
Yaya memutar lagi tubuhnya dan menghadap kearah Nino.
"Lo tidak ada niat untuk menanyakan tentang apa yang lo lihat dirumah gua tadi ?" tanya Nino.
"Itu bukan masalah saya.
Tapi kalau kamu ingin bercerita saya bersedia mendengarkannya," jawab Yaya seraya tersenyum.
"Hm, kalau begitu lo ikut gua," ajak Nino melangkah dengan menarik lengan Yaya untuk mengikutinya.
#
"Duduk !" perintah Nino meminta Yaya duduk dikursi tepat disebelahnya.
Dengan tatapan kosong kearah depan Nino mulai menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat, seakan dia tengah meredam dan mengeluarkan semua emosi dikepalanya lewat hembusan nafasnya.
"Jadi, apa yang ingin kamu ceritakan Nino ?" tanya Yaya mulai membuka pembicaraan.
"Tidak ada, gua hanya minta lo duduk disini dan tidak usah banyak bicara !" jawab Nino sinis.
"Lalu untuk apa kamu membawa saya kemari ?
bukankah lebih baik saya pulang ?
saya masih ada urusan yang lain,"
"Berisik !" bentak Nino.
"Yasudah kalau kamu terus membentak seperti itu saya akan pulang sekarang juga," ucap Yaya, ketika Yaya berdiri dari duduknya Nino dengan cepat menangkap lengan Yaya, dan kembali berbicara.
"Papa adalah alasan gua tidak ingin belajar dan tidak ingin mendapatkan nilai sempurna !" ucapnya, karena Nino sudah mulai bercerita akhirnya Yaya kembali duduk disampingnya.
"Dia selalu memaksakan kehendaknya sama gua, dan jika gua tidak menurutinya ia akan menyakiti mama sebagai bentuk balasannya, kejadiannya sama seperti yang lo lihat tadi, dan semua itu berulang dari gua kecil sampai saat ini, ketika dewasa gua mulai memberontak, dengan cara mengabaikan semua keiinginan nya," jelas Nino.
"Mungkin maksud papa kamu itu baik Nino, dia hanya ingin kamu jadi anak yang berhasil,"
"Lalu menurut lo apa harus dengan cara menyiksa mama !" seru Nino menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Yaya terdiam, karena apa yang dikatakan Nino memang benar, ayah nya memang tidak seharusnya melakukan hal sekeji itu pada ibu nya.
"Waktu itu gua tidak sengaja menemukan buku catatan yang mama tulis, disana ia mencurahkan semua perasaannya dari semenjak mereka menikah dan dari catatan itulah gua mengetahui bahwa ternyata sebenarnya papa terpaksa menikahi mama, karena mama tengah mengandung, dan orangtua mama memaksa orangtua papa agar menikahkan mereka saat itu juga untuk menutupi aib keluarga mama !"
"Harusnya itu bukan paksaan, karena anak yang sedang mama mu kandung itu kan anak mereka berdua, yaitu kamu, kan ?" tanya Yaya.
"Fikiran lo sama seperti apa yang gua fikirkan saat itu, tapi saat gua melanjutkan membaca buku itu, hati gua hancur karena disana tertulis dengan sangat jelas kalau ternyata gua ini bukan anak kandung papa,"
"Ha ?" Yaya terkejut.
"Jadi, bukankah sekarang masuk akal, alasan dia selalu memaksakan kehendaknya sama gua ?
itu semua semata karena ia ingin membalas perbuatan kakek yang sudah memaksanya menikahi ibu gua dan menyebabkan ia harus meninggalkan wanita yang saat itu sangat ia cintai !" jelas Nino dengan emosinya yang mulai meluap.
"Tenang kan dirimu Nino," ucap Yaya seraya mengusap bahu Nino.
"Tenang lo bilang ?
kalau posisi gua sekarang ada di lo apa lo bisa jadi tenang menghadapinya ?
sementara lo sudah melihat dengan sangat jelas perlakuan dia terhadap ibu gua !
sangat mudah untuk lo mengatakan kata itu !" seru Nino meneriaki Yaya.
"Nino, saya memang tidak berada diposisi mu saat ini, tapi saya bisa merasakan rasa sakit yang kamu rasakan.
