
Sepulang sekolah Alena bergegas menuju parkiran tanpa memperdulikan Nino yang masih ingin bicara banyak dengannya.
"Alena tunggu !" teriak Nino berusaha mengejar langkah Alena yang berlari cepat, namun ia terlambat karena Alena sudah terlebih dahulu masuk kedalam mobilnya.
"Mas, ayo kita pulang sekarang !" perintah Alena pada Alvin ketika ia sudah duduk didalam mobil.
"Tunggu, sepertinya ada yang memanggil nama mu ?" tanya Alvin seraya mencari arah datangnya suara yang memanggil nama Alena, belum sempat ia menemukan sumber suara itu Alena sudah kembali mematahkan pandangannya.
"Siapa ?
Alena tidak mendengar apa-apa,
mungkin mas Alvin salah dengar," jawabnya.
"Tapi mas benar-benar mendengarnya Alena,"
"Sudahlah mas jangan perdulikan, ayo pulang, eh tapi sebelum pulang Alena ingin makan dulu di cafe kesukaan Alena sama teman-teman dulu, soalnya tiba-tiba Alena lapar, sekalian bernostalgia sedikit," rengeknya.
"Baiklah nona Alena, kita berangkat sekarang," jawab Alvin.
Setelah selesai merengek Alena kembali terdiam menatap sendu kearah jalan raya, Alvin yang melihat wajah Alena tidak seceria pagi tadi pun mulai mengkhawatirkannya dan memberanikan diri untuk bertanya langsung padanya.
"Alena, ada apa dengan wajah kusut mu siang ini ?
kemana Alena yang penuh semangat pagi tadi ?" tanya Alvin penasaran.
"Alena tidak apa-apa mas, hanya saja Alena tengah marah pada sesuatu yang dinamakan takdir," jawabnya.
"Memangnya ada apa dengan takdir ?"
Alena menceritakan apa yang terjadi padanya tadi pagi dan semua tentang Nino tanpa memberitahukan dengan jelas namanya.
"Kenapa kamu tidak langsung bicara saja tentang itu pagi tadi ?
kalau kamu memberitahukan tentang itu, mungkin mas akan memukul wajah orang itu sampai dia tidak punya keberanian lagi untuk membentak mu," ungkap Alvin kesal.
"Hm, sudahlah mas, Alena tidak suka kekerasan, dan memukulnya hanya akan mengotori tangan mas Alvin saja.
Hari ini yang lebih membuat Alena kecewa adalah saat Alena tahu akan satu kelas dengan dia, rasanya Alena ingin kembali saja keluar negeri kalau tahu bakal seperti ini akhirnya, sangat membuat semangat turun," gerutunya.
"Kalau Alena kembali belajar keluar negeri, lalu bagaimana dengan pekerjaan mas Alvin disini ?" tanya Alvin dengan suara lemas.
"Hm, tenang saja mas Alvin, Alena tidak akan kemana-mana, itu hanya pengandaian saja, sebagai wujud kekesalan Alena hari ini," jawab Alena, yang membuat senyum diwajah Alvin kembali berseri.
#
Sementara itu dirumah Nino, Yaya sudah menunggunya didepan pintu dengan meletakan kedua tangan diatas perut, membalas perlakuan Nino dihari kemarin padanya.
"Jam berapa ini Nino ?
kenapa jam segini kamu baru pulang sekolah, kau ingin aku telat pulang kerumah lagi malam ini ?
sepertinya kau sangat senang membuat ku menunggu ?" tanya Yaya pada Nino yang baru saja turun dari mobilnya.
"Cerewet !
cara lo bertanya itu seperti seorang istri yang tengah memarahi suaminya sendiri tahu tidak !
atau jangan-jangan lo memang ingin menjadikan gua sebagai suami lo ya ?
hm, sayangnya gua tidak berminat jadi yang kedua, tapi kalau seandainya lo berpisah dari suami lo saat ini, dan ingin bersatu sama gua, sepertinya itu bisa gua fikir-fikir dulu juga," jawab Nino menggoda Yaya seraya mencubit kecil dagu Yaya.
"Tidak lucu sama sekali Nino !" seru Yaya kesal dengan candaan Nino.
"Hm, maaf-maaf.
Oh iya bagaimana kalau hari ini kita tidak perlu bahas masalah pelajaran dulu ?" tanya Nino.
"Kenapa ?
aku disini dibayar untuk membahas pelajaran !
dan membuat anak bodoh seperti mu menjadi pintar," jawab Yaya seraya membelai kasar rambut Nino.
