Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 12



Dengan perlahan Alvin masuk kedalam kamar yang sudah gelap gulita itu, ia mendekati Yaya dan memeluknya perlahan.


"Lepaskan Vin, aku ingin tidur, kenapa kamu terus mengganggu ku ?" tanya Yaya.


"Maafkan aku karena sudah berbicara kasar pada mu dan berani menyentuh wajahmu dengan kasar," ucap Alvin menyesal.


"Aku sudah melupakannya Vin,"


"Kalau memang kau sudah melupakannya kenapa kau tidak melihat kearah ku ?"


"Untuk apa ?


bukankah kamu hanya menyesali kesalahan mu pada ku saja, sementara pada anak didikku kamu tidak menyesalinya, kamu kan juga sudah menyakitinya dengan sangat kasar, suatu saat juga kalau kau bertemu dia lagi kau akan melakukan hal yang sama padanya, kan ?


jadi untuk apa berbaikan sekarang, kalau masih akan mengulanginya lagi," jawab Yaya.


"Hm, bagaimana kalau aku berkata bahwa kau tidak akan pernah lagi bertemu dengannya setelah malam ini,"


"Maksudnya ?


memang setelah malam ini apa lagi yang akan kau lakukan Vin, jangan lakukan hal yang macam-macam Vin !" seru Yaya.


"Sepertinya kau sangat memperdulikan anak itu, jangan-jangan perasaan mu padanya memang sudah lebih dari seorang guru pembimbing dan muridnya ?"


"Jaga bicara mu Vin !


aku sudah katakan bahwa aku tidak ingin berdebat dengan mu !


aku hanya ingin tidur dan biarkan aku istirahat !" seru Yaya.


Alvin memunggungi Yaya saat wanitanya itu melepaskan rangkulan tangan Alvin dan sudah memejamkan dengan paksa matanya.


"Aku hanya ingin memberitahukan pada mu, bahwa besok aku sudah mulai bekerja," ungkap Alvin.


Yaya membuka perlahan matanya, namun ia tidak berusaha menjawab ungkapan yang Alvin sampaikan.


"Kenapa kau diam ?


aku tahu kau masih mendengar aku bicara, kalau memang tidak penting untuk mu, maka lanjutkan saja tidur mu," ucap Alvin dengan nada suara kecewa dan menghembuskan nafas panjang.


"Dimana kau akan bekerja ?" tanya Yaya yang beberapa saat kemudian baru membuka mulutnya.


"Diperusahaan tempat orangtua Ajeng bekerja," jawab Alvin.


Masih saling memunggungi.


"Ajeng ?


kapan kau bertemu dengannya ?


dan apa ternyata sekarang Ajeng sudah jadi dewi penyelamat untuk mu ?" tanya Yaya sinis.


"Bicara apa kau ini, seharusnya kau bersyukur karena berkat dia aku bisa mendapatkan pekerjaan,"


"Hm, kalau begitu tolong sampaikan padanya rasa terimakasih ku," ucap Yaya, menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


#


Keesokan harinya, saat Alvin tengah tertidur lelap, Yaya dengan cepat menyiapkan segala keperluan Alvin, sebelum Yaya pergi bekerja.


Mulai dari baju yang akan Alvin kenakan hari itu, sarapan pagi, bahkan bekal untuk Alvin bawa ketempat kerja barunya.


Sebelum pergi Yaya menyempatkan untuk berpamitan pada Alvin yang masih menutup matanya ditempat tidur, tidak lupa pula Yaya mencium tangan dan juga pipi Alvin sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah.


Alvin membuka matanya sesaat setelah ia mendengar Yaya sudah keluar dari rumah.


Alvin berjalan keluar kamar, ia melihat keadaan rumah sudah sangat rapih, selagi matanya menjelajah setiap sudut ruangan itu, ia menemukan secarik kertas yang sengaja diletakan diatas kotak bekal miliknya.


"Pagi suami ku, maaf aku pergi sebelum kau terjaga.


Habiskan sarapan mu, baju mu sudah ku siapkan, dan tolong bawa bekal ini ketempat kerja baru mu, ingat jika ada yang bertanya apa kau masih hidup sendiri, cepat tunjukan cincin dijari mu, dan katakan padanya bahwa kau adalah milikku.


Semangat suami ku, maafkan aku atas sikap ku semalam yang keterlaluan pada mu," isi pesan yang tertulis di secarik kertas itu.


