
"Ada apa Yaya ?" tanya Fellix tanpa memegang wajahnya yang memerah.
"Apa yang kau coba lakukan pada Ocha !
jangan bersikap seperti brengsek Fell, kau mengejar apa yang kau sukai dan mengabaikan seseorang yang tulus menyayangimu, begitu ?
bodoh !
sangat bodoh !"
"Apa maksudmu Yaya ?"
"Fell aku sudah sering sekali mengingatkan mu, bahwa sampai kapan pun juga, kau dan aku tidak akan pernah bisa bersama !"
"Kenapa tidak bisa ?"
"Tidak perlu ku katakan alasannya, karena sebenarnya didalam hati mu pun kau sudah tahu jawabannya !" tegas Yaya.
"Itu tidak bisa dikatakan sebagai alasan Yaya, sedangkan beberapa waktu yang lalu, kau masih saja menerima kebaikan ku, mungkin jika kau dan suami mu yang tidak berguna itu benar-benar berpisah, kita pasti bisa bersama !"
Alvin yang dari tadi hanya bisa diam, mulai melangkah maju menuju Fellix dengan emosinya yang membara.
"Berhenti disana Vin !" teriak Yaya menghentikan langkah Alvin.
Kemudian untuk kedua kalinya Yaya kembali mendaratkan tangannya diwajah Fellix.
"Fellix orang yang kau sebut tidak berguna itu adalah suami ku !
jaga kata-kata mu, jika kita masih teman, kalau kau terus bersikap begini, maaf sepertinya aku tidak ingin lagi mengenalmu !"
"Lalu kenapa kau tetap memilih dia !
selama ini yang selalu ada disamping mu didalam kondisi apa-pun itu aku !
dan ini sudah yang kesekian kalinya tangan mu menyentuh ku dengan kasar Yaya, kau terus menyakitiku tapi aku tetap berusaha baik padamu !
ini kah balasan mu ?"
"Aku selalu menyakiti mu tapi ingatlah kau selalu mempunyai Ocha sebagai penyembuh untuk luka mu, kenapa kau tidak menyadari itu Fell, kau terlalu angkuh sehingga menutup hati untuk seseorang yang benar-benar perduli padamu !"
Fellix terdiam sesaat.
"Fell--"
"Pergi," ucapnya perlahan seraya ia memalingkah wajahnya melihat kearah lain.
"Fellix dengarkan aku dulu,"
"Pergi !!!" teriak Fellix menunjuk kearah lain.
"Terserah !" seru Yaya, kemudian berbalik dan pergi.
Fellix kembali merenung, sesekali ia berusaha menghalau air matanya yang sudah siap membanjir.
Teman-temannya yang sedari tadi menyaksikan semua yang terjadi disana pun berusaha menenangkan Fellix, namun tetap saja gagal, Fellix masih terpengaruh dengan emosinya sendiri.
Tak lama kemudian ia pun pergi meninggalkan kampus, dan pergi ketempat yang biasa ia kunjungi untuk sekedar membuat dirinya tenang.
Disaat ia tengah menjelajahkan matanya menikmati pemandangan dengan angin kencang menerpa wajahnya, ketika itulah ia melihat seorang wanita berdiri ditepi jurang, wanita itu sedang menangis seperti tengah meratapi sesuatu, merasa khawatir dengan apa yang akan wanita itu lakukan selanjutnya, Fellix dengan cepat berlari dan menghampirinya.
"Mbak apa yang anda lakukan !" seru Fellix seraya menarik tubuh wanita itu menjauh dari bibir jurang.
"Bukan urusan mu !
lepaskan aku !" teriak wanita itu histeris.
"Mbak, jika anda ada masalah, anda bisa membaginya dengan keluarga anda atau dengan pasangan anda !"
"Pasangan," gumam wanita itu, seketika ia pun berhenti memberontak, kali ini kakinya berjalan lebih menjauh lagi dari jurang itu.
"Pasangan," gumamnya lagi, kemudian muncul tawa kecil diujung bibirnya.
"Lalu bagaimana jadinya jika masalah ku itu ditimbulkan oleh pasanganku mas," jawab wanita itu disela tawanya ada air mata yang mengiringi suara kecil yang keluar dari mulutnya.
"Kalau begitu mbak bisa membagi masalah dengan keluarga, bagaimana ?" ucap Fellix memberi saran.
