
"Kalau memang itu seragam ditempat mu bekerja, kenapa tidak kau keluarkan, biar aku bisa mencucinya, tapi kau malah memilih untuk menyembunyikannya dariku, memangnya kau ingin pakai baju kusut dan kotor terus menerus selama berhari-hari ?"
"Aku tidak berniat menyembunyikannya darimu sayang, tapi aku hanya belum sempat untuk menunjukannya padamu, karena seragam itu baru diberikan hari ini," jawab Alvin berdalih.
"Benarkah ?
kalau begitu maafkan aku yang sudah mempunyai fikiran sempit tentang kamu Vin, aku hanya takut kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku," ungkap Yaya.
"Iya tidak apa-apa sayang, berhentilah menangis dan mulailah untuk membuang fikiran buruk tentang ku, percayalah aku tidak akan pernah menghianatimu sayang,"
"Hm," jawab Yaya singkat.
(Kenapa sulit sekali untukku menerima penjelasan mu tentang semuanya Vin, sedangkan aku masih merasa kalau kamu tetap tidak jujur, kamu pandai bersandiwara, aku pun pandai untuk berpura-pura,) gumam Yaya dalam hati.
(Maafkan aku Yaya, aku terpaksa berbohong lagi padamu, hanya karena aku tidak ingin kau malu dengan pekerjaan ku sekarang, tapi aku tidak pernah berbohong tentang kesetiaan yang kupunya untuk mu,) gumam Alvin yang semakin mempererat pelukannya.
Malam itu Yaya menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, namun tetap dengan perasaannya yang tidak menentu tentang Alvin.
#
Keesokan harinya Alvin bersiap untuk pergi bekerja, berpamitan seperti biasanya.
"Kenapa kau tidak memakai seragam mu Vin ?" tanya Yaya.
"Nanti saja, kalau sudah didepan kantor," jawabnya.
"Hm, baiklah, hati-hati dijalan, bekerjalah dengan baik sayang,"
"Iya sayang," seraya mencium kening Yaya, lalu pergi.
Sesampainya dirumah Alena.
"Pagi mbak Alena," ucap Alvin.
"Pagi juga mas, kita langsung berangkat kesekolah saja mas," ajak Alena.
"Silahkan masuk mbak," pinta Alvin seraya membukakan pintu untuk Alena.
"Terimakasih mas Alvin, oh ia mas lebih baik panggil nama saja tidak usah pakai mbak,"
"Tapi bukankah tidak sopan jika hanya memanggil nama ?"
"Tidak apa-apa mas, bukankah dari segi umur lebih tua mas Alvin dibanding Alena,"
"Iya tapi mbak adalah atasan saya,"
"Mas Alvin ini adalah perintah, tidak bisa dibantah !
tidak apa-apa panggil Alena saja,"
"Iya baiklah mbak, eh maksud saya, Alena," ucap Alvin seraya tersenyum melihat Alena dari kaca kecil didepannya.
Saat tiba didepan sekolah Alvin memarkirkan mobilnya, dan membukakan pintu untuk Alena.
Semua murid wanita dan laki-laki disana terpesona melihat ketampanan Alvin dan juga cantiknya nona muda yang keluar dari dalam mobil mewah yang dibawa Alvin.
"Mas lihat gadis-gadis itu, sepertinya sebentar lagi hidung mereka akan mimisan karena melihat ketampanan mas Alvin," goda Alena diiringi dengan tawa.
"Kamu bisa saja, kamu lihat anak laki-laki juga semua melihat kearah mu, mungkin karena mereka baru kali ini melihat bidadari yang sesungguhnya ada dihadapan mereka," goda Alvin yang tidak mau kalah dari Alena.
"Bisa saja mas Alvin,"
"Cepat masuk kedalam, dan selamat belajar nona bidadari," goda Alvin lagi.
dengan tersenyum tipis Alena menjawab.
"Hm, baiklah kalau begitu Alena masuk dulu ya mas.
Kalau mas Alvin ingin pergi silahkan saja, tapi jangan lupa untuk menjemput Alena siang nanti,"
"Siap laksanakan," jawab Alvin dengan tangan memberi hormat.
Tanpa banyak basa-basi lagi Alena pun melangkah pergi, dan Alvin juga kembali masuk kedalam mobilnya.