"Kamu memang yang terbaik Yaya," gumam Alvin seraya menatap makanan yang tersaji diatas meja.


#


Setelah selesai bersiap dan menghabiskan sarapannya, Alvin pun bergegas pergi ke kampus karena ada kelas pagi.


Sebelum kelas di mulai ia memilih untuk duduk sendiri ditaman sambil membaca buku, ketika tengah fokus membaca buku ditangannya seseorang datang menghampirinya dan mengajaknya berbincang.


"Pagi Vin," sapanya.


Alvin mengangkat kepalanya dan menatap orang yang tengah berdiri tepat dihadapannya.


"Ajeng, pagi juga," jawab Alvin canggung.


"Sedang apa ?"


"Baca buku Jeng.


Hm, mana Riki ?"


"Pagi ini gua pergi kekampus sendiri Vin, sengaja ingin bertemu sama lo,


Kenapa sepertinya lo terlihat tidak begitu senang dengan kedatangan gua menyapa lo, hm, apa gua mengganggu waktu membaca lo ?" tanya Ajeng dengan wajah memelas.


"Maaf Jeng, sikap gua seperti ini bukan karena gua tidak senang lu datang menyapa, tapi gua hanya mencoba menjaga perasaan istri gua, walaupun dia tidak berada disini," jawab Alvin.


"Hm, awalnya gua kemari hanya untuk membicarakan masalah kerjaan yang gua tawarkan ke lo Vin, tapi kalau ternyata kedatangan gua bisa mempengaruhi hubungan lo sama Yaya, gua minta maaf. Kalau begitu gua permisi Vin," ungkap Ajeng seraya berpamitan dan berbalik membelakangi Alvin mencoba melangkah pergi.


"Tunggu Jeng !" teriak Alvin.


Ajeng tersenyum penuh kemenangan sebelum berbalik dan kembali mengubah raut wajahnya seolah ia tengah tertekan.


"Duduk dulu Jeng," pinta Alvin.


"Tidak perlu Vin, bukankah tidak seharusnya kita duduk bersebelahan," ucap Ajeng dengan nada suara yang terdengar sedih.


"Maaf Jeng, tapi apa yang gua katakan tentang menjaga perasaan istri gua itu memang benar adanya, tidak bermaksud membuat lo tersinggung,"


"Tidak apa-apa Vin gua sangat mengerti,"


"Lalu, apa yang ingin lo bahas tentang pekerjaan yang akan lo berikan ?" tanya Alvin.


Ajeng menjelaskan semua yang ia ketahui tentang apa yang harus Alvin lakukan agar bisa diterima dengan baik diperusahaan tersebut, mulai dari semua sifat para atasan disana, dan rincian pekerjaan yang akan ia hadapi nantinya.


"Terimakasih Jeng untuk informasinya, sangat berarti sekali," ucap Alvin.


"Sama-sama Vin, sebagai teman sudah seharusnya gua bantu lo," jawab Ajeng bersikap seolah ia adalah dewi penyelamat hidup Alvin.


(Perlahan-lahan gua akan kembali mencuri lagi simpati dari lo Vin, kemudian gua akan berusaha masuk lagi kedalam hidup lo, dan gua akan pastikan lo dan Yaya kesayangan lo itu akan merasakan sakit lebih dari yang gua rasakan selama gua berada disana !) gumam Ajeng dalam hati.


"Ajeng !


Alvin !" pekik seseorang dari kejauhan.


"Hm Vin, karena Riki sudah datang, sebaiknya gua pergi bersamanya, karena gua takut Riki akan salah faham dengan kedekatan kita," ucap Ajeng.


"Baiklah Jeng terimakasih banyak untuk bantuan lo Jeng,"


"Jangan difikirkan Vin, gua ikhlas bantu lo," jawabnya seraya melangkah pergi menghampiri Riki.


#


"Ayo pergi," ajak Ajeng pada Riki.


"Jeng, apa yang lo bicarakan dengan Alvin, kenapa senyum lo terlihat berbeda dari biasanya ?" tanya Riki yang mulai merasakan sifat Ajeng yang dulu telah kembali.


"Gua hanya membicarakan hal omong kosong padanya, tidak ada yang penting," jawab Ajeng sinis.


"Jeng !" seru Riki geram dengan sikap Ajeng.


"Rik, gua bukan Ajeng yang lo kenal dulu, lo tenang saja, lo cukup hanya diam dan perhatikan saja !" tegas Ajeng seraya melangkah pergi.