
"Dari mana kau mendapatkan foto ini ?
apa kau mengikuti ku ?
apa kau mempunyai waktu sebanyak itu ?" tanya Alvin.
"Ya aku mengikuti mu, bukan karena terlalu banyak waktu tapi karena aku hanya ingin melihat semua kebohongan mu dengan mata ku sendiri !
dan sebenarnya aku mendapatkan foto itu sudah dua hari yang lalu, tapi aku masih tidak ingin mempercayai foto itu begitu saja, sampai akhirnya aku benar-benar membuktikan semuanya Vin.
Aku sangat-sangat tidak menyangka, suami yang selama ini aku percayai tidak akan pernah berbuat curang dibelakangku ternyata hanya seorang peselingkuh dan juga seorang pembohong besar !"
"Yaya, jangan asal menyimpulkan sesuatu dengan semudah itu, hanya karena kau melihat semuanya, karena sejatinya apa yang kau lihat tidak seperti apa yang terjadi sebenarnya," jelas Alvin mencoba meraih jemari tangan Yaya.
"Sebaiknya kau katakan kata-kata mu tadi untuk diri mu sendiri Vin," ungkap Yaya seraya menepiskan tangan Alvin.
"Oh ia Vin, jika seorang laki-laki membukakan pintu untuk seorang wanita muda, dengan tersenyum bahagia lalu mengusap dengan lembut kepala wanita itu, apa menurut mu itu wajar ?" tanya Yaya.
"Yaya--"
"Sudah cukup Vin, tidak perlu kau jawab, renungkan saja kelakuan mu.
Sekarang lebih baik kau istirahat, besok kau masih harus bekerja dan kuliah, kan ?
satu pesan ku Vin, jangan kau ulangi lagi apa yang terjadi dengan Ajeng dulu,"
Alvin tidak menjawab semua yang Yaya katakan, ia hanya terdiam dan menatap lurus kearah Yaya, sampai Yaya pergi dari hadapannya dan pindah ketempat tidur.
Alvin memeluk Yaya ditempat tidur, Yaya hanya membiarkannya, seolah tidak perduli dengan apa yang Alvin lakukan.
Merasa tidak ada respon balik dari Yaya, Alvin pun melepaskan pelukannya, dan membelakangi Yaya.
"Kenapa kau tidak memintaku untuk menjelaskan semuanya ?" tanya Alvin.
"Saat ini aku sedang tidak ingin mendengar alasan mu Vin.
Selamat malam," ucapnya.
#
Keesokan harinya Yaya terjaga dari tidurnya, dan mendapati Alvin sudah tidak ada disampingnya.
Tidak lama kemudian Alvin membuka pintu kamar, dengan membawa piring berisi makanan, tidak lupa ia juga mengembangkan senyum untuk Yaya.
"Kau sudah bangun ?
aku membuatkan mu sarapan pagi ini, ingin makan dulu, atau mandi dulu ?" tanya Alvin ramah.
"Kenapa kau melakukan ini ?
memangnya kau tidak pergi bekerja ?"
"Tidak apa-apa aku hanya ingin membantu mu meringankan pekerjaan rumah tangga saja, aku juga sudah membersihkan semua ruangan, mencuci semua piring, pakaian kotor juga sudah aku cuci, dan kebetulan juga hari ini aku libur kerja," jawabnya masih dengan tersenyum.
"Oh," jawab Yaya singkat seakan tidak terlalu perduli dengan apa yang telah Alvin kerjakan untuknya.
Ketika Yaya hendak menyantap makanan yang Alvin buat, tiba-tiba saja ponsel Alvin berdering.
"Suara ponsel mu mengganggu,"
"Maaf,"
Alvin mengeluarkan ponsel dari saku celananya, terbaca dengan sangat jelas nama si penelphone.
"Terima saja," ucap Yaya.
"Maaf sayang, aku terima telphone sebentar," jawabnya.
Alvin terdengar hanya menjawab iya dan tidak saja saat menerima telphone itu, setelah selesai ia kembali menghampiri Yaya.
"Hm, sayang hari ini kau ingin kemana ?" tanya Alvin.
"Hari ini aku berencana mengunjungi Alya,"
"Bagus kalau begitu, ayo siap-siap kita pergi sekarang," ucap Alvin antusias.
"Aku ingin pergi sendiri !" tegas Yaya.
"Yaya," gumamnya kecewa.
"Kau silahkan pergi kemana pun yang kau inginkan, dan sampai jumpa nanti malam dipesta pertunangan Fellix dan Ocha," tambahnya, seraya turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
(Maaf Vin, tapi aku belum bisa melupakan apa yang kau lakukan,) gumam Yaya dalam hati.
