Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 11



"Vin ada apa dengan kamu sebenarnya ?


apa mungkin kamu mengingankan aku untuk berhenti bekerja saat ini juga, tapi apa kamu sudah memikirkan dampaknya untuk kita Vin ?


kalau aku berhenti bekerja bagaimana kita akan memenuhi kebutuhan kita sehari-hari ?


dan bagaimana kita bisa cepat membawa Alya bersama kita ?


sementara aku tahu kamu tidak ingin lagi bergantung pada papa, kan ?"


"Jadi kamu menyalahkan aku karena keadaan ini ?


dan jangan pernah bawa-bawa papa, karena aku tidak akan meminta sepeser pun darinya.


Lakukan apa yang menurut mu baik, dan lagi aku tahu kamu sangat menyukai pekerjaan mu sebagai guru pembimbing, maaf sudah menyusahkan mu sampai membuat mu harus bekerja untuk menghidupi ku, tapi kamu tenang saja, setelah aku mendapatkan pekerjaan aku akan segera mengganti semua uang mu !" seru Alvin sinis.


"Vin, berfikirlah lebih sedikit dewasa.


Aku tidak pernah menyalahkan kamu sedikitpun, itu hanya fikiran kamu yang terus saja mencari kesalahan ku agar aku meninggalkan pekerjaan ku !


berhenti memikirkan dirimu sendiri Vin !


"Apa ?


aku terlalu memikirkan diriku sendiri kata mu ? terserah jika kau memang berfikir aku seperti itu !


Oh iya, lalu kalau nanti aku sudah mendapatkan pekerjaan, dan jika aku meminta mu untuk segera keluar dari pekerjaan mu !


apa kau keberatan ?"


Yaya terdiam, ia tidak lagi punya jawaban untuk Alvin.


"Kenapa diam ?


apa karena kau tidak akan meninggalkan anak itu ?


Aku minta kamu berhenti merawat orang lain setelah aku memiliki pekerjaan !" tegas Alvin seraya mengarahkan telunjuknya.


"Maaf Vin, tapi aku sudah menerima pekerjaan ini, jadi aku akan mengajarinya sampai ia benar-benar mendapatkan nilai yang orangtua nya inginkan !" tegas Yaya.


"Tapi--"


sementara Alvin belum menyelesaikan kalimatnya, kali ini Yaya menyerah berdebat dengan Alvin, ia bergegas pergi mengganti pakaiannya, kemudian merebahkan tubuh nya ditempat tidur, malam itu mereka tidur saling memunggungi satu sama lain.


#


Beberapa waktu pun berlalu, setiap harinya selalu sama, keadaan rumah tangga Yaya dan Alvin sedikit mengkhawatirkan dengan adanya Yaya mengajari anak yang sudah cukup dewasa, karena alasan itu lah Alvin tidak pantang menyerah mencari pekerjaan, agar ia bisa segera membuat Yaya berhenti mengajari Nino.


Suatu hari saat hari sudah mulai gelap, Yaya pulang diantar oleh Nino sampai didepan rumah, Alvin hanya melihat mereka diam-diam dari balik jendela, namun saat Nino turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Yaya, kemudian mereka juga terlihat bersenda gurau, untuk sesaat darah Alvin tiba-tiba terasa mendidih, dengan cepat Alvin keluar dan menghampiri mereka, lalu menarik lengan Yaya menjauh dari Nino.


"Ayo masuk !" seru Alvin seraya menarik lengan Yaya.


"Alvin lepas !"


"Kenapa ?


kamu masih ingin berlama-lama dengan anak murid mu ini ?


apa tidak puas setelah seharian kalian bersama ?" tanya Alvin yang semakin mempererat genggamannya.


"Tolong lepaskan dia !" seru Nino mulai angkat bicara.


"Lo siapa ?


tidak usah ikut campur masalah rumah tangga orang lain !


lebih baik lo pergi !" jawab Alvin melepaskan tangan Yaya, lalu mendorong Nino dengan kedua tangannya hingga terbentur ke mobil.


"Gua bicara baik-baik kenapa lo kasar !" teriak Nino.


"Lalu kenapa !"


Mereka berdua sudah saling mengepalkan tangan masing-masing seakan mereka sudah siap untuk bertarung.


"Berhenti !!!" teriak Yaya.


Keduanya pun saling melepaskan dan menatap kearah Yaya.


"Jadi ini suami lo Yaya ?


gua tidak percaya wanita pintar seperti lo juga bisa salah memilih pasangan hidup seperti dia !" ucap Nino melemparkan senyum sinisnya kearah Alvin.


