
"Apa maksud lo menertawakan gua seperti itu ?
apa lo sedang berusaha menghina atau mempermainkan gua ?!
sebaiknya lo jangan macam-macam !" ucap Alvin berapi-api.
"Kalau ia lalu kenapa, ?
dan masalah gua macam-macam atau tidak sepertinya itu urusan saya dengan Yaya, anda tidak ada hak untuk melarang saya !" tegas Nino.
"Beraninya Lo !!!" teriak Alvin seraya mengumpulkan semua tenaga dan memusatkannya diantara pergelangan tangannya.
"Cukup Alvin hentikan !" teriak Yaya.
"Apa yang kalian lakukan ?
Alvin tolong jangan membuat keributan didepan rumah, malu jika sampai ada tetangga yang melihat Vin !
dan kamu Nino sebaiknya kamu segera pulang, ini sudah malam !" seru Yaya berusaha memecah perseteruan diantara keduanya.
"Kau jangan ikut campur !
aku akan menyelesaikan urusan ku dengan anak didik mu yang tidak punya tata krama ini terlebih dahulu, setelah itu kita harus bicara dan urus masalah kita !"
"Ada urusan apa kamu dengan Nino Vin ?
dia anak didik ku, itu artinya dia tanggungjawab ku, dan aku fikir dia tidak pernah membuat masalah dengan mu selama ini Vin !
lalu apa masalah mu sebenarnya !"
"Tidak perlu banyak bicara Yaya, gua bilang lo masuk kedalam rumah sekarang !" teriak Alvin.
"Tidak aku tidak akan pernah pergi, kalau memang kau ingin menyelesaikan urusan mu dengan Nino selesaikan secara baik-baik, jangan bersikap seperti orang yang tidak berpendidikan seperti ini Vin, tapi kalau kau tetap memakai kekerasan maka aku akan tetap disini untuk menengahi kalian !" tegas Yaya.
"Yaya masuk !!!" bentak Alvin lebih keras dengan bola matanya yang hampir keluar, sikap Alvin membuat Yaya ketakutan, karena sudah sangat lama Alvin tidak bersikap kasar padanya.
"Alvin," gumam Yaya yang terkejut.
"Yaya tidak apa-apa lo masuk saja, dan ingat dengan semua pesan yang gua katakan," ucap Nino dengan lembut.
Mendengar Nino menyebut istrinya hanya dengan memanggil namanya saja dan ditambah Nino juga bicara dengan lembut pada Yaya, sikap Nino yang tidak wajar menurut sudut pandang Alvin membuat emosinya semakin memuncak saja.
Sementara itu tanpa menjawab lagi Yaya segera berlari masuk kedalam rumah meninggalkan keduanya dengan perasaannya yang tidak menentu.
"Katakan dengan jujur sekarang, apa lo punya perasaan lebih untuk istri gua !" seru Alvin geram.
"Waw, apakah terlihat sejelas itu mas Alvin ?
aku tidak menyangka bahkan lo saja bisa tahu tentang perasaan gua secepat itu, hebat," jawabnya masih dengan tawa nya yang menyebalkan.
Ketika Nino lengah Alvin mengambil ancang-ancang dan benar-benar mendaratkan tinjunya kewajah Nino cukup kuat, sampai membuat Nino tersungkur ketanah.
Namun Nino masih bisa tersenyum dan kembali berdiri mendekati Alvin, bukan hanya itu, hal yang Nino lakukan sangat diluar dugaan, ia justru merapihkan pakaian Alvin seraya berbisik.
"Mas Alvin yang terhormat, apakah lo fikir tinju lo itu akan berhasil untuk memperingati gua agar melupakan perasaan gua terhadap Yaya istri lo ?" tanya Nino.
"Kalau ia, lo salah besar Alvin, dengar baik-baik bahkan jika lo melakukan hal yang lebih buruk dari ini pun, gua tidak akan pernah mengubah perasaan gua terhadap Yaya, ingat itu !
Permisi !" pamit Nino.
"Oh iya satu hal lagi, hati-hati pada setiap langkah yang akan lo ambil, karena kalau lo salah sedikit saja Yaya akan jatuh ketangan gua, setelah itu gua yang akan menjamin kebahagiaannya !" ucap Nino memperingatkan.
