Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 50



Alena bergegas menuju kekelas namun sebelum sampai kelas, langkah Alena terhenti, saat ia melihat Nino yang tengah duduk berdua dengan seorang adik kelas yang sering dibicarakan sebagai bunga disekolah itu, anak itu dengan mesra mengobati dan membersihkan luka ditangan Nino akibat pukulannya yang terlalu kuat pada Raja.


"Alena," gumam Nino yang langsung menarik tangannya dari genggaman gadis disampingnya, ia berdiri dan segera mengejar Alena yang saat itu sudah berlari pergi menjauh darinya.


"Alena tunggu !" teriak Nino.


Sampai didepan kelas Alena mengurangi kecepatan larinya, karena didalam kelas sudah ada guru yang tengah mengajar.


"Selamat pagi bu," sapa Alena didepan pintu.


"Alena tunggu apa kau tidak mendengar !" teriak Nino yang saat ini sudah berdiri tepat disamping Alena, ia tidak menyadari jika dikelas itu sudah ada seorang guru yang datang sebelum mereka, tengah menatap tajam kearah keduanya.


"Nino kenapa kau berlari didepan kelas !


suara langkah mu dapat mengganggu kegiatan belajar !" seru sang guru.


"Maaf bu,"


"Yasudah cepat kembali ketempat duduk kalian !


dan jangan diulangi lagi !" perintahnya.


"Baik bu, terimakasih," jawab Alena.


"Maaf bu, hari ini saya izin membawa Alena membolos kelas, permisi !" teriak Nino, seraya menarik tangan Alena dan berlari pergi dari lingkungan sekolah.


"Nino !!!" teriak sang guru saat Nino sudah berlalu pergi.


"Nino berhenti !" pinta Alena.


"Kita harus pergi menjauh dulu, sebelum tertangkap security," jawabnya masih terus berlari tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Alena.


"Cukup Nino berhenti !" teriak Alena lagi.


"Baiklah-baiklah gua juga lelah, kita berhenti dulu saja," jawabnya dengan nafas terengah-engah.


"Apa yang sedang kau rencanakan kali ini ?" tanya Alena.


"Tidak ada, hanya ingin membawa mu pergi jalan-jalan saja, kau ingin minum ?" tanya Nino.


"Bohong !


apa kau sedang berusaha ingin mengeluarkan aku lagi dari sekolah ini ?"


"Alena, apa lo tidak bisa berfikir sedikit positif terhadap gua ?


kenapa selalu hal buruk yang ada difikiran lo, dan lo juga selalu menganggap kalau gua ini seorang penjahat yang harus dijauhi ?


kenapa ?" tanya Nino menatap Alena tajam.


Alena diam dan mengalihkan pandangannya dari Nino.


"Kenapa diam ?


kenapa lo selalu membangun benteng yang semakin tinggi diantara kita ?"


"Jangan salahkan aku Nino, karena sebenarnya kau sendiri yang membangun benteng itu !" tegas Alena.


"Ha ?


apa gara-gara masalah dimasalalu ?" tanya Nino memohon jawaban jelas.


Alena diam.


"Alena-Alena, apa lo gak bisa melupakan masalah dimasalalu ?" tanya Nino frustasi seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.


Alena tetap terdiam, Nino menatap sendu kearahnya.


"Lalu gua harus melakukan apa agar lo bisa memaafkan gua, dan melupakan semua masalah itu ?"


"Menjauh !"


"Kalau gua tidak mau ?"


"Maka tidak usah bertanya !"


"Sepertinya lo sangat menginginkan gua menjauh, kenapa ?


apa karena Raja ?


Raja tidak suka jika gua ada disekitar lo ?


atau lo yang tidak merasa nyaman didekat gua ?"


"Jangan bawa-bawa Raja, dia tidak tahu apa-apa !"


"Keras kepala sekali lo ini !" seru Nino seraya meremas kedua pundak Alena.


"Teruskan saja, aku bahkan sudah tidak bisa merasa sakit lagi karena perbuatan mu !"


"Ayo ikut gua, kita harus bicara ditempat lain," ajak Nino kembali menarik tangan Alena.


"Berhenti !!!" teriak seseorang dari arah belakang mereka.


"Raja, kenapa lo bisa ada disini ?" tanya Nino heran.


Raja mendekat dan melepaskan genggaman tangan Nino.


"Gua bisa ada disini karena Alena !" jawabnya.


Nino terdiam mengernyitkan dahinya melihat Alena yang tidak memberontak saat Raja menyentuh bahunya, sangat berbeda jika Nino yang melakukan itu.


