Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 28



"Semua sudah Alvin jelaskan pa, sebaiknya sekarang Alvin kembali kerumah kami, permisi pa," pamit Alvin.


"Kenapa kau ingin kembali kerumah mu sementara Yaya saja masih disini Vin ?" tanya sang ayah heran.


"Biarkan dia disini dulu pa, karena itu keinginannya,"


"Maksudnya bagaimana Vin ?"


"Yaya sedang tidak ingin melihat wajah Alvin pa, jadi Alvin titip dia disini dengan papa dan mama, Alvin akan kembali lagi untuk menjemputnya saat Alvin sudah bisa membawa wanita yang dia curigai itu kehadapannya, terimakasih atas bantuan papa, Alvin permisi," pamitnya lagi.


Ketika Alvin sudah pergi, wajah Yaya terlihat murung.


"Ada apa lagi dengan wajah mu itu Yaya ?


bukankah Yaya yang menginginkan Alvin untuk tinggal terpisah sementara waktu ?


lalu sekarang apa lagi yang kau fikirkan ?"


"Yaya merasa bersalah terhadap Alvin pa, karena terlalu berlebihan mencurigai dia, tapi dia juga salah pa, tidak seharusnya dia berbohong, coba kalau dia jujur tentang pekerjaannya mungkin Yaya tidak akan pernah mempermasalahkan hal seperti ini pa," jelas Yaya.


"Alvin mempunyai alasannya sendiri kenapa dia menutupi tentang pekerjaanya Yaya,"


"Iya tapi pa--"


"Yaya, kalian sudah dewasa, bahkan kalian sudah memiliki Alya, cobalah jika ada masalah seperti ini lebih baik kalian selesaikan baik-baik, jangan marah menggebu-gebu sampai harus tinggal terpisah seperti ini, ingat marah yang berlebihan akan memicu keputusan yang akan kalian sesali dikemudian hari,"


"Iya pa,"


"Jadi kalian datang berkunjung kerumah ini sebenarnya bukan karena merindukan kami, kan ?


tapi karena adanya masalah, iya kan ?"


"Iya pa,"


"Yasudah sekarang kembalilah kekamar mu, dan renungkan apa yang baru saja kamu dengar dari papa ataupun dari Alvin,"


"Iya pa, maaf papa harus ikut pusing dengan masalah Yaya dan Alvin,"


"Tidak apa-apa Yaya, itulah gunanya cerita pada orangtua, kami tidak akan memberikan nasehat yang bisa menghancurkan kalian, beda lagi kalau kau cerita pada teman, bisa saja teman mu ada niat lain terhadap kalian, atau malah mengadu domba kalian, maka dari itu lain kali kalau ada masalah ceritakan lah pada kami orangtua mu,"


"Baiklah pa, kalau begitu Yaya permisi," pamit Yaya.


###


Yaya tidak bisa tidur malam itu, fikirannya terus terbayang oleh wajah Alvin yang tadi terlihat malu didepan Yaya dan ayahnya.


"Alvin, dia sedang apa disana ?


apa dia sudah sampai rumah ?


dia belum makan apa-pun dirumah ataupun saat dipesta tadi, Alvin apa kau baik-baik saja," gumam Yaya.


###


"Orang yang paling berarti dalam hidup ku, ternyata dia adalah orang yang paling tidak mempercayai ku, Yaya jujur aku kecewa sama kamu, kenapa kau sangat mudah terpengaruh dengan oranglain," gumam Alvin.


Dering telphone Alvin berbunyi.


Chat :


Alena : Mas, besok pagi jangan terlambat jemput Alena, besok Alena ada tugas.


Alvin : Baiklah.


#


Keesokan paginya.


"Selamat pagi Alena, silahkan masuk," sapa Alvin.


"Pagi mas, terimakasih," jawabnya ketus.


Sepanjang perjalanan sebelum sampai sekolah, Alvin terlihat terus diam.


Diamnya Alvin membuat Alena geram.


"Mas Alvin kenapa diam saja ?


mas Alvin memangnya tidak ingin minta maaf karena sudah membohongi Alena tentang status mas Alvin ?" tanya Alena yang tiba-tiba merengek.


"Kenapa saya harus minta maaf ?" tanya balik Alvin dengan nada datar.


"Mas Alvin kenapa jadi dingin seperti ini ?


harusnya yang marah itu Alena bukan mas Alvin,"


"Alena maaf, sebelumnya saya sedang tidak ingin bercanda dengan kamu, saat ini saya hanya ingin diam, dan fokus pada tugas saya, karena saya di bayar untuk menjadi supir !" tegas Alvin.


