Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 14



Jam menunjukan pukul 02.00 dini hari, Yaya terjaga dari tidurnya ketika mendengar ponsel Alvin berdering beberapa kali.


"Alena,"


gumam Yaya seraya melihat kelayar ponsel Alvin, dengan jumlah panggilan tidak terjawab sebanyak 3 kali dari nama yang sama.


"Aku tidak pernah tahu kalau Alvin mempunyai teman dengan nama ini," gumamnya.


"Sayang ada apa ?" tanya Alvin yang tiba-tiba bangun dan melihat Yaya duduk disamping tempat tidur.


Karena terkejut Yaya dengan cepat meletakan kembali ponsel Alvin ditempat semula.


"Hm, tidak ada apa-apa Vin," jawabnya.


"Oh, lalu kau bicara dengan siapa ?"


"a- aku hanya kesal dengan alarm ponselku, yang tiba-tiba saja berdering ditengah malam begini, sepertinya aku salah mengatur waktunya Vin, aku jadi terbangun, padahal aku masih sangat mengantuk," ucap Yaya memberi Alasan seraya berpura-pura menguap.


"Hm, kalau begitu kembalilah kemari sayang," ajak Alvin meminta Yaya untuk tidur kembali dilengannya, dengan senyum yang dipaksakan Yaya pun kembali kesamping Alvin.


Ketika pagi tiba, seperti biasanya Yaya menyiapkan sarapan, bekal dan juga semua kebutuhan yang akan Alvin gunakan setiap harinya.


"Sayang, kenapa hari ini kamu belum pergi sudah jam 08.00 ?" tanya Alvin.


"Nino hari ini sudah mulai kembali kesekolah Vin, jadi mulai hari ini aku akan mengajarinya sepulang dia sekolah.


Kenapa Vin ?


apa kamu tidak senang aku menemanimu sarapan pagi ini ?"


"Kenapa pertanyaan mu seperti itu sayang ?


jawabannya sudah pasti aku sangat senang ada kamu disini, sudah lama bukan kita tidak sarapan bersama semenjak kamu mulai mengajar," jawab Alvin dengan senyum mengembang dibibirnya, lalu mencium kening Yaya.


"I love you istriku sayang," ucap Alvin seraya membelai mesra rambut Yaya.


Yaya hanya membalasnya dengan senyuman, sementara fikirannya masih dipenuhi dengan nama Alena.


Selesai menyantap sarapan pagi yang disiapkan sang istri Alvin berpamitan pergi.


"Aku pergi kuliah ya sayang, dan siangnya aku akan langsung ke perusahaan tempat ku bekerja," pamit Alvin.


"Iya Vin, lebih fokuslah ke pelajaran mu jangan terlalu memikirkan pekerjaan, kalau memang mereka percaya pada kemampuan mu dalam bekerja aku yakin mereka akan menempatkan mu ditempat yang memang keahlian mu," pesan Yaya.


"Hm, baiklah istri ku tersayang, terimakasih untuk nasehat mu pagi ini," ucapnya, sebelum pergi Alvin menciumi seluruh wajah Yaya, dan diakhiri dengan Yaya mencium punggung tangan Alvin.


"Yaya apa sebenarnya yang kau takutkan !


bukankah kau melihat sendiri sifat yang ia tunjukan masih seperti biasanya !" gumam Yaya memaki dirinya sendiri yang mulai meragukan kesetian Alvin.


#


Siang harinya Yaya pergi kerumah Nino, karena sudah waktunya ia untuk bekerja.


"Sepertinya membutuhkan waktu yang cukup lama diperjalanan dari rumah lo kemari," ucap Nino yang sudah berdiri didepan pintu rumahnya menunggu kedatangan Yaya.


"Ha ?


apakah aku terlambat Nino ?" tanya Yaya seraya melihat jam ditangan nya.


"Tidak juga, gua hanya ingin saja menegur lo yang berjalan sambil melamun seperti itu, hey kakak gua itu mengkhawatirkan lo," goda Nino dengan tawa.


"Berhenti menggoda ku, aku jauh lebih tua dari kamu," Yaya menjawabnya sambil berjalan masuk kedalam rumah Nino.


"Gua hanya 3 tahun lebih muda dari lo, umur kita tidak terlalu jauh, kan ?


banyak contohnya, yang jarak umur 10 tahun juga bisa menikah, kenapa kita tidak bisa hanya sekedar lebih dekat ?" godanya lagi.


