Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 05



"Huh, akhirnya semuanya sudah selesai Vin, sekarang apa lagi yang bisa gua lakukan, biar lelah nya sekalian ?" tanya Felix dengan nafas terengah.


"Hm, gua suka semangat lo anak muda," gumam Alvin.


"Berhenti bercanda Vin, cepatlah sedikit, dasar lambat, kalau lo kerjanya lambat seperti ini gua takut Yaya keburu diambil orang nantinya," gumam Felix mencoba membuat lelucon agar suasana lebih menyenangkan.


"Dan gua tidak akan pernah membiarkan itu terjadi !" jawab Alvin dengan senyum sinis diujung bibirnya.


"Hm, iya gua yakin lo tidak akan membiarkan itu terjadi, karena lo pasti nya akan menantang orang itu untuk terlebih dahulu melangkahi mayat lo, barulah ia bisa merebut Yaya dari hidup lo, iya kan ?"


"Akhirnya kepala itu bisa lo pakai juga untuk berfikir Fel," jawab Alvin sedikit sinis seraya memindahkan kardus kedepan pintu.


"Jangan banyak bicara lagi Fel, lebih baik sekarang lo bawa kardus-kardus ini kedalam mobil lo !" seru Alvin.


"Ha ?"


"Kenapa Fel ?


apa kata-kata gua kurang jelas ?


perlu gua ulangi sekali lagi ?


baiklah kalau begitu--"


"Cukup Vin cukup, gua bisa mendengar perintah lo dengan sangat jelas, gua hanya sedang bingung saja kenapa kardus-kardus sebanyak ini harus dimasukan kedalam mobil gua ?" tanya Felix dengan kedua tangannya bertolak dikiri-kanan pinggangnya.


"Fel, orangtua zaman dulu pernah mengatakan, kalau membantu orang lain itu jangan setengah-setengah, pamali !


makanya harus sampai tuntas, mengerti !" jelas Alvin.


"Ini namanya bukan membantu lagi Vin, tapi sudah pemaksaan !"


"Oh jadi lo tidak ikhlas membantu gua, ya sudah tidak apa-apa, gua hanya tinggal mengatakan pada Yaya dan Ocha bahwa lo tidak bisa membantu, mudahkan ?"


"Wah lo mainnya ancaman Vin, kalau bukan suami Yaya saja sudah melayang ini kardus kewajah tampan lo itu,"


"Apa itu artinya lo mengakui kalau gua lebih tampan dari lo ?"


"Ah terserah lo saja Vin, buat sebahagia lo saja," jawab Felix seraya membawa kardus-kardus itu menuju mobilnya.


Setelah semua kardus selesai dimasukan kedalam mobil, Alvin dan Felix berdiri disamping bagasi mobil dan mengatur nafas mereka yang terengah-engah.


"Fel, terimakasih untuk bantuan lo hari ini," ucap Alvin.


"Sama-sama Vin, tapi lain kali tolong, beritahu gua dulu sebelumnya kalau lo ingin memanfaatkan lagi tenaga gua, jadi dari jauh-jauh hari gua akan makan yang banyak agar lebih kuat menghadapi orang gila seperti lo !" jawab Felix dengan nada bercanda dan ditanggapi dengan tawa oleh Alvin.


"Semuanya sudah selesai ?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang mendekati mereka.


"Sudah sayang," jawab Alvin.


"Kalau begitu sambil menunggu papa pulang kerja, kita makan dulu saja," ajak Yaya.


"Itu terdengar sangat baik Ya," jawab Felix.


"Kali ini lo tidak perlu repot-repot memaksa gua Vin, karena gua akan makan dengan senang hati !" seru Felix seraya melangkah masuk kembali kedalam rumah dan membawa serta Ocha dengannya.


"Ada apa sayang ?" tanya Yaya yang melihat senyum diwajah Alvin menghilang setelah Felix dan Ocha meninggalkan mereka.


"Tidak ada apa-apa sayang, aku hanya sedang berusaha melupakan kata-kata Felix," jawabnya.


"Felix bicara apa, sampai sangat menyita fikiran mu seperti ini ?"


"Hm, Felix bicara tentang orang ketiga yang mungkin saja berusaha merebut mu dari aku, aku sudah berusaha melupakan kata-kata Felix, tapi semakin aku mencoba melupakannya ternyata semakin membuat ku merasa takut," jelasnya.


"Vin tidak ada yang perlu kamu takutkan.