"Mas Alvin kalau sedang ada masalah dengan istri jangan melampiaskan amarah padaku !


Alena kan tidak tahu apa-apa,"


"Masalahku disebabkan oleh mu," gumam Alvin perlahan.


"Apa, mas Alvin bicara apa ?"


"Tidak ada,"


Sesaat suasana kembali hening.


"Tidak bisa Alena, tugas ku hanya mengantar dan menjemputmu, bukan menemanimu makan,"


"Mas Alvin menyebalkan !" gerutu Alena.


(Apa masalah yang dia miliki sebesar itu, sampai bisa merubah sifatnya yang hangat jadi sedingin es batu begini,) gumam Alena dalam hati.


Sesampainya disekolah.


"Tidak perlu turun mas, Alena bisa buka pintu sendiri," ucapnya.


(Mas Alvin benar-benar aneh !) gerutu Alena.


Dilingkungan sekolah Alena melihat Nino yang tengah bersenda gurau dengan teman-temannya.


"Hei kamu, aku ingin bicara dengan kamu," sapa Alena.


"Bukannya saat ini lo sedang bicara ?


atau lo fikir sekarang lo tengah buang angin, hah ?" tanya Nino, yang membuat Alena ditertawakan oleh semua teman Nino.


"Kau keterlaluan !


sifat mu itu tidak pernah berubah !" seru Alena kemudian berlari pergi meninggalkan Nino.


"Nino lo mau kemana ?" tanya teman-teman Nino.


"Gua pergi sebentar !"


Nino mengejar kemana Alena berlari, dan berhenti ketika ia mendapatkannya.


"Berhenti !


ayo bicara," seru Nino.


"Kalau kau ingin menjadikan aku lelucon lagi sebaiknya kau pergi,"


"Bukankah lo yang ingin bicara dengan gua ? malah bertingkah sok jual mahal, yasudah kalau tidak jadi lebih baik gua pergi,"


"Tunggu !


tunggu sebentar Nino, aku ingin menanyakan soal istri mas Alvin,"


"Untuk apa lo bertanya soal itu ?"


"Jawab saja ketika aku bertanya,"


"Apa ?"


"Secantik apa istri mas Alvin itu ?" tanya Alena.


"Jelas cantik, sangat cantik, sampai semua orang yang berada didekatnya merasa nyaman dengan dia,"


"Termasuk kamu ?"


"Tentu saja, kalau Alvin melepaskan Yaya gua akan maju paling depan untuk merebut hati nya,"


"Oh ternyata namanya Yaya, aku jadi ingin bertemu dengan dia,"


"Untuk apa lo ingin bertemu dengan dia ?


lo tidak ada niat jahat sama dia, kan ?"


"Maaf aku bukan kamu Nino !" seru Alena.


"Lalu untuk apa lo ingin menemui Yaya, asal lo tahu Alena, kedatangan lo hanya akan menambah deretan masalah saja untuknya !"


"Maksud kamu apa bicara seperti itu ?"


"Memangnya mas Alvin lo itu tidak menceritakan masalahnya pada lo ?"


"Tidak,"


"Hah, baiklah kalau begitu gua saja yang menceritakannya, dengar baik-baik, kemarin Yaya melihat Alvin membukakan pintu untuk lo dan juga membelai rambut lo dengan mesra, sambil tertawa dan lo pun bersikap manja padanya, lo fikir sekarang istri mana yang tidak akan curiga melihat kedekatan kalian yang seperti itu !"


"Tapi ini hanya salah faham," gumam Alena.


"Bukan urusan gua, itu masalah lo sama Alvin, yang jelas gua hanya ingin Yaya tahu tentang kelakuan suaminya saat dibelakangnya, itu saja,"


"Lalu kepuasan apa yang kau dapatkan saat kau berhasil menunjukan semuanya pada dia ?"


"Tidak ada, tapi setidaknya gua sudah melakukan hal yang baik untuk Yaya,"


"Sepertinya kau sangat serius menaruh hati pada istri oranglain, kau fikir itu benar ?"


"Masalah itu, bukan urusan lo !


lalu bagaimana dengan lo sendiri, bukankah lo juga menaruh hati pada suami oranglain ?


jadi, apa bedanya lo sama gua ?"


"Tutup mulut mu Nino !"


"Haha, akhirnya lo ingat siapa gua ?"


"Jelas aku mengingat mu, karena kau adalah orang yang membuat masalalu ku hancur berantakan !" seru Alena.


Nino terdiam, dan menghentikan tawa nya, saat Alena memasang wajah benci ketika melihatnya.