk tidak kurus seperti ini, setelah itu kita pulang," candanya
"Bisa saja Alena, tapi baiklah akan segera ku habiskan.
Oh iya Alena lebih cantik kalau terus tersenyum seperti sekarang ini," jawab Alvin kembali memegang sendok dan garpu dikiri-kanan tangannya.
"Hm, bicara apa mas Alvin ini," jawabnya.
Kata-kata Alvin seketika membuat pipi Alena merona, ia terus berusaha menyembunyikan senyum nya dari Alvin.