
"Yaya aku tahu kau belum tidur, sebaiknya kau bukakan pintu untuk ku, atau aku hancurkan pintu ini !" teriak Alvin mengancam.
#terus mengetuk pintu dengan kuat.
"Yaya, aku tidak akan meminta mu untuk mengubah pilihan mu, tapi kita harus bicara soal Alya !" teriaknya lagi.
#berusaha mendorong atau membuka pintu dengan paksa.
Kebisingan yang Alvin timbulkan berhasil membangunkan semua penghuni rumah itu.
"Alvin, ada apa ini, apa yang kau lakukan ditengah malam begini !
tenangkan dirimu !" seru sang ayah.
"Aku hanya ingin bicara dengannya pa, dia tidak bisa bersikap seperti ini !"
"Alvin kalau kau bersikap seperti ini, hanya akan membuat Yaya semakin takut padamu !"
"Diamlah pa !
ini masalahku !
papa jangan ikut campur !" seru Alvin meneriaki ayahnya.
"Alvin !!!" pekik sang ayah seraya menampar wajah Alvin cukup keras.
"Kenapa papa menampar ku ?"
"Karena kau memang layak mendapatkannya dengan sikap mu yang seperti ini !"
"Papa atau siapapun tidak akan pernah mengerti dan merasakan rasa sakit yang saat ini aku rasakan !
kalian hanya tahu berkomentar tanpa bertanya bagaimana kondisi ku yang sebenarnya !" seru Alvin dengan suara bergetar.
"Alvin, kau--"
Kata-kata sang ayah terhenti saat mendengar pintu kamar perlahan mulai terbuka.
"Yaya," gumam mereka semua yang menyaksikan disana.
"Berhenti membuat keributan Vin, masuklah," ucap Yaya, seraya kembali masuk kedalam kamarnya, dan duduk diujung tempat tidur tanpa melihat kearah Alvin yang sudah berdiri dihadapannya.
"Alvin tunggu !
kali ini tolong bicaralah dengan tenang," sang ayah kembali memberi nasehat.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan pa, untuk kali ini biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri !" tegasnya.
Alvin masuk dan mengunci pintu kamar itu.
"Kenapa kau bersikap seperti anak kecil begini ?
ingatlah kau bukan lagi seorang remaja, dengan sikap mu ini aku semakin yakin tidak akan menyerahkan Alya pada mu !"
"Masalah Alya, aku serahkan semuanya pada hukum saja, kalau memang aku masih berhak untuk merawatnya dia akan tetap bersama ku, dan kau tidak akan bisa memisahkan kami walau bagaimanapun caranya !"
"Tapi aku tidak akan memberikannya pada mu !" tegas Alvin.
"Teruslah hidup dengan keegoisan mu itu Vin, aku sudah tidak perduli lagi !"
Kata-kata Yaya berhasil membuat Alvin kehilangan kalimatnya.
"Apa kau menyukai salah satu dari mereka ?" tanya Alvin mengubah topik pembicaraan.
"Bukan urusan mu Vin, apa-pun yang akan kulakukan dimasa depan, itu semua sudah tidak akan ada lagi hubungannya dengan mu,"
"Sebelum kita resmi berpisah, apa-pun yang terjadi didalam hidup mu, masih sepenuhnya urusanku !"
"Kenapa ?"
"Karena kau masih istri sah ku !" tegas Alvin dengan suara tinggi.
"Sudahlah Vin, untuk sekarang itu hanyalah sebuah status saja, tidak ada gunanya kita memaksakan untuk tetap hidup bersama, sementara sudah ada kebohongan diantara kita,"
"Kebohongan apa lagi maksudmu ?
bukankah aku sudah menjelaskan semuanya, dan aku juga sudah meminta maaf padamu, lalu apa lagi masalah sebenarnya ?"
"Masalah sebenarnya adalah kau terlalu baik pada wanita itu sehingga dia menganggapmu lebih dari pekerjanya !"
"Maksud mu Alena menyukaiku ?"
"Kau bukan lagi remajakan Vin ?
kau seharusnya bisa mengetahuinya walaupun hanya dari cara dia memandang mu saja !"
"Tapi aku sama sekali tidak perduli pada perasaannya, karena aku sudah memiliki kau dihidupku Yaya, untuk ku itu sudah lebih dari cukup, jadi aku sudah tidak membutuhkan oranglain lagi untuk menggantikan mu,"
"Dia tetap akan mengejar mu Vin,"
"Biarkan saja, bukan urusan ku !
