Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 36



"Ada apa nona ?" tanya pak Yanto.


"Jangan terima pengunduran dirinya pak, kalau dia tetap bersikeras ingin berhenti, minta dia untuk membayar sejumlah uang dengan ketentuan perjanjian kontrak kerja yang sudah ia tanda tangani sebelumnya !" tegas Alena memberi ancaman.


"Apa maksud mu Alena ?" tanya Alvin.


"Tidak perlu basa-basi Vin !


aku tahu kau pasti akan mengundurkan diri setelah kau kembali pada istri mu, ia kan ?


kau benar-benar laki-laki jahat, kau tidak tahu malu Alvin, ini balasan mu setelah apa yang aku lakukan untuk mu Vin ?"


"Jaga kata-kata mu Alena !" seru Alvin mulai terpancing emosinya, ditambah lagi ekspresi pak Yanto yang merasa kata-kata Alena mengandung makna yang aneh.


"Pak Yanto saya mohon maaf untuk kata-kata Alena tentang saya yang tidak pantas untuk didengar, kalau begitu saya permisi untuk bicara dengan Nona Alena sebentar," pamit Alvin.


"Iya silahkan, Alvin tolong bicaralah baik-baik, karena bagaimanapun juga dia adalah anak dari atasan kita, tolong jangan berbuat hal yang tidak pantas," jawab pak Yanto memberi izin seraya membisikan nasehat pada Alvin.


Alvin hanya menjawabnya dengan anggukan kecil, kemudian ia berjalan menghampiri Alena, membelalakan matanya dan menarik lengan Alena dengan kuat.


"Ikut saya !" seru Alvin menggertakan giginya.


"Kau sadar dengan apa yang baru saja kau ucapkan dihadapan pak Yanto, Alena ?" tanya Alvin.


"Sadar, bahkan aku sangat sadar !


kenapa, kau tidak bisa membayar denda kontraknya, kan ?


sehingga kau membawa ku kemari untuk merayu ku agar aku tidak menuntut mu, dan agar aku membebaskan mu begitu saja, ia kan ?"


"Apa itu yang kau fikirkan saat ini ?"


"Ya,"


"Kau salah besar Alena, kalau hanya untuk membayar denda sisa kontrak kerja, aku bisa dengan sangat mudah melakukannya, itu pun jika aku ingin !" tegas Alvin.


"Bagaimana bisa kau bicara sesombong ini ?


dengan pekerjaan yang kau jalani sekarang ? ingin meminta pada istri mu ?


dia pun hanya seorang pembimbing !


dia tidak memiliki kuasa apa-pun disini !


dia hanya seorang wanita lemah, yang hanya bisa merongrong mu saja !


sadarlah dia tidak pantas untuk mu !"


"Jaga ucapan mu, sebelum aku benar-benar marah !" ancam Alvin dengan nada membentak.


"Kenapa harus marah ?


aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa kau ataupun istrimu itu tidak akan mampu membayar dendanya !


kau hanya bisa mengancam ku dengan nada bicaramu yang sombong itu !"


"Berikan ponselmu !" pinta Alvin.


"Untuk apa ?" tanya Alena heran.


"Tidak perlu banyak bertanya, kau tidak ingin mendengar ku terus membual, kan ?


Alena akhirnya dengan patuh memberikan ponselnya pada Alvin.


Kemudian Alvin mulai mencari namanya dipencarian internet.


Setelah ia menemukan apa yang ia cari, