
"Aduh dipuji cantik jadi senyum terus ini nona muda," goda Alvin.
"Diam ah mas, jangan buat Alena malu didepan umum," gerutunya.
"Baiklah, cepat makan, karena kamu juga harus menjaga kesehatan mu, jangan sampai kamu sakit, dan membuat mu kehilangan senyum itu lagi," nasehat Alvin.
"Hm," jawab Alena singkat masih dengan senyum diujung bibirnya yang tipis.
(Mas Alvin dari wajahnya yang sangat tampan dia sangat tidak pantas dengan pekerjaannya yang sekarang, dia lebih cocok jadi atasan disebuah perusahaan, apa aku harus meminta papa untuk memberikannya pekerjaan lain dikantor papa untuknya,) gumam Alena seraya terus menatap Alvin.
"Jangan melihat ku terus nona, hati-hati kau akan terpikat olehku nanti," ucap Alvin yang mendapati mata Alena menatapnya.
"Omong kosong," jawabnya.
Alvin hanya tersenyum menanggapi jawaban Alena.
#
Keesokan harinya,
Nino datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya, ia berdiri disekitaran tempat parkir dengan wajah kesal menunggu kedatangan seseorang.
Tidak terlalu lama kemudian yang ditunggu pun akhirnya tiba juga.
Nino melihat dengan sangat jelas Alvin turun dari pintu pengemudi, ia pun dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan memotret saat Alvin membukakan pintu untuk Alena yg duduk disebelahnya.
"Senyum macam apa itu," gumam Nino kesal saat melihat kedekatan Alvin dan Alena.
Ketika Alena pergi menuju kelas, Nino segera mengikutinya, dan menariknya dengan paksa.
"Ikut gua !" seru Nino.
Alena yang terkejut pun tidak sempat menolak ajakan Nino, ia hanya bisa mengikuti kemana Nino akan membawanya.
"Kenapa kau membawa ku kemari ?
siapa kau ?
dan apa mau mu sebenarnya ?" Alena menghujani Nino dengan bermacam pertanyaan.
"Awalnya gua sangat merasa bersalah saat lo tidak lagi mengenali gua, tapi sekarang gua tidak lagi ambil pusing soal itu.
Karena ada hal yang jauh lebih penting yang ingin gua tahu dari mulut lo langsung !" jawab Nino masih mencoba menahan amarahnya.
"Siapa laki-laki yang mengantar dan membukakan pintu mobil untuk mu tadi ?"
"Siapa pun dia apa masalahnya dengan mu ?"
"Kalau gua tengah bertanya, beri gua jawaban ! bukan pertanyaan !" bentak Nino.
"Lalu jika aku tidak ingin menjawab, apa yang akan lo lakukan ?" tanya Alena dengan wajah menantang.
"Alena, lo tidak ingin jadi perusak rumah tangga seseorang, kan ?"
"Maksud kamu apa ?"
Nino mengeluarkan ponselnya dan menunjukan foto yang baru saja ia ambil diparkiran.
"Lihat baik-baik laki-laki ini, dia sudah beristri dan istrinya sangat mempercayainya, kira-kira bagaimana perasaan istrinya jika melihat kedekatan lo dengan dia ?"
"Bukan urusan saya !" tegas Alena.
"Oke bukan urusan lo, tapi ini menjadi urusan gua kalau lo tetap dekat dengan dia !
kemarin gua melihatnya terus bersama dengan lo, makan dan tertawa.
Coba fikir baik-baik sama lo Len, gua harus bagaimana, apakah gua harus memberitahukan istrinya tentang lo ?
dan menunjukan foto ini ?"
"Beritahukan saja !" jawab Alena cepat dan lebih menantang.
"Alena !
perempuan macam apa lo ini sebenarnya,
dari mana lo mendapatkan sifat egois seperti ini ?
terbuat dari apa hati lo itu ?"
"Huh," Nino menarik nafas panjang mendengar jawaban Alena yang diluar dugaan nya.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang akan kau bicarakan, lebih baik saya pergi," pamitnya.
"Tunggu !"
"Alena, gua mohon jauhi Alvin," ucap Nino dengan nada suara yang mulai melembut.
Alena terdiam saat melihat sisi lain dari sifat Nino yang dulu tidak pernah ia ketahui.
"Kenapa kau memohon ?
apa karena kau mempunyai perasaan untuk istri Alvin ?" tanya Alena.
"Lo tidak perlu tahu tentang apa yang gua rasakan !
gua hanya meminta lo untuk menjauhi Alvin karena dia sudah beristri itu saja !"