#
Walaupun Yaya menolak untuk pergi dengan Alvin, namun pada akhirnya mereka pun tetap pergi mengunjungi Alya bersama-sama.
Sesampainya dirumah orangtua Alvin, Yaya bergegas mencari dimana keberadaan sang anak, setelah bertemu Yaya memeluknya dengan erat, sementara Alvin pergi berbincang dengan ayahnya.
"Tidak ada apa-apa ma, Yaya hanya merindukan Alya saja, kenapa mama tiba-tiba bertanya seperti itu ?"
"Yaya, mama sudah cukup lama mengenal mu, sedikit banyaknya mama sudah faham tentang dirimu.
Kalau kau tidak keberatan, kau boleh menceritakannya pada mama,"
"Yaya tidak apa-apa ma, percayalah.
Yaya dan Alvin kemari selain karena merindukan Alya, kami juga akan menghadiri acara pertunangan Fellix dan Ocha, karena tempatnya dekat dari sini,"
"Hm, baiklah kalau memang seperti itu, tapi ingat kalau kau membutuhkan tempat untuk bercerita, mama siap mendengarkan mu,"
"Iya ma, terimakasih,"
"Sama-sama sayang," jawab sang mertua.
#
Malam hari nya, Yaya dan Alvin datang menghadiri pesta sahabatnya.
Mereka saling tegur sapa satu sama lain seperti biasanya, namun Fellix melihat ada yang ganjal dengan sikap Yaya.
Ketika semua lengah Fellix mendekati Yaya yang ketika itu sedang ditinggal Alvin kekamar mandi, dan Fellix membawanya keluar dari keramaian tamu undangan.
"Fellix lepas !" seru Yaya.
"Sstt diam, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu, ikut saja sebentar,"
"Tapi acaranya sebentar lagi dimulai Fell, Ocha pasti akan kebingungan mencarimu,"
"Ini tidak akan lama, kalau kau menurut !" tegas Fellix.
Akhirnya Yaya diam dan mengikuti kemana Fellix membawanya.
"Jelaskan ada apa sebenarnya ?" tanya Fellix.
"Apa maksud mu Fell ?"
"Kau bisa membodohi semua orang, tapi kau tidak bisa membodohi ku, ingat itu !
jadi sekarang jelaskan, apa yang sebenarnya ada didalam fikiranmu saat ini ?"
"Kenapa kau masih begitu perduli pada ku Fell ?"
(Karena aku masih memiliki harapan yang lebih padamu Yaya, aku ingin menjawab mu seperti itu, tapi aku yakin kau pasti akan memarahiku dan mengutukku,) gumam Fellix dalam hati.
"Yaya, walaupun aku tidak bisa memilikimu sebagai seorang pendamping, tapi setidaknya aku masih bisa berguna walau hanya sekedar sebagai teman atau seorang kakak,"
"Terimakasih Fell, kau dan Ocha sangat cocok bersama, kalian adalah orang-orang yang sangat baik,"
"Baiklah sudah cukup dengan semua pujian itu, sekarang jelaskan kenapa wajahmu murung ?"
Yaya menjelaskan semua yang terjadi pada dirinya ke Fellix dengan berlinang air mata.
"Alvin !" seru Fellix geram, seraya mencoba melangkah meninggalkan Yaya.
Yaya sangat tahu kemana Fellix akan pergi, oleh karena itu dengan cepat Yaya menangkap lengan Fellix untuk membuatnya berhenti.
"Fell, mau pergi kemana ?"
"Mencari laki-laki yang sudah berani menyia-nyiakan mu !"
"Fell, sudahlah jangan membuat keributan diacara pertunangan mu,"
"Tapi dia harus diberi pelajaran Yaya, orang seperti Alvin itu tidak bisa dibiarkan !"
"Iya aku tahu, tapi dia masih suamiku Fell !
Fell aku mohon jangan bertindak bodoh, kasihan Ocha,"
"Alvin, Alvin lo benar-benar tidak tahu diri !
kalau dia tidak mampu membahagiakan mu, seharusnya saat itu dia relakan saja aku yang menggantikan posisinya !" seru Fellix sudah terbakar emosinya.
"Tenangkan dirimu Fell, ingat ini hari pertunangan mu, hari istimewa untuk mu dan Ocha, jangan merusaknya hanya karena aku," Nasehat Yaya seraya menepuk-nepuk lengan atas Fellix.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Yaya, Fellix pun memberanikan dirinya untuk memeluk Yaya.
"Tapi bagaimana dengan kamu Yaya ?
apa kau baik-baik saja ?"
"Hm, aku baik, aku bisa menghadapinya sendiri, terimakasih sudah mendengarkan ceritaku," ucapnya.
"Ada apa ini !" seru seseorang yang tiba-tiba saja datang menghampiri keduanya.