"Keluarga ?
mereka sudah terlalu menderita mas, aku tidak ingin menambahi beban dipundak mereka,"
"Oh," gumam Fellix bingung.
"Apa mas bersedia mendengarkan ceritaku ?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.
"Hm, baiklah jika memang dengan begitu bisa sedikit membuat mbak merasa lega,"
"Sebenarnya, pasanganku tidak pernah memiliki perasaan apa-pun untuk ku, sebelum kami dijodohkan dan akhirnya bertunangan dia sudah terlebih dahulu memiliki seseorang yang ia puja, awalnya ia sangat manis, tapi lama kelamaan sifat aslinya muncul saat ia melihat wanita pujaannya sudah memiliki pasangan lain, dia berubah jadi dingin, uring-uringan terkadang ia mengeluarkan kata-kata kasar, bahkan ia juga mengancam akan menyudahi pertunangan kami," jelasnya.
"Kenapa tidak kau setujui saja, bukankah dia sudah menunjukan belangnya padamu ?"
"Tidak semudah itu mas, karena aku harus menjaga nama baik kedua orangtua ku, dan sebenarnya alasan yang paling pentingnya adalah, aku sudah memiliki perasaan yang dalam untuknya, itu sebabnya aku merasa sangat hancur, ketika melihat dia kehilangan semangat hidupnya,"
"Untuk apa kau memperdulikannya ?
bukankah dia tidak mencintai kamu !" seru Fellix kesal.
"Iya aku tahu mas, tapi dulu saat cincin pertunangan ini ia sematkan dijari manis ku, dalam hati aku bertekad untuk membuatnya bisa mencintaiku, tapi aku gagal,"
"Lalu apa yang membuat mu harus melakukan itu ?"
"Karena aku tidak ingin melihat dia sedih untuk wanita yang tidak pernah melihat dia, aku tidak ingin dia merasa tidak berguna, aku hanya ingin dia bahagia,"
"Kenapa kau sangat bodoh !" seru Fellix.
"Aku hanya ingin dia sadar bahwa walaupun dia merasa tersakiti oleh wanita dihadapannya, dia masih bisa melihat kebelakang, dan ada wanita ini yang siap mengobati lukanya,"
Mendengar kata-kata terakhir yang wanita itu katakan seketika Fellix teringat akan ucapan Yaya saat dikampus.
(Gua baru sadar kalau dari keseluruhan cerita yang ia sampaikan sedikit mirip dengan kisahku dan Ocha !
apakah Ocha juga merasakan hancur seperti yang tengah dialami wanita ini ?
tidak, tidak, gua tidak akan pernah membiarkan Ocha jadi seperti dia,) gumam Fellix.
"Mas,
mas, apa kau baik-baik saja ?" tanya wanita itu seraya melambai-lambaikan tangannya didepan mata Fellix.
"Ha ?
maaf mbak, sampai mana tadi ?" tanya Fellix yang baru saja kembali dari lamunannya.
"Hm, mas terimakasih sudah mendengarkan ceritaku, sekarang aku sedikit merasa lega.
Oh iya siapa nama mu ?" tanya wanita itu.
"Nama saya Fellix, mbak ?"
"Saya Nina.
Maaf mas saya harus pulang sekarang, tadi tiba-tiba saja dia mengirimi ku pesan, dan akan segera datang menjemputku, sekali lagi terimakasih banyak ya mas,"
"Iya sama-sama,"
"Sebelum pergi aku ingin menyampaikan sesuatu.
Mas kamu orang baik, aku hanya ingin berpesan jika suatu hari nanti kau menemukan wanita yang rela menangis saat melihat kau disakiti wanita lain, tolong jangan lepaskan dia, karena percayalah sampai kapanpun wanita itu tidak akan pernah menyakiti mu, karena dia tahu seperti apa kau saat disakiti wanita lain," nasehatnya sebelum pergi.
"Hm, terimakasih," jawab Fellix seraya mengangguk.
Dari semua kata-kata yang ia dapat dari Yaya, dan dari pengalaman serta nasehat yang wanita tadi sampaikan, cukup membuat Fellix kembali termenung, ia menatap pepohonan dan langit yang sangat menyilaukan mata, Fellix menggunakan tangannya untuk menutupi cahaya silau itu, ketika itulah ia sadar saat melihat jemari tangannya yang polos, ia ingat bahwa Ocha telah mengembalikan cincin pertunangan mereka padanya, Fellix menarik nafas panjang seolah ia lelah dan bingung harus berbuat apa.