
"Kau benar-benar membohongiku Vin !" gumam Yaya lirih.
"Yaya, lo baik-baik saja ?" tanya Nino perlahan.
"Nino, apa hari ini kau ingin pergi sekolah ?" tanya Yaya tanpa menjawab pertanyaan Nino terlebih dahulu.
"Hm,--" Nino menjawab dengan bingung.
"Turun lah, dan segera masuk kekelas mu," perintah Yaya.
"Lalu bagaimana dengan lo ?"
"Aku harus pergi kesuatu tempat, ada urusan yang harus ku kerjakan, dan hari ini maaf aku tidak bisa datang mengajari mu,"
"Gua antar !"
"Tidak perlu Nino, kau tidak harus bolos sekolah hanya untuk menemaniku !"
"Gua sama sekali tidak merasa keberatan, lagi pula gua hanya absen satu hari saja, tidak sampai seminggu, kan ?"
Yaya terdiam mendengar kata-kata Nino yang terdengar begitu memperdulikannya.
"Lalu kemana gua harus mengantar lo hari ini ?" tanya Nino lagi yang memecah lamunan Yaya.
"Bisakah kau menemaniku ke pantai ?" tanya Yaya dengan wajah memelas.
"Pantai ?"
"Ya, kalau kau tidak bisa jangan memaksakan diri, aku bisa pergi sendiri,"
"Jangan, gua akan menemani lo, kemana pun itu," jawabnya tanpa banyak berfikir.
Nino memenuhi permintaan Yaya, ia membawanya pergi kepantai untuk yang kedua kalinya.
Sesampainya dipantai, Yaya segera turun dari mobil Nino dan berlari mendekati laut, Nino fikir Yaya hanya akan berteriak seperti yang mereka lakukan kemarin, namun diluar dugaan, Yaya terus berjalan tidak perduli ombak menerjang tubuh kecilnya.
Melihat itu Nino segera berlari dengan cepat untuk menghentikan Yaya yang terus saja berjalan menuju ketengah laut, ia mendekap tubuh Yaya dan membawanya ketepi pantai.
"Yaya, apa yang lo lakukan, lo kehilangan akal sehat atau bagaimana !" teriak Nino.
Yaya tidak menjawabnya dengan kata-kata melainkan ia malah menangis, dan berteriak dengan sangat kencang seraya menutup matanya.
Setelah Yaya berhenti berteriak, Nino kembali mendekatinya perlahan-lahan.
"Yaya lo baik-baik saja, kan ?" tanya Nino seraya menyentuh bahu Yaya.
Yaya berbalik dan segera memeluk tubuh Nino dengan erat.
Jantung Nino semakin terpacu karena perbuatan Yaya.
"Aku tidak baik-baik saja Nino,
aku tidak baik-baik saja," gumam Yaya mengulang kata-katanya, kali ini suaranya terdengar serak dan tangisnya pun terasa begitu menyakitkan ditelinga Nino.
"Iya gua tahu, menangislah sampai lo puas, gua akan tetap ada disini bersama lo,"
"Jangan kasihani aku Nino, aku tidak membutuhkannya !" teriak Yaya seraya memukul bagian punggung Nino.
"Hei dengar !" seru Nino menggenggam bahu Yaya seolah meminta Yaya untuk melihat kearahnya.
"Gua tidak pernah berfikir untuk mengasihani lo Yaya, gua hanya ingin lo tahu bahwa gua memperdulikan lo,rasa kasihan dan perduli itu adalah dua hal yang sangat jauh berbeda, ingatlah satu hal, lo tidak pernah sendiri, mengerti !"
Yaya mengangguk, dan kembali jatuh kedalam pelukan Nino.
Hari itu cukup lama Yaya dan Nino duduk ditepi pantai melihat matahari yang hampir terbenam, namun Yaya masih saja larut dalam lamunan dan kesedihannya.
"Apa lo sudah cukup tenang sekarang ?" tanya Nino.
"Hm,"
"Maaf Nino gara-gara menemaniku kau jadi tidak masuk sekolah, aku harus membayar perbuatan baik mu ini suatu hari nanti,"
"Ya tentu saja lo harus membayarnya, karena apa yang gua lakukan hari ini itu tidak gratis, asal lo tahu baju gua sudah basah oleh air mata dan hingus lo, badan gua juga sudah bau matahari," gerutu Nino.
Yaya tertawa mendengar ocehan Nino.
"Akhirnya tertawa juga," gumam Nino.
