
"Baiklah, dimana tempatnya ?" tanya Alena.
"Tempatnya sangat indah, kau pasti akan menyukainya," jawab Yaya.
Setujunya Alena untuk ikut bersama mereka membuat Yaya dan Alvin tersenyum kecil saat saling menatap.
"Kau ikut saja bersama kami," ajak Alvin pada Nino.
"Lo ngajak gua ?" tanya Nino seraya menunjukan jarinya kedirinya sendiri.
"Tentu,"
"Memang kita sedekat itu ?" tanya Nino sinis.
"Hm, dasar anak kecil keras kepala, terserah saja jika kau ingin ikut cepat naik, jika tidak sana pergi yang jauh !" umpat Alvin.
Saat Alvin membuka pintu pengemudi Nino dengan cepat berlari masuk kedalam mobil dan duduk disamping Alvin, kelakuan Nino sedikit membuat Alvin terkekeh dan menggelengkan kepala.
"Tidak perlu berterimakasih, gua ikut karena istri lo adalah pembimbing gua, itu saja,"
"Terserahlah," gumam Alvin seraya menghidupkan mesin mobil yang dibawanya.
Diperjalanan Alena terus diam menatap jalan raya, sementara Nino mengawasinya dari kaca didepannya.
(Anak ini patah hati sampai membuat dia kehilangan sebagian nyawanya seperti itu, gua juga sebenarnya patah hati, tapi tidak tahu kenapa luka itu tiba-tiba menghilang disaat gua bisa melihat orang yang gua sayang bahagia bersama pilihannya, kenapa Alena tidak bisa berfikiran yang sama seperti gua, apa mungkin perasaan yang ia miliki untuk Alvin sampai ditahap ingin menguasai ?) gumam Nino dalam hati.
Sementara Nino terus melihat Alena dari kaca itu, Alvin pun diam-diam memperhatikan gerak-gerik Nino.
"Katakan saja jika memang memiliki perasaan lebih padanya," ucap Alvin berbisik.
"Maksud lo, bicara apa gua tidak mengerti ?" tanya Nino mengalihkan pandangannya ke Alvin.
"Wajah itu tidak bisa berbohong, saat ini lo terlihat sedang khawatir Nino," jawab Alvin.
"Tidak usah sok tahu, lebih baik lo fokus menyetir saja, gua belum mau mati muda hanya karena lo tidak fokus !" seru Nino.
Tidak begitu lama kemudian sampailah mereka ketempat yang dituju.
Alvin dan Nino membawa peralatan seperti tikar, dan juga kotak-kotak makanan yang sudah Yaya siapkan.
"Ayo ikuti aku Alena," ajak Yaya seraya mengulurkan tangan hendak menggandeng Alena.
"Tidak perlu kau tuntun, aku bahkan masih sanggup berjalan sendiri !
jalan saja lebih dulu, aku akan mengikuti jika aku mau !" jawabnya dengan nada kesal.
"Baiklah, kalau begitu cepat datang dan bergabung dengan kami, kita akan mulai makan siang,"
"Hm," jawab Alena singkat.
Yaya meninggalkan Alena didalam mobil seorang diri, kemudian menghampiri Alvin dan Nino yang tengah bersiap.
"Vin, Alena masih didalam mobil, kelihatannya dia sangat kesal, bisakah kau membujuknya agar mau bergabung dengan kita ?" tanya Yaya.
"Tapi sayang apa kau tidak masalah jika aku--" kata-kata Alvin terhenti saat Nino yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka, mulai ikut berbicara.
"Biar gua saja yang membujuk anak manja itu," ucap Nino menawarkan diri.
"Kau yakin ?" tanya Yaya ragu.
"Kenapa ?"
"Karena kalian seperti kucing dan tikus yang tidak pernah akur jika bertemu," timpal Alvin.
"Kita lihat saja, gua bisa atau tidak membawa dia kemari !" seru Nino.
"Baiklah, sana pergi buktikan jangan hanya bicara besar,"
"Lo--" Nino mulai kesal.
"Alvin, Nino hentikan !
Vin apa bedanya kau dan Nino, dengan Alena dan Nino, bukankah sama saja ?
kalian selalu saja bertengkar !" seru Yaya.
"Suami lo yang terus memancing emosi gua Yaya,"
"Apa !" ucap Alvin menantang balik Nino.