"Jika kau menyukai istri Alvin, bukankah kondisi sekarang ini sangat menguntungkan untuk kita berdua ?
mengapa kita tidak berkerja sama saja, saya akan mendapatkan Alvin dan kamu mendapatkan istrinya, cukup adil, bukan ?"
Nino kembali terdiam dengan kesepakatan yang Alena ucapkan, sampai membuatnya juga mati kata, dan akhirnya membiarkan Alena pergi dari hadapannya.
(Gua bahkan tidak faham dengan perasaan gua sendiri, apakah tindakan gua ini hanya karena rasa simpati gua terhadap Yaya dan tidak ingin melihat Yaya tersakiti, atau memang perasaan gua terhadapnya sudah lebih dari itu ? sehingga membuat gua merasa harus melindunginya,) gumam Nino dalam hati.
#
Dikampus Alvin datang dan belajar seperti biasanya, teman-temannya pun sudah mengerti dengan kondisi Alvin yang tidak bisa terlalu banyak bergaul lagi dengan mereka.
Ditaman, ketika Alvin tengah asik dengan buku ditangannya tiba-tiba saja Ocha dan Fellix datang menghampirinya dengan membawa sebuah kartu undangan dengan ukiran nama mereka.
"Kalian akan menikah ?" tanya Alvin antusias.
"Belum Vin, ini baru undangan pertunangan, karena keluarga gua khawatir Ocha akan mengubah fikirannya untuk menikah dengan gua, jadi mereka meminta gua untuk terlebih dahulu mengikatnya," jawab Fellix.
"Baguslah kalau begitu, minggu depan ya acaranya ?
gua akan datang bersama Yaya,"
"Sudah pastikan lo harus datang bersama Yaya, memangnya lo akan datang sama siapa lagi ?" tanya Ocha dengan tatapan menyelidik.
Alvin hanya tertawa menanggapi pertanyaan Ocha, sementara Fellix menatap Alvin dengan curiga.
"Cha, kamu bisa kembali kekelas terlebih dahulu, aku ingin berbicara antar laki-laki dengan Alvin," ucap Fellix pada Ocha.
"Hm, baiklah kalau begitu," jawabnya seraya pergi meninggalkan Alvin dan Fellix.
"Ada apa Fell, jangan katakan lo ingin meminta saran sama gua tentang hubungan lo, kalau soal itu lo harus bertanya pada yang benar-benar berpengalaman, jangan sama gua,"
"Kalau masalah itu sepertinya gua lebih handal dari pada lo Vin,"
"Lalu lo ingin bicara apa ?" tanya Alvin mulai membenarkan posisi duduknya dan siap mendengarkan apa yang akan Fellix katakan.
"Vin, lo masih ingat dengan pesan gua di hari pernikahan lo saat itu ?"
"Tentu saja ingat karena lo mengatakannya lebih dari tiga kali.
Tapi gua fikir ancaman lo itu sudah tidak lagi berlaku sekarang, karena yang gua lihat lo sudah terbiasa dengan Ocha, benarkan ?"
"Ya, lo benar gua memang sudah terbiasa dengan Ocha, tapi jangan kira ancaman itu sudah tidak berlaku Vin, karena gua tetap akan memisahkannya dari lo, jika lo sampai menyakitinya,"
"Kenapa ?
apa lo masih menyimpan rasa pada Yaya ?"
"Masalah perasaan gua, itu urusan gua Vin, karena bagi gua Yaya adalah pengganti Mila, jadi walaupun gua tidak bisa memiliki dia sebagai pendamping, setidaknya gua bisa melindungi dia dari kehancuran sebagai seorang kakak,"
"Fell, jujur gua tidak mengerti kemana arah pembicaraan lo saat ini, tapi satu hal yang harus lo tahu, Yaya adalah istri gua, dan semua yang terjadi sama Yaya itu adalah tanggung jawab gua, lo lebih baik fokus saja pada pertunangan lo dengan Ocha !" seru Alvin.
"Tenang Vin, gua tidak sedang ingin merebut Yaya saat ini, melainkan gua hanya berusaha mengingatkan lo tentang pesan yang gua ucapkan hari itu !" tegas Fellix.
"Sepertinya kita sudah selesai bicara Fell, sebaiknya lo pergi, jangan sampai lo mengeluarkan kata-kata yang bisa memancing emosi gua lagi !"
"Ya, baiklah gua pergi sekarang," pamit Fellix.
(Ternyata Fellix masih belum sepenuhnya menghapus Yaya dari hatinya,) gumam Alvin seraya meremas kertas undangan ditangannya.