"Hentikan candaan mu Nino, cepat kerjakan soal ini !


kalau kau tidak bisa menjawab aku akan memberi mu hukuman !" seru Yaya.


"Baiklah ibu guru," jawabnya dengan tangan memberi hormat.


Setelah memberikan soal untuk Nino, Yaya kembali larut dalam lamunannya.


(Siapa sebenarnya Alena ?


aku yakin, aku tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya, dan kenapa Alvin tidak pernah menceritakan tentang seseorang dengan nama itu pada ku,) gumamnya dalam hati.


Beberapa saat kemudian.


Senyum diwajah Nino menghilang ketika melihat Yaya melamun dengan tatapan mata kosong.


"Hei," tegur Nino, berusaha menyadarkan Yaya dengan menyentuh jemari tangan Yaya.


"Ha ?


iya kenapa No ?" tanya Yaya yang baru saja kembali dari lamunan nya, dan menarik tangannya dari sentuhan Nino.


"Gua sudah selesai mengerjakan semua soal yang lo berikan," jawabnya.


"Oh, baiklah, kalau begitu aku periksa dulu kerjaan mu, jangan sampai ada yang salah, awas saja !" ancam Yaya seraya memeriksa pekerjaan Nino.


"Lo periksa saja,"


"Lo kenapa sebebarnya ?


sepertinya hari ini lo sedang banyak fikiran," tanya Nino yang merasa aneh dengan sikap Yaya.


"Aku tidak apa-apa Nino, dari mana kau bisa menduga seperti itu ?"


"Ini bukan hanya sekedar dugaan.


Pertama saat datang tadi, lo itu berjalan sambil melamun, dan sekarang lo mengajar juga sambil melamun, kalau guru nya saja tidak fokus, lalu bagaimana gua bisa cepat pintar ?"


"Maaf Nino.


Kamu benar, saat ini memang ada sesuatu yang tengah mengganggu fikiran ku," jawab Yaya.


"Apa itu ?


lo bisa menceritakannya sama gua kalau lo tidak keberatan,"


"Kamu tidak akan mengerti," ucap Yaya seraya menghela nafas panjang.


"Hm, apa ini ada hubungannya dengan laki-laki yang memukul ku malam itu ?"


"Laki-laki itu, dia adalah suami ku,"


"Gua tahu, yasudah kalau lo tidak ingin membagi masalah lo sama gua, ya gua tidak bisa memaksa.


Sekarang gua ambilkan minum dulu agar lo lebih tenang,"


"Terimakasih No," ucapnya.


Sementara Nino pergi mengambilkannya minuman, Yaya melihat ponselnya dan menerima pesan dari Alvin.


Chat :


Alvin : Sayang, aku sudah selesai kuliah, dan sekarang aku akan pergi bekerja, aku mencintaimu Yaya.


Yaya : Semangat sayang, jangan lupa makan bekal yang ku siapkan.


Aku selalu mendukung apa-pun itu pekerjaan mu, aku adalah orang yang lebih mencintaimu Vin.


"Dapat pesan dari laki-laki itu ?" tanya Nino yang baru saja kembali dengan membawa dua gelas minuman ditangannya.


"Namanya Alvin Nino, jangan panggil dia dengan sebutan laki-laki itu lagi !" seru Yaya.


"Baiklah, Alvin maksud gua.


Jadi apa lo sudah memutuskan untuk cerita atau tidak ?"


Setelah berfikir panjang, akhirnya Yaya pun menceritakan semua ketakutan yang saat ini tengah menghantuinya tanpa memberitahukan nama jelas wanita itu.


"Oh jadi itu masalahnya.


Sebenarnya jawaban nya sangat mudah, lo hanya perlu bertanya langsung pada dia,"


"Tidak semudah yang ada difikiran kamu No,"


"Kenapa ?"


"Karena kamu tidak mengenal Alvin,"


"Yaya, lo itu istri nya, semua yang lo tidak ketahui tentang suami lo, memang sudah sewajarnya lo tanyakan, bukankah kalau sudah menikah tidak boleh ada rahasia satu sama lain, apa lagi ini tentang orang asing,"


"Tapi aku tidak mempunyai keberanian untuk bertanya langsung padanya No,"


"Oh gua tahu alasannya, lo pasti takut Alvin akan menjawab bahwa wanita itu adalah selingkuhannya, ia kan ?" tanya Nino menggoda Yaya dengan harapan Yaya akan tertawa dengan candaannya, namun kenyataannya ia salah besar, candaan yang ia ucapkan malah membuat Yaya terdiam dengan wajah tegang dan mulai memucat.