"Kau tahu dengan jelas Vin apa jawabanku,"
"Apa saat ini kau tengah memintaku untuk yakin bahwa kau tidak memiliki perasaan apa-pun pada salah satu dari mereka ?
iya ?
kalau memang iya, kenapa aku tidak bisa untuk membuat mu yakin juga bahwa aku tidak pernah memiliki perasaan apa-pun terhadap Alena,"
Yaya terdiam.
"Yaya, jujur aku tidak ingin kita seperti ini, aku tidak ingin kita berpisah.
Yaya apa kau ingat kita pernah melalui hal yang lebih parah dari ini saat Ajeng bertingkah dulu, tapi kita bisa melaluinya dan buktinya kita masih tetap bisa bersama, kenapa sekarang kita tidak coba untuk melaluinya lagi bersama ?"
Yaya tetap diam.
"Yaya, kau menyayangi Alya, kan ?
tolonglah setidaknya demi Alya kita jangan berpisah, bukankah kita pernah berjanji akan membesarkannya berdua tanpa bantuan dari siapapun ?"
Karena selalu tidak mendapatkan respon dari Yaya, Alvin pun berlutut dihadapan Yaya dan memegang kedua lutut Yaya.
"Sayang, katakan apa yang bisa ku lakukan agar kau bisa yakin untuk melalui semua ini bersama dengan ku lagi ?
katakan sayang, aku mohon jangan terus diam seperti ini,"
"Apa kau yakin akan memenuhinya jika aku mengatakannya ?"
"Iya tentu saja sayang, asalkan keluarga kita utuh kembali apa-pun itu akan ku lakukan !" tegas Alvin.
"Kalau begitu ambil pisau diantara tumpukan buah itu, dan goreskan dipergelangan tangan mu !" ucap Yaya seraya melihat pisau buah didekatnya.
"Yaya kau--"
"Kenapa ?
apa permintaan ku terlalu menyulitkan mu ?"
"Tidak,"
"Kalau begitu apa lagi yang kau tunggu ?"
Alvin menatap tidak percaya kearah Yaya, kenapa bisa-bisanya Yaya meminta Alvin untuk melukai dirinya sendiri.
"Kenapa masih diam, ambil dan lakukan apa yang ku katakan tadi !"
"Baiklah, jika memang dengan cara itu kau baru bisa memaafkan ku dan kembali menjalani hidup lagi dengan ku, aku akan melakukannya dengan senang hati !"
"Lakukan !"
Alvin berjalan dengan gemetar menuju tempat benda tajam itu diletakan, perlahan ia meraih pisau itu dan mengarahkannya ke nadi ditangannya, Alvin menutup rapat matanya dan bersiap mengayunkan pisau itu.
"Cukup !" teriak Yaya.
Alvin terdiam dengan nafasnya yang tidak lagi beraturan, rasa takut, hancur bercampur kesal sudah menguasai dirinya, membuat wajahnya memucat.
"Kenapa kau hentikan ?
bukankah hanya dengan cara ini kau bisa memaafkan ku, dan kembali lagi menjalani hidup bersamaku ?
apa kau berubah fikiran sekarang ?"
Yaya tidak menjawabnya, namun ia hanya berdiri dan meraih sebuah gelas lalu menghempaskannya dengan sengaja kelantai.
Apa yang Yaya lakukan membuat Alvin semakin tidak percaya istrinya yang lemah lembut bisa bersikap menakutkan seperti sekarang.
"Lihat Vin gelas ini pecah,"
"Apa yang kau lakukan ?"
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya dengan sengaja menjatuhkannya.
Oh iya Vin, kira-kira apa aku bisa memperbaiki gelas ini sehingga ia bisa kembali utuh seperti semula ?"
"Tentu saja tidak bisa," jawabnya tanpa berfikir.
"Lalu bisa tidak aku mengibaratkan hubungan kita seperti gelas yang sudah hancur ini ?"
"Yaya apa maksud kamu sayang ?"
"Maksudku kita bisa bersama lagi, namun tidak akan bisa sesempurna dulu sebelum kau mulai berbohong tentang semuanya,"
Alvin menarik tubuh Yaya kedalam pelukannya.
"Cukup Yaya, cukup sayang, tolong jangan seperti ini, aku hanya ingin kau memberiku kesempatan satu kali lagi saja, jika suatu saat aku bertingkah lagi, kau bisa pergi tanpa pamit padaku,"
Yaya terdiam, ia tidak lagi menjawab.