Nino kamu boleh percaya atau tidak, bahwa saya pernah merasakan rasa sakit yang juga tidak bisa saya tahan, tapi seiring berjalannya waktu akhirnya saya mengerti dan bisa mengatasinya dengan tenang," nasehat Yaya.
"Dan gua bukan lo !
lo ingin tahu apa yang gua fikirkan saat ini ?" tanya Nino.
"Apa itu ?"
"Saat ini gua tengah memikirkan bagaimana caranya membalas apa yang dia lakukan terhadap ibu gua !
gua hanya ingin dia merasakan penderitaan yang ibu gua alami selama mereka menikah !"
"Kalau kamu memang ingin membalasnya saya ada cara lain yang lebih halus,"
"Cara halus ?"
"Iya, dengan cara membuat dirimu berhasil dan membuktikan padanya bahwa ibu mu telah mengajarimu dengan sangat baik, cara itu bisa membuat ayah mu merasa malu pada akhirnya, bagaimana ?"
"Tentu saja !" jawab Yaya penuh percaya diri.
Nino kembali terdiam dan untuk sesaat saran Yaya mulai mengganggu fikirannya.
"Jangan banyak berfikir Nino, percayalah ini adalah cara balas dendam terbaik yang bisa ku sarankan pada mu.
Baiklah kalau begitu sampai bertemu besok sepulang kamu sekolah, aku akan kembali untuk mengajarimu, sekarang aku harus pulang," pamit Yaya seraya berdiri dan melangkah pergi.
"Tunggu !" pekiknya seraya berdiri.
"Iya ?"
"Kita belum berkenalan dengan sopan.
Nama gua Nino," ucapnya mengulurkan tangan.
"Nama saya Yaya, dan saya lebih tua dari kamu," jawab Yaya dengan senyum mengembang diwajahnya dan membuat Nino pun ikut tersenyum.
"Terimakasih !" teriak Nino lagi.
Yaya melemparkan senyum dan lambaian tangan kearah Nino, kemudian ia kembali berjalan menjauh meninggalkan Nino yang sudah sedikit lebih tenang.
#
Sesampainya dirumah, Yaya merebahkan tubuhnya di sofa kecil diruang tamu, tidak lama kemudian seseorang datang dan langsung membuka pintu rumah.
"Sudah pulang sayang ?" tanya Alvin.
"Hm," jawab Yaya menyambut kedatangan Alvin dan membenarkan posisi duduknya.
"Ada apa dengan wajah kusut itu ?
dan bagaimana hari pertama kerja mu ?" tanya Alvin lagi seraya duduk disamping Yaya merangkulnya dan mencium kening Yaya dengan mesra.
"Huft, hari pertama ku sangat melelahkan," jawab Yaya.
"Kenapa ?
apa anak yang kamu ajari menyebalkan ?"
"Tepat sekali, sifat anak itu hampir sama dengan sifat mu dulu, tapi akhirnya aku tahu sifat menyebalkannya itu ada sebabnya, dan sekarang aku merasa kasihan padanya,"
"Hm, memangnya anak yang kamu ajari umur berapa ?
laki-laki atau perempuan ?"
"Namanya Nino, hm, usianya sekitar 17 tahun," jawabnya.
"Dia laki-laki !" seru Alvin terkejut.
"Iya,
kenapa ?
sepertinya kamu sangat terkejut ?" tanya Yaya heran.
"Tidak apa-apa,"
"Kenapa sikap kamu berubah dingin Vin ?
jangan-jangan kamu berfikir yang tidak-tidak ?"
"Aku tidak memikirkan apa-apa, aku hanya tengah berfikir untuk segera mendapatkan pekerjaan, agar kamu tidak lagi bekerja," jawab Alvin seraya berjalan masuk kedalam kamar.
Yaya yang menyadari sifat Alvin mulai aneh pun dengan cepat mengikuti Alvin dan memeluknya dari belakang.
"Kamu cemburu, kan ?" tanya Yaya.
"Tidak," jawab Alvin malas.
"Hm, baiklah kalau memang tidak.
Oh iya bagaimana kuliah mu hari ini ?
apa ada yang menarik ?"
"Baik-baik saja, tidak ada yang menarik, semuanya menyebalkan !
lebih baik sekarang beri aku makan, aku sudah lapar," pinta Alvin seraya melepaskan rangkulan tangan Yaya dari tubuhnya.