Nino tidak menyakitimu, kan ?" tanya Raja khawatir.


Nino tersenyum sinis dan bertepuk tangan melihat kemesraan yang Raja tunjukan padanya.


"Ternyata lo benar-benar ahli dalam hal mengambil hati para gadis !


gua terlalu meremehkan kemampuan lo Raja !


dan apa sebenarnya hubungan kalian ?" tanya Nino masih dengan senyumnya yang menantang.


"Gua adalah orang yang mulai hari ini akan selalu menjaga Alena !" jawab Raja.


"Gua tanya sekali lagi, apa hubungan diantara kalian !


Perjelas !" teriak Nino yang mulai terbakar emosi, dengan matanya yang hampir meloncat keluar.


"Bodoh !


maksudnya Alena milik gua !


puas lo !" tegas Raja.


Alena mengalihkan pandangannya menatap Nino, yang saat ini wajah Nino berubah menjadi merah padam, sementara Nino juga melihat kearahnya, ia mulai mendekat dan menjulurkan tangannya kearah Alena.


"Selamat, selamat untuk kejelasan hubungan kalian," ucap Nino tertahan.


Alena diam, ia tidak mencoba menyambut tangan Nino, sebaliknya Raja yang dengan cepat menyambar tangan Nino.


"Terimaksih untuk ucapannya, dan gua harap mulai sekarang lo menjauh dari Alena !" pinta Raja dengan senyum kemenangan menyungging dikedua ujung bibirnya.


"Lo tenang saja, gua bukan tipe orang yang suka merebut apa yang sudah menjadi milik oranglain.


Kalau begitu jaga pacar lo baik-baik, gua harap lo tidak lagi bermain dengan wanita lain, terutama adik kelas," ucap Nino berusaha senormal mungkin mengendalikan perasaannya.


Raja tersenyum sinis menjawab pernyataan Nino, sementara Alena masih bertahan dengan diamnya.


Dengan menghela nafas panjang Nino segera pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa kau berkata seperti itu tanpa meminta persetujuan ku dulu ?" tanya Alena kesal pada Raja.


"Maaf Len, aku hanya tidak ingin melihat Nino terus mengganggu mu, itu saja, aku tidak ada niat lain,"


"Dari mana kau punya fikiran kalau dia menggangguku ?"


"Aku tahu masalah diantara kalian, dan aku melihat saat dia mendekat, kau sangat tidak nyaman dengan itu, benar, kan ?"


"Terimakasih untuk niat baik mu Raja, tapi lain kali kau tidak perlu datang sebagai pahlawan,"


"Kenapa ?"


"Karena aku tidak membutuhkannya, dan asal kamu tahu pernyataan yang kau lontarkan tadi adalah masalah baru untuk ku, faham !" seru Alena, seraya melangkah pergi tanpa mendengarkan lagi pembelaan dari Raja.


"Masalah baru ?


untung lo cantik, kalau tidak habis lo sama gua, gadis sombong !" gumam Raja menatap punggung Alena yang berjalan menjauhinya.


#


Sementara itu Nino dengan cepat melajukan kendaraannya tanpa tujuan, meluapkan kekesalannya dengan berteriak didalam mobil.


"Tidak ada hubungan ?


itu yang lo sebut tidak ada hubungan !


bang*at !" teriaknya.


Nino menghentikan kendaraannya dipinggir taman, dan melihat muda-mudi berjalan bersama seraya bergandengan tangan.


"Mungkin memang benar tidak akan pernah ada cinta untuk orang seperti gua !


sial, sesak sekali rasanya, perasaan busuk hanya membuat gua susah bernafas saja !" makinya pada diri sendiri.


Nino mencoba mengatur nafasnya, menutup kedua matanya dan kemudian ia pun tertidur cukup lama, sampai dering ponsel berhasil membangunkannya.


Call :


Nino : Ada apa ?


Yaya : Jam berapa ini ?


kenapa kau belum kembali ?


Nino : Hari ini gua tidak ingin belajar.


Yaya : Kenapa ?


Nino : (Menghela nafas panjang)


Yaya : Ada apa ?


Nino : Tidak ada apa-apa.


Yaya : Kau bisa membohongi semua orang, tapi tidak bisa dengan ku !


sekarang juga cepat pulang, belajar, kemudian ceritakan ada apa dengan hembusan nafas panjang tadi ! (tegas Yaya diujung telephone)


"Wanita ini sepertinya mulai berkuasa sekarang," gumamnya seraya menatap panggilan yang sudah berakhir.


Nino kembali melajukan kendaraan menuju kerumahnya.