"Hentikan gua bukan lagi anak kecil !
sekali lagi lo melakukan hal itu gua benar-benar akan mencium lo !" seru Nino.
"Hm, takut,"
"Tapi Yaya sekali ini saja gua mohon,
Tolonglah sekali ini saja, gua tidak dalam kondisi yang baik untuk belajar saat inu," jelas Nino memelas.
"Baiklah, bisa terlihat jelas dari wajahmu sepertinya kamu memang tengah ada masalah yang mengganggu fikiran mu,"
"Hm, jawab Nino singkat.
"Apa ini ada hubungannya dengan hati dan wanita ?" tanya Yaya menggoda Nino.
"Jangan bahas disini, ikut gua keluar sebentar," ajak Nino seraya menarik lengan Yaya dan memintanya untuk masuk kedalam mobil.
Sesampainya ditempat yang dituju oleh Nino, mereka pun segera memesan tempat duduk untuk dua orang.
Saat Nino mengarahkan pandangannya mencari pelayan cafe disana, tiba-tiba ia melihat Alvin suami Yaya tengah berbincang dengan seorang wanita berseragam sekolah menengah atas diiringi dengan tawa lepas, dari wajah Alvin, Nino bisa menilai kalau ia tengah bahagia duduk dan makan bersama dengan gadis lain dibelakang Yaya.
Sementara itu Yaya yang melihat Nino diam terpaku pun merasa aneh dengannya.
"No,
No,
Nino !" teriak Yaya seraya mencubit tangan Nino.
"Ha ?
iya apa ?
kenapa harus mencubit ?
ini sakit !" protes Nino.
"Aku sudah berusaha memanggilmu sepuluh kali, tapi kamu masih tidak mendengarku, jadi jangan salahkan aku, kalau aku mencubit mu,"
"Iya tapi sakit !"
"Hm, siapa suruh kamu melamun seperti itu ?
memangnya kamu sedang melihat apa sampai terpaku seperti itu ?
aku jadi penasaran," tanya Yaya seraya berusaha membalikan badannya untuk melihat apa yang membuat Nino terdiam.
"Ha ?
eh gua tidak sedang melihat apa-apa, hanya seperti melihat orang yang gua kenal saja, tapi ternyata gua salah lihat," jawab Nino membalikan tubuh Yaya agar tidak melihat kearah belakang.
"Hm sebaiknya kita cari tempat lain saja yang lebih nyaman, disini terlalu ramai, tidak cocok untuk gua bercerita," ucapnya.
Sementara mata Nino sesekali masih terus mengawasi meja Alvin, ia juga penasaran dengan wanita yang seragamnya sama dengan seragam di sekolahnya itu, tidak perlu menunggu terlalu lama karena wanita yang duduk didepan Alvin itu pun akhirnya menjawab rasa penasaran Nino, ia menampakan wajahnya dan juga melihat kearah Nino.
"Alena," gumam Nino pelan.
"Siapa ?" tanya Yaya yang tidak begitu jelas membaca gerak bibir Nino.
"Ha ?
bukan siapa-siapa, ayo kita pergi sekarang !" ajak Nino terburu-buru.
"Tapi kita sudah memesan tempat No," jawab Yaya.
"Tidak usah banyak bicara, turuti saja kata-kata ku !" bentak Nino.
Tanpa menunggu persetujuan dari Yaya, Nino pun segera menariknya untuk keluar dari cafe itu.
"Nino lepaskan tangan ku !
tidak pantas kau menarik tangan wanita yang sudah bersuami !" protes Yaya.
"Maaf,"
"Ada apa dengan sikap mu hari ini ?
kamu benar-benar mencurigakan, jangan-jangan wanita yang kau suka sedang bersama pria lain ya ?" tanya Yaya menggoda Nino.
"Jangan bicara sembarangan, ayo masuk mobil !" seru Nino memberi perintah.
(Maaf Yaya, gua terpaksa berbohong sama lo, gua hanya tidak ingin lo sakit hati, karena melihat kelakuan suami lo sendiri dibelakang lo.
Alvin lo benar-benar tidak bersyukur bisa mempunyai wanita yang sangat menghargai lo sebagai suaminya, padahal lo tidak melihat apa yang ia lakukan dibelakang lo, tapi Yaya selalu berusaha menjaga dirinya sebagai istri lo !) gumam Nino dalam hati.