Ketika tengah berjalan meninggalkan area parkiran Alena terkejut karena kedatangan sebuah mobil yang hampir saja menyentuh tubuhnya, namun berhasil menjatuhkan semua buku ditangannya.
pemilik mobil itu pun turun dan membentak Alena, saat Alena tengah menunduk membereskan kembali bukunya.
"Hei, itu mata lu gunakan untuk apa !
kalau lu sampai ketabrak panjang urusannya !
heh lu mendengar gua atau--" kata-kata pengemudi itu terhenti saat Alena mendongak untuk melihat kearahnya, wajah marah pengemudi itu seketika berganti menjadi gelisah.
"A-a-Alena ?" gumamnya terbata.
"Kenapa aku harus bertemu dengan dia disekolah ini, memangnya sekolah dikota ini hanya ada satu, kenapa duniaku sesempit ini ya tuhan," gumam Alena tetap berjalan pergi menjauh.
Kelas hari itu sangat riuh, sebelum guru datang para murid sibuk berbincang dan saling menggoda satu sama lain, namun ketika guru datang semua anak kembali tertib dan duduk ditempat mereka masing-masing.
Ketua kelas pun mempersiapkan kelasnya pagi itu.
"Selamat pagi bu," ucap semua anak.
"Pagi semua.
Oh iya pagi ini kalian kedatangan teman baru, ia pindahan dari sekolah terkemuka diluar negeri,"
"Kamu, ayo masuk dan perkenalkan dirimu pada semua teman-teman mu," perintah sang guru.
Alena pun masuk kedalam kelas itu, dan menatap satu persatu murid dikelas itu, namun pandangannya berhenti pada seorang murid yang beberapa saat yang lalu hampir saja menabraknya.
"Kenapa kamu melamun ?" tanya sang guru.
"Ha ?
maaf bu,"
"Perkenalkan nama saya Alena, saya adalah murid pindahan, mohon bantuannya," ucap Alena memperkenalkan dirinya didepan kelas.
"Alena kamu duduk disamping Ranti," perintah sang guru.
Dengan hanya menganggukan kepalanya Alena pun berjalan dan duduk disamping Ranti.
"Hai, aku Ranti,"
"Hai, aku Alena,"
Alena menyadari jika seseorang itu tengah memperhatikannya dari awal dia duduk sampai kelas berakhir.
"Alena, apa kamu ingin ikut ke kantin bersamaku ?" ajak Ranti.
"Hm, sepertinya tidak, terimakasih," jawab Alena.
Saat kelas kosong, orang itu pun menghampiri Alena dan berdiri tepat dihadapan Alena.
"Alena," sapanya.
Alena tetap diam seakan menganggap tidak ada yang tengah mengajaknya bicara.
"Alena !!!" teriaknya.
"Gua tau lo dengar gua !
tapi kenapa lo lebih memilih untuk tetap diam !" serunya, kali ini Alena hanya mendongak dan memberinya tatapan kebencian yang mematikan.
"Ada apa dengan tatapan itu ?" tanyanya.
Alena berdiri dan hendak pergi tanpa menjawab satu patah kata pun.
Namun orang itu dengan cepat menghentikan niat Alena dan membuatnya kembali duduk ditempatnya.
"Lo masih menyimpan dendam sama gua, atas kejadian beberapa tahun yang lalu ?" tanyanya.
"Dendam apa ?
aku tidak mengenal mu," jawab Alena.
"Bohong !
kalau memang lo tidak mengenal gua, maka gua akan memperkenaljan duri gua sama lo," ucapnya seraya menyodorkan tangan untuk berkenalan.
"Nino !" panggil seseorang dari depan pintu kelas.
"Ha ?" jawab Nino singkat.
"Ayo main basket," ajaknya.
"Hm, tunggu saja sebentar dilapangan !
saat ini gua sedang menyelesaikan hal yang belum selesai !" teriak Nino.
Saat temannya pergi ia kembali menatap sinis pada Alena.
"Lain kali gua akan mengingatkan lo tentang siapa diri gua !" tegas Nino seraya pergi dari hadapan Alena.
(Nino, kamu memang tidak pernah berubah, aku tidak ingin mengenal orang seperti mu lagi dikehidupan ku yang sekarang, tapi kenapa takdir ku sangat tidak beruntung, kenapa kita masih bisa bertemu dan berada dikelas yang sama sekarang,) gumam Alena dalam hati.
Semua orang membicarakan tentang murid baru yang sangat cantik dan datang dengan pria tampan didalam mobil mewah.