
Yaya lo--" kata-kata Nino terpotong saat Yaya kembali angkat bicara.
"Beritahu dia, aku akan menemuinya besok setelah kalian pulang sekolah, katakan juga padanya, untuk tidak memberitahu Alvin tentang pertemuan kami !" tegas Yaya.
"Tapi Ya--"
"Ikuti saja apa yang aku katakan Nino ! sekarang lanjutkan pekerjaan mu, jangan bahas hal lain lagi diwaktu belajar, mengerti !" tegasnya lagi.
"Baiklah," jawab Nino lemas.
(Apa yang tengah lo fikirkan sebenarnya Yaya ?
entah kenapa makin lama gua semakin mengkhawatirkan keadaan lo, atau memang benar gua sudah jatuh hati sama lo ?
pertanyaannya apa gua masih bisa menempati hati lo itu ?
sementara gua tahu dengan jelas disana hanya ada nama Alvin seorang !) gumam Nino dalam hati.
"Jangan terus-terusan memandang wajah ku Nino, di wajah ku tidak ada jawaban soal yang sedang kau kerjakan !" seru Yaya yang sontak menyadarkan Nino dari lamunannya.
"Masih bisa bercanda juga ternyata," jawabnya, dengan senyum tipis mengembang dibibir Nino.
"Diam !
belajarlah dengan cepat, kau terlalu lambat !" gerutu Yaya.
"Cerewet,"
##
Keesokan harinya.
Sepulang sekolah, Alena sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan kelas, Nino pun dengan cepat mengejarnya, namun Alena sudah terlebih dahulu masuk kedalam mobil yang Alvin kemudikan.
Karena teringat dengan pesan yang Yaya sampaikan, tanpa rasa takut Nino menghadang laju mobil Alena untuk menghentikannya.
"Nino," gumam Alvin perlahan ketika melihat sosok yang ia kenal ada didepannnya.
"Mas Alvin kenal Nino ?" tanya Alena.
"Tidak, tapi istriku mengenalnya, karena dia adalah anak murid istri ku," jawabnya.
"Alena turun !" teriak Nino.
"Apa yang anak ini mau sebenarnya !
Alena, duduk diam ditempat mu, biar mas Alvin yang menghadapi dia," ucapnya menahan langkah Alena yang hendak turun menemui Nino.
"Apa mau lo ?" tanya Alvin yang saat ini sudah berada dekat dengan Nino.
"Gua tidak ada urusan dengan lo, gua hanya perlu bicara dengan Alena !" tegas Nino.
"Semua yang berkaitan dengan Alena bisa kau sampaikan melalui gua,"
"Kenapa harus begitu ?
Oh gua tahu, apa karena Alena itu adalah wanita simpanan lo Vin ?
makanya lo bersikap berlebihan seperti ini melindungi dia ?
sementara lo melupakan wanita yang seharusnya lo lindungi, hanya karena orang baru dihidup lo ini ?"
apa benar ?" Nino menghujani Alvin dengan banyak pertanyaan.
Sementara Alvin memberinya senyuman sinis sebelum ia mulai bicara lagi.
"Siapapun dia untuk gua, itu bukan urusan lo !"
"Akan menjadi urusan gua Vin, kalau lo sampai melukai Yaya !"
"Kenapa lo membawa-bawa nama istri gua bocah sialan !" teriak Alvin seraya mengangkat kerah seragam Nino.
"Kenapa memangnya ?" tanya Nino dengan wajah menantang.
"Apa hubungan lo dengan istri gua sebenarnya ?"
"Tidak ada hubungan lebih diantara kami saat ini, tapi yang jelas gua memiliki perasaan lebih untuknya," jawab Nino dengan tenang.
"Sialan !" kepalan tangan Alvin sudah bersiap mendarat diwajah Nino, namun terhenti saat Alena datang dan melerai keduanya.
"Bocah sial ini, dia menyebut kita sedang berselingkuh Alena, dan dia juga berani bilang kalau dia memiliki perasaan lebih terhadap istri ku !" teriak Alvin.
"Kalau memang apa yang Nino katakan itu tidak benar, lalu kenapa kau harus semarah itu ketika Nino mengatakan kalian sedang berhubungan ?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul diantara mereka, dan sontak membuat dahi Alvin semakin mengerut melihat kedatangannya.
