Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLU 13



Siang harinya setelah semua kelas yang Alvin ambil selesai, ia bergegas menuju tempat kerja yang Ajeng rekomendasikan untuknya, sesampainya disana ia diminta untuk menghadap kepala bagian diperusahaan tersebut.


"Nama anda Alvin betul ?" tanyanya.


"Betul pak,"


"Alvin sebenarnya kami ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya pada anda, karena beberapa saat yang lalu sebelum anda datang kami sudah mengisi bagian yang kami butuhkan," ungkapnya.


"Lalu bagaimana dengan saya pak ?" tanya Alvin kecewa.


"Apa anda bisa menyetir mobil ?"


"Bisa pak, tapi apa hubungannya dengan bidang yang anda butuhkan ?"


"Begini Alvin, sebenarnya pemilik perusahaan ini sedang membutuhkan seorang supir pribadi untuk anak nya yang baru akan tiba sore ini dari luar negeri, jadi apa kamu mau menerima pekerjaan ini ?" tanya kepala bagian.


"Maksud bapak saya menjadi supir pribadi anak pemilik perusahaan ini pak ?" tanya Alvin dengan nada suara sedikit lebih tinggi.


"Betul Alvin,"


"Maaf pak sepertinya saya harus mencari pekerjaan lain yang lebih cocok dengan data diri saya, terimakasih banyak pak atas waktunya," ucap Alvin seraya berdiri dari kursi tempatnya duduk.


"Tunggu dulu Alvin !" serunya.


"Bagaimana jika saya memberi anda bayaran sesuai dengan keinginan anda," ucapnya mencoba meluluhkan hati Alvin.


"Bapak yakin dengan apa yang bapak ucapkan ?" tanya Alvin tidak percaya.


"Tentu saja, karena bagi pak Suryo uang bukan segalanya, yang terpenting anak nya nyaman dan aman selama ia berada disini, dan juga karena sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari pelamar lain," jelasnya.


Alvin terdiam untuk sejenak memikirkan tawaran yang lumayan menarik untuknya.


"Bagaimana Vin ?


apa kamu setuju dengan tawaran saya ?"


"Baiklah pak !


jadi kapan saya bisa mulai bekerja ?" tanya Alvin antusias.


"Hari ini juga Vin, ini seragam kerja mu, dan ingat selama jam kerja anda tidak diizinkan untuk memakai pakaian lain selain seragam yang saya berikan," ucapnya memberi peringatan.


"Baiklah pak, lalu dimana mobilnya ?


dan dimana anak pak suryo ?" tanya Alvin.


"Kamu jemput dia dibandara, karena hari ini ia tiba, bawa kertas bertuliskan namanya ini agar lebih memudahkan kau menemukannya, ini kuncinya, dan mobilnya ada didepan,"


"Baiklah pak, kalau begitu saya permisi," ucap Alvin.


#


Sesampainya dibandara Alvin menuju kerumunan orang-orang yang juga tengah menunggu kedatangan seseorang yang mereka tunggu.


Alvin membuka lebar kertas yang tadi diberikan padanya.


"Alena, jadi dia seorang perempuan," gumamnya sesaat dan kembali fokus mencari orang yang bernama Alena.


"Menunggu Alena mas ?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja berdiri disampingnya.


"Iya mbak.


Mbak juga menunggu seseorang ?" tanya Alvin.


"Iya saya juga sedang menunggu orang yang tengah memegang kertas bertuliskan nama saya," ucapnya.


"Oh begitu," jawab Alvin singkat seakan tidak perduli dengan orang yang tengah berbincang dengannya, seraya tetap menjelajahkan matanya kearah depan mencari keberadaan Alena.


"Mas, mas," tegurnya seraya menyentuh lengan Alvin.


"Maaf mbak, saya sedang bekerja, saya harus fokus mencari anak atasan saya yang baru saja datang, jadi tolong jangan ganggu saya, menunggulah dengan tenang mbak," ucap Alvin.


"Mas, orang yang anda tunggu itu saya !" serunya yang mulai kesal.


Mendengarnya mengaku sebagai Alena, Alvin pun dengan cepat meminta maaf padanya, karena tidak mengenalinya.


"Anda telat !


saya sudah menunggu sangat lama !" serunya lagi seraya pergi dari kerumunan orang, dan disusul pula oleh Alvin.


"Iya saya salah mbak, tadi karena jalanan cukup macet jadi saya terlambat, mari saya antar pulang," ajak Alvin berusaha seramah mungkin.