"Sudah-sudah, kita kemari untuk makan siang, bukan untuk bertengakar atau adu urat !
kalau kalian berdua tetap begini, bagaimana kalau kita pulang saja !" ancam Yaya.
"Tidak-tidak jangan !!!" teriak Nino dan Alvin bersamaan.
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi menghampiri Alena," pamit Nino.
"Alvin," gumam Yaya.
"Maaf sayang, aku hanya menggodanya saja, aku tidak serius ingin bertengkar dengannya,"
"Hm, baguslah, karena Nino itu sebenarnya anak yang baik,"
"Iya sayang," jawab Alvin seraya mencium kening Yaya.
#
Dari dalam mobil dengan jarak yang lumayan jauh Alena bisa melihat kemesraan Yaya dan Alvin yang terpampang nyata dihadapannya.
"Huh, sangat berlebihan !" gerutu Alena.
"Apa ?" tanya Nino yang baru saja masuk dan duduk dikursi sebelah Alena.
"Kau kemari karena perintah dari wanita itu, kan ?" tanya Alena sinis.
"Iya, jadi jika lo sudah tahu dan mengerti niat gua kesini, maka jangan mencoba mempersulit semuanya, ayo turun dan bergabung dengan mereka," ajak Nino.
"Tidak, aku ingin pulang !"
"Pulang ?
yasudah pergi saja sendiri, kau fikir siapa yang perduli, entah lo ada atau pun tidak ada disini, tidak akan pernah mengubah apa-pun ! tapi pertanyaan gua apa lo ingat jalan pulang ?" tanya Nino.
"Bukan urusan mu !
apa perduli mu !" seru Alena seraya membuka pintu mobil dan berjalan berlawanan arah dengan tempat mereka piknik.
Sementara Nino terdiam sebentar mengepalkan tinjunya dan mendaratkannya dikursi mobil itu.
"Dasar anak manja !
keras kepala !" gumam Nino jengkel.
Nino bergegas turun dan berlari menyusul langkah Alena.
"Kenapa kau mengejarku ?" tanya Alena.
"Jangan berfikir berlebihan, gua hanya tidak ingin lo dimakan binatang buas disini, kemudian gua Yaya dan Alvin akan jadi saksi kematian lo, itu sangat merepotkan," jelas Nino mencoba menakut-nakuti Alena.
"Bodoh !
kau fikir aku anak kecil ?
aku tidak takut mati !" seru Alena yang semakin mempercepat langkahnya.
Nino yang mendengar kata-kata itu pun segera menghentikan langkahnya dan menarik tangan Alena hingga ia jatuh dalam dekapan Nino.
"Lo anak manja !
masih saja keras kepala, kalau ada apa-apa sama lo Yaya akan disalahkan !"
"Yaya-Yaya-Yaya lagi !
kenapa semua orang sepertinya sangat menyukainya dan sangat takut jika dia terluka ? apa ada salah satu dari kalian yang pernah sedikit saja mengkhawatirkan aku !" teriak Alena, airmatanya kini sudah tanpa rasa malu lagi jatuh membasahi pipi merahnya yang tersengat panasnya matahari siang itu.
Nino mencoba menghapus airmata gadis itu.
"Kenapa harus menangis ?
jika ada orang yang menyayangi atau mengkhawatirkan seseorang, ia tidak akan terang-terangan mengatakannya, sebaliknya ia lebih memilih terlebih dahulu memperhatikannya dari jauh, kemudian mulai mengenalnya perlahan, setelah itu semuanya akan berjalan alami.
Alena berhentilah menangis dan kembalilah seperti Alena anak manis yang kukenal beberapa tahun yang lalu," ucap Nino seraya mengusap-usap kepala Alena.
Alena terdiam memperhatikan senyum diwajah Nino yang mengembang perlahan, Nino pun juga ikut terdiam dan terus memperhatikan wajah Alena yang basah.
Keduanya kemudian tersadar ketika dering ponsel Nino memecah keheningan.
Call :
Nino : Iya sebentar.
Nino : Baiklah, baiklah.
"Siapa ?"
"Yaya,"
"Hm,"
"Ayo ikut gua, kasihan mereka menunggu lama hanya gara-gara anak manja yang egois seperti lo," ucap Nino seraya menggenggam jemari tangan Alena dan membawanya pergi.
Alena yang masih terheran-heran dibuatnya, hanya bisa diam dan berjalan mengikuti langkah Nino, ia terus berfikir seolah Nino itu mempunyai dua kepribadian yang berbeda.