Sementara Alvin hanya terdiam mematung ditempatnya saat Nino menantangnya untuk bersaing dalam memperebutkan hati istrinya sendiri.
Hanya dengan hitungan detik saja Nino sudah pergi dari hadapan Alvin.
(Sampai kapan pun, gua tidak akan pernah membiarkan siapa pun itu berani mendekati istriku !
termasuk lo anak kecil !) gumam Alvin geram.
Kemudian Alvin bergegas masuk kedalam rumah, dan mencari dimana keberadaan Yaya.
"Kita harus bicara !"
"Baiklah, aku akan langsung pada intinya saja !
pelajaran seperti apa yang sebenarnya kau ajarkan pada anak itu ?
dan kenapa dia berani memanggilmu hanya dengan nama saja ?" tanya Alvin masih berusaha meredam emosinya.
"Aku mengajarkan apa yang seharusnya aku ajarkan Vin, dia memanggilku apa saja itu terserah dia Vin.
Ada apa dengan pertanyaan mu ini ?"
"Kalau memang yang kau ajarkan itu benar-benar pelajaran biasa, lalu apa yang kau lakukan didalam mobil tadi ?
kenapa kau tidak menghindar saat dia berusaha sedekat itu dengan mu ?
apa itu juga salah satu materi yang kau ajarkan padanya !"
"Apa maksud mu Vin ?"
"Berhenti berpura-pura bodoh Yaya, padahal sebenarnya kau sangat mengerti dengan semua maksudku !
sekarang kau hanya perlu menjawabnya dengan jujur !"
"Apa yang harus ku jawab Vin ?
sementara aku merasa tidak ada yang salah sama sekali dengan apa yang kulakukan, tadi Nino hanya berusaha membangunkan ku yang tertidur karena sudah sampai didepan rumah, aku juga tidak tahu kalau dia berada sangat dekat dengan ku, tapi yang aku tahu dia hanya berusaha membangunkanku dengan perlahan, itu saja !" ungkap Yaya.
"Huh, apa kau berharap aku akan percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut mu itu, ha !!!"
"Vin berhenti berteriak, kau akan mengundang opini tetangga Vin,"
"Kenapa ?
malu ?
takut tetangga tahu kelakuan mu yang sebenarnya ?
kau itu berselingkuh didepan mata ku, dengan anak didik mu sendiri !
sadarlah Yaya dia jauh lebih muda dari umur mu, apa kau tidak berfikir akan dampak nantinya !" seru Alvin.
"Selingkuh ?
apa kau sedang menuduhku saat ini Vin ?"
"Menuduh ?
Yaya, itu semua sangat jelas didepan mata ku, aku melihat kau sedang berciuman dengan anak didik mu itu, dan sekarang kau berbohong saat ku tanya, istri macam apa kau ini sebenarnya !"
Mendengar Alvin yang selalu berteriak dan juga memfitnahnya, tanpa sadar Yaya mengayunkan telapak tangannya dan menampar wajah Alvin dengan cukup keras.
"Jaga bicara mu Vin !
dan dengar baik-baik hubunganku dan Nino itu tidak lebih dari seorang guru pembimbing dan anak didiknya.
Bukankah yang sedang berselingkuh itu kau Vin ?
apakah sikap mu ini hanya agar kau dapat melimpahkan semua kesalahan mu padaku ? atau untuk menutupi kelakuan mu dibelakang ku ?
kalau ia, kau sangat keterlaluan Vin !" tanya Yaya dengan suara bergetar, air mata pun sudah tidak bisa tertampung lagi dimatanya.
"Haha, jika kau ingin membela diri, cari alasan yang lebih masuk akal Yaya,
kenapa juga aku harus melimpahkan kesalahan padamu, dan apa yang aku tutupi ?
jangan asal bicara !"
"Maaf Vin, tapi aku tidak sedang berusaha membela diriku, tapi jika kau ingin aku membuktikan semua kata-kata ku itu masuk akal atau tidak, sebaiknya kau lihat ini," ungkap Yaya seraya menunjukan foto yang dikirim Nino padanya.
Melihat foto yang Yaya sajikan membuat Alvin terdiam dan terkulai lemas, sesekali ia menatap Yaya dan ponsel itu secara bergantian, sementara Yaya sudah tidak lagi bersuara saat Alvin mulai terdiam.