Aku sudah pernah mengatakan ini dulu, bahwa modal utama sebuah hubungan itu adalah kepercayaan, kalau kamu percaya sama aku, maka kata-kata Felix yang saat ini tengah mengganggu fikiran mu itu tidak akan ada artinya lagi.


"Aku sangat mempercayai mu Ya, tapi aku juga hanya manusia biasa, yang masih mempunyai rasa takut, dan ketakutan terbesar ku saat ini adalah kehilangan kamu," jawab Alvin.


"Vin, lihat aku, hapus kata orang ketiga difikiran mu dan gantikan dengan nama Alya," ucap Yaya berusaha mengembalikan keyakinan Alvin lagi.


"Kalau sudah , sekarang apa yang kamu rasakan ?" tanya Yaya lagi.


Alih-alih menjawab pertanyaan Yaya, yang Alvin lakukan malah hanya tersenyum dan dengan cepat memeluk Yaya.


"Terimakasih sayang, kamu kembali membuatku tersadar kalau kita sudah mempunyai Alya dihubungan kita, dia akan selalu menjadi kekuatanku dan juga alasan untuk melawan siapa pun yang berusaha mengganggu kebahagian kita !" gumam Alvin dipelukan Yaya.


Yaya tersenyum seraya melepaskan rangkulan Alvin, dan digantikan dengan genggaman erat dilengan Alvin.


"Berhenti berfikir yang tidak-tidak dan ayo masuk, semua orang pasti sudah menunggu kita didalam," ajak Yaya.


"Kamu bisa masuk terlebih dahulu sayang, aku masih harus sedikit merapihkan barang-barang ini, setelah selesai aku akan menyusul mu," jawab Alvin membuat Alasan.


"Hm, kalau begitu kerjakan dengan cepat, dan segera masuk, aku menunggu kamu," ucap Yaya, sementara Alvin hanya menjawab dengan anggukan dan juga senyuman diwajahnya.


"Maafkan aku sayang, aku terpaksa berbohong tentang keadaan hatiku yang sebenarnya masih merasa sangat ketakutan.


Walaupun kamu berusaha meyakinkan ku tapi aku tetap tidak ingin mempercayai orang-orang yang berada disekitarmu, apa lagi kalau mereka adalah laki-laki !


aku harus tetap waspada dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi !" gumam Alvin dalam hati.


Kata-kata Felix yang awalnya hanya berniat untuk menggoda Alvin nyatanya berhasil mengganggu dan menyita fikirannya sampai membuat suasana hatinya hari itu berantakan, namun ia harus tetap menebar senyuman pada semua orang agar tidak akan pernah ada yang tahu tentang kelemahan Alvin yang sebenarnya.


Tidak ingin semua orang terlalu lama menunggunya, akhirnya Alvin pun masuk dan kembali bergabung dengan mereka semua.


Ditengah-tengah perbincangan tiba-tiba ponsel Alvin berdering.


(Riki Call)


"Sayang, ada panggilan dari Riki, aku terima sebentar ya," ucap Alvin meminta izin pada Yaya.


"Iya," jawabnya singkat.


Alvin menerima panggilan dari Riki dan sedikit menjauh dari semua orang.


(Call)


Alvin : Ada apa Rik ?


Riki : Maaf ganggu waktu lo Vin, gua hanya ingin memberi tahu lo bahwa hari ini Ajeng sudah dinyatakan membaik dan ia bisa keluar dari rumah sakit sore ini juga.


Alvin : Baguslah kalau dia sudah membaik, gua ikut bahagia mendengarnya.


Riki : Vin, sebenarnya tujuan gua memberi tahu lo itu agar lo lebih bisa mempersiapkan diri lo dan Yaya, gua takut Ajeng masih menyimpan perasaan sama lo, dan kembali berusaha masuk ke kehidupan lo seperti dulu.


Alvin : Iya Rik gua faham maksud lo, dan terimakasih banyak karena lo sudah sangat mengkhawatirkan tentang keluarga gua dengan memberitahu gua tentang ini.


Riki : Sama-sama Vin.


#


"Gua memang sangat perduli dengan kebahagian lo Vin, karena lo sahabat gua.


Tapi disisi lain gua juga sangat mengkhawatirkan keadaan Ajeng, karena dia adalah orang yang sangat berarti dihidup gua !


sangat menyakitkan untuk gua melihat dia tertahan disini karena lo Vin !


tapi gua juga tidak bisa menyalahkan lo !


dan sekarang gua tidak ingin hal ini sampai terulang kembali !" gumam Riki dalam hati.