"Terimakasih Nino," ucap Yaya.
"Terimakasih untuk apa ?
gua bilang ini tidak gratis bukan ?
lo tetap harus membayarnya !" candanya.
"Iya, suatu hari nanti jika kau membutuhkan bantuan ku, aku akan siap sedia untuk mu,"
"Hm, sudah jangan terlalu banyak berfikir, hapus air mata lo dan ayo kita kembali, gua akan mengantarkan lo pulang,"
Aku masih ingin melihat matahari itu sampai benar-benar menghilang, bisakah ?"
"Hm, baiklah terserah kau saja,"
"Nino, apa kau tahu, sikap mu hari ini sangat jauh dari umur mu,"
"Ha ?
maksud lo ?" tanya Nino bingung.
"Ya, aku tidak menyangka kau bisa bersikap dewasa juga, aku akan memberimu nilai seratus untuk perbuatan mu hari ini,"
"Huh, terserah apa kata lo saja !"
Nino menuruti semua keinginan Yaya hari itu, setelah matahari yang Yaya tunggu sudah benar-benar tenggelam, mereka pun memutuskan untuk segera kembali.
Nino mengantarkan Yaya pulang, ketika sampai didepan rumahnya, Nino melihat Yaya tertidur dengan sangat pulas.
"Pasti sangat melelahkan ya jadi lo, gua kagum dengan ketabahan hati lo Yaya," gumam Nino seraya merapihkan rambut-rambut halus yang menutupi wajah Yaya.
(Gua merasa wajah gua mulai terasa panas, darah gua juga berdesir dengan cepat, keinginan gila apa yang mulai membayang di otak gua sekarang ini,) gumam Nino dalam hati, masih tetap menatap lekat pada wajah Yaya yang masih tertidur pulas.
Ia juga berusaha melepaskan pengaman yang mengikat tubuh Yaya dikursi dengan perlahan, namun tiba-tiba mata Nino menangkap bayangan Alvin dibalik kaca mobilnya.
(Gua akan memberi lo sedikit pelajaran Vin,) gumamnya lagi dengan senyum sinis terlukis disudut bibirnya.
Dengan cepat Nino mendekati telinga Yaya dan memnbisikan sesuatu padanya, namun kenyataan yang terjadi didalam mobil dengan apa yang dilihat Alvin sangat berbeda.
"Yaya, kita sudah sampai," bisiknya.
Yaya membuka matanya dan terkejut melihat Nino yang berada sangat dekat dengannya.
"Hm, maaf No aku ketiduran, apa kita sudah tiba dari tadi ?
kenapa kau tidak membangunkan ku ?"
"Lo tidur sangat pulas, gua tidak tega membangunkan lo, gua tahu lo butuh istirahat,"
"Iya terimakasih untuk pengertiannya," imbuhnya.
"Kau kenapa ?
apa yang kau lihat ?" tanya Yaya, ketika Nino kembali mengubah senyumnya saat menatap keluar mobil.
"Alvin, ada disana melihat kita," gumam Nino dengan tersenyum sinis.
"Hm, lebih baik aku turun sekarang No, aku tidak ingin dia salah faham,"
"Yaya tunggu !
jangan fikirkan tentang perasaan orang lain, dan mulailah belajar mengasihani dirimu sendiri," pesan Nino.
"Aku akan mencobanya,"
"Percaya sama gua, semuanya akan baik-baik saja !" tegas Nino.
"Baiklah,"
"Yaya turun !
mau sampai kapan kamu tetap duduk diam didalam sana !" teriak Alvin yang tiba-tiba saja datang dan menggedor kaca mobil Nino.
"Aku harus turun sekarang No, kalau tidak dia akan menghancurkan mobil mu saat ini juga,"
"Gua tidak takut !
dia bisa melakukan apa-pun yang dia inginkan !"
Nino keluar terlebih dahulu dari dalam mobil.
"Nino,
Nino !!!" teriak Yaya mencoba menghentikan Nino, tapi ia tetap datang dan menghampiri Alvin.
"Hati-hati perbuatan lo bisa melanggar hukum bung !" seru Nino.
"Lalu bagaimana dengan perbuatan lo didalam mobil bersama istri oranglain !
apakah menurut lo itu tidak melanggar norma !"
Nino menertawakan penuturan yang Alvin
ucapkan.
Merasa terhina dengan tawa Nino, Alvin dengan cepat meraih kerah baju Nino dan mengepalkan tinjunya bersiap untuk mendaratkannya kewajah Nino.