"Iya sudahlah jangan bahas.


"Badan kecil tapi bisa bawa barang-barang sebanyak ini," gumam Alvin.


#


Diperjalanan Alena terlihat tidak bersemangat.


"Mbak, apa ada masalah ?" tanya Alvin.


"Hm, tidak ada mas--?"


"Alvin mbak, nama saya Alvin," jawabnya.


"Aku Alena,"


"Sudah tahu," gumam Alvin pelan sehingga Alena tidak bisa mendengarnya.


"Mas Alvin, tolong antarkan saya ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum pulang kerumah," pinta Alena.


"Tapi pesan yang saya terima, agar mbak Alena langsung diantar pulang mbak," jawabnya.


"Tenang saja, tidak akan ada yang tahu kalau kita hanya mampir sebentar,"


"Baiklah mbak,"


Alvin mengantarkan Alena kesalah satu sekolah menengah pertama, dan berdiri tepat didepan sekolah itu diikuti oleh Alvin dibelakangnya.


"Dulu aku belajar disini mas, masa disaat itu sangat menyenangkan, sampai suatu hari seseorang memfitnah ku melakukan hal yang tidak pernah ku lakukan, papa merasa malu dengan itu semua dan akhirnya memutuskan memindahkan ku untuk belajar diluar negeri, sampai saat ini aku ingin sekali menemukan orang itu dan meminta dia menjelaskan semuanya pada papa," ucap Alena mengulang kenangan pahitnya dimasa sekolah.


"Mbak Alena, apa anda menangis ?" tanya Alvin.


"Hm, tidak mas, ayo kita kembali saja kerumah," ajak Alena seraya melangkah menuju mobilnya.


#


Alena terus diam, seperti separuh nyawanya telah meninggalkan tubuhnya, ia juga menyandarkan kepalanya dikaca jendela mobil bak seseorang yang tengah putus asa.


(Ada apa sebenarnya dengan gadis ini,) gumam Alvin dalam hati.


Ketika Alena telah tiba dirumah, Alvin berkenalan dengan semua penghuni yang bekerja dirumah itu.


Saat malam tiba Alvin mengetuk pintu kamar Alena untuk berpamitan pulang.


"Saya akan kembali setelah pulang kuliah mbak," ucapnya.


"Baiklah mas Alvin, pulang dengan hati-hati mas,"


"Terimakasih mbak,"


(Tidak hanya cantik, tapi gadis ini juga mempunyai sifat dan sikap yang juga sangat terdidik dengan baik,) gumam Alvin dalam hati.


Alvin pun pergi meninggalkan kediaman Alena, dan kembali pulang kerumahnya setelah terlebih dahulu mengganti pakaiannya.


#


"Vin, kamu sudah pulang ?


bagaimana dengan hari pertama mu bekerja ?" tanya Yaya menyambut kedatangan Alvin dengan ramah.


"Hm, semuanya baik Ya," jawabnya.


"Kamu bekerja dibagian apa disana ?"


Pertanyaan Yaya kali ini membuat Alvin gugup, ia berusaha bersikap senormal mungkin didepan istrinya.


"Vin, kenapa kamu diam ?"


"Ah iya, aku masih diperbantukan dibagian keuangan saat ini, sambil mencari bagian mana yang merupakan keahlian ku sebenarnya," jawabnya tanpa melihat kearah Yaya.


"Akhirnya ya Vin, kamu bisa membuktikan pada papa dan mama kalau kamu pun bisa mencari pekerjaan, terimakasih sayang sudah berjuang sejauh ini," ucap Yaya seraya memeluk Alvin.


(Maaf Yaya, aku terpaksa berbohong, aku harus menerima pekerjaan ini hanya agar aku bisa membuat kamu berhenti bekerja,) gumam Alvin dalam hati.


"Sama-sama sayang, tunggu sampai aku mendapatkan gaji pertama ku, dan aku akan membelikan apa-pun yang kau inginkan dengan uang hasil keringat ku sendiri,"


"Iya sayang,"


"Oh iya, kamu masih ingatkan perjanjian kita, jika aku sudah mendapatkan pekerjaan dengan bayaran yang cukup untuk hidup kita bertiga, kau akan berhenti bekerja ?" tanya Alvin.


Yaya terdiam untuk sesaat, memalingkan sedikit wajahnya dari Alvin kemudian mengangguk kecil.