"Ya-Ya," gumam Alvin.
Yaya tidak memperdulikan keberadaan Alvin, ia hanya langsung mengarahkan pandangannya pada wanita yang saat ini tengah menggenggam erat lengan Alvin.
"Hai, apa kau Alena ?" tanya Yaya dengan tersenyum ramah.
"Iya aku Alena,
dan kamu Yaya istrinya mas Alvin ?" tanya Alena sinis.
"Kenapa kau tidak tanyakan saja pada mas Alvin mu ini, apakah saat ini saya masih jadi istrinya atau hanya sekedar teman tidur untuknya saja,"
"Yaya tolong jangan berkata seperti itu, bukankah aku sudah menjelaskan semuanya, kemarin ?" tanya Alvin.
"Cukup Vin, kedatangan ku kemari, bukan untuk mendengarkan mu bicara !
tapi aku kemari ingin merundingkan sesuatu dengan nona Alena,
nona Alena apakah kau ada waktu untuk minum teh bersama ku ?" tanya Yaya dengan sangat tenang pada Alena.
"Tentu, dimana tempatnya ?
aku akan mentraktirmu !" seru Alena dengan sombongnya.
Sementara Yaya hanya memberi senyuman untuk kata-kata Alena.
"Nino, cepat kembali kerumah.
Setelah aku menyelesaikan urusan ku dengan nona Alena, aku akan segera datang mengajar," ucap Yaya pada Nino.
Setelah Nino mengangguk, tanpa banyak basa-basi lagi Yaya dan Alena pun pergi kesalah satu cafe didekat sekolah itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan pada ku ?" tanya Alena.
"Alena, tolong jawab pertanyaan ku dengan kata iya atau tidak, jangan ada kata-kata lain sebelum aku memintanya,"
"Baiklah, lalu apa aku juga bisa mengajukan beberapa pertanyaan padamu ?" tanya Alena.
"Tentu saja,"
"Baiklah kalau begitu tanya apa saja yang ingin kau ketahui,"
"Apa benar Alvin bekerja sebagai supir pribadi dirumah mu ?"
"Iya, sebenarnya dia hanya supir khusus untuk ku saja," jawabnya.
"Aku sudah katakan, kau hanya cukup menjawab iya atau tidak, tidak perlu penjelasan jika aku tidak meminta mu untuk menjelaskannya !" tegas Yaya.
"Apa kau menyukai Alvin lebih dari seorang majikan terhadap supirnya ?"
Alena terdiam untuk beberapa saat, melihat kedalam mata Yaya yang mulai berkaca-kaca.
"Hm, jika aku bilang iya kenapa ?
dan apa jika aku mencintai mas Alvin, kau akan merelakannya untuk ku ?" tanya Alena seraya tersenyum sinis.
"Aku akan memberikannya dengan ikhlas pada mu Alena, jika memang dia mengatakannya sendiri padaku bahwa memang ia sudah tidak mencintaiku lagi, maka aku akan mundur tanpa harus kau perintahkan,"
"Begitukah ?
kalau begitu baiklah, aku akan pastikan kau akan mendengarnya mengatakannya langsung pada mu !"
"Apa lagi yang bisa ku katakan selain, aku akan menunggu hari dimana kau berhasil membuat Alvin meninggalkan ku dan putrinya !"
"Kau tunggu dan lihat saja !" seru Alena seraya berdiri hendak pergi meninggalkan Yaya yang masih duduk dengan tenang dimejanya.
"Dengar baik-baik mbak Yaya, sebaiknya kau perbanyak melihat kedalam cermin, dan pelajari sendiri tentang kekurangan dirimu dari pantulan cermin itu, karena asal kau tahu, wajah dan penampilan mu sangat tidak pantas untuk menjadi istri dari laki-laki sempurna seperti Alvin !"
"Oh iya, jangan berpura-pura bersikap tenang, sementara air mata mu sudah memenuhi setiap sudut dari mata mu itu !
dan ini uang untuk membayar tagihan minuman, kembaliannya simpan saja untuk mu !" seru Alena.
Sebelum pergi ia sempat menunjukan senyum kemenangannya dihadapan Yaya, sementara Yaya yang wajahnya mulai memerah karena marah pun hanya mampu mengepalkan kedua tangannya tanpa bisa bersikap kasar pada Alena.