"Maksud kata-kata lo apa !" seru nya seraya melayangkan tinju menyentuh pipi Nino.


"Alvin !" Yaya kembali teriak dan menarik tubuh Alvin menjauh dari Nino.


"Nino sebaiknya kamu cepat pergi dari sini, terimakasih sudah mengantar ku," pinta Yaya memisahkan.


"Baiklah, gua pergi karena Yaya yang meminta nya, bukan karena gua takut sama lo !" ucap Nino.


"Sudah Nino, cepat pergi !" seru Yaya lagi.


Nino menuruti perintah Yaya, ia melangkah menuju pintu pengemudi, namun sebelum ia masuk, Nino kembali menatap sinis kearah Alvin.


"Vin, lo lihat siapa yang lebih pantas untuk Yaya !" teriak Nino, yang membuat Alvin kembali mengerutkan dahinya karena kesal, ia berusaha mendekati Nino namun Yaya dengan cepat menahan nya.


"Bu guru, sampai jumpa besok, jangan lupa berdandan lah sedikit, agar wajah mu yang sudah tampak cantik itu bisa terlihat lebih segar lagi, tidak pucat seolah tengah memikirkan sifat suami mu yang sudah seperti orang yang kurang waras itu !" sindir Nino.


Setelah mengatakan hal itu untuk Yaya, Nino pun benar-benar melajukan mobilnya pergi dari depan rumah Alvin.


"Apa yang kalian pelajari sebenarnya sampai anak itu berani bicara seperti itu pada mu ?" tanya Alvin.


"Vin, lebih baik kita masuk dulu kedalam, tidak baik kalau ada tetangga yang melihat kita bertengkar seperti ini," ajak Yaya dengan lembut.


"Kenapa ?


malu ?" tanya Alvin sinis.


"Vin, bukan aku yang malu, tapi kamu !


karena jika kamu terus berteriak seperti ini hanya akan mempermalukan dirimu sendiri !" jawab Yaya seraya melangkah masuk kedalam rumahnya, yang tidak lama juga diikuti oleh Alvin.


"Sekarang jawab gua !"


"Apa yang harus aku jawab Vin,"


"Apa hubungan lo sama dia benar hanya sebatas guru pembimbing dan murid ?"


"Aku menjawab jujur pun kamu tidak akan pernah percaya, karena yang kamu fikirkan itu adalah pendapat kamu sendiri !"


"Jangan permainkan gua Yaya, gua bisa benar-benar melakukan hal yang tidak lo duga jika lo terus begini !"


"Lakukan Vin, aku tidak takut dengan ancaman mu !


aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus ku jawab untuk membuat mu percaya,"


"Jawab saja, sebenarnya apa hubungan kalian !" suara teriakan Alvin lebih menggema dari sebelumnya.


"Iya !


aku ada hubungan lebih dengan nya, apa kamu puas seka---" belum selesai Yaya dengan kata-katanya Alvin sudah berhasil membuatnya berhenti dengan tamparan diwajah Yaya.


"Yaya," ucap Alvin lirih seraya menyentuh bahu Yaya.


"Sudahlah Vin, aku lelah," jawabnya.


Yaya pergi mengganti pakaiannya, setelah itu menuju dapur.


Alvin menghampiri dan berusaha memeluknya.


"Vin, maaf aku sedang akan memasak, aku tahu kamu pasti belum makan," ucapnya menghidari sentuhan Alvin.


"Hm," jawab Alvin singkat.


Alvin menunggu Yaya selesai memasak dengan sabar dimeja makan, tidak terlalu lama kemudian Yaya datang dan menyajikan semua makanan diatas meja.


"Makan lah Vin, aku akan pergi tidur," ucapnya.


"Kamu tidak ingin makan bersama ku ?" tanya Alvin.


"Aku tidak lapar, saat ini aku mengantuk," jawabnya.


"Yaya, duduk dulu sebentar, ada yang ingin aku katakan,"


"Sampaikan besok saja Vin," ucapnya seraya pergi meninggalkan Alvin sendiri dimeja makan.


Alvin menghentikan makan nya, ia terdiam sejenak dan merenungi apa yang sudah ia lakukan pada Yaya.


"Aku memang harus minta maaf padanya karena aku sudah menamparnya tadi, tapi kalau masalah anak itu aku tidak akan pernah merasa bersalah !


apa lagi dia sudah berani terang-terangan menantangku untuk bersaing mendapatkan istriku sendiri, sepertinya dia lah yang layak disebut tidak waras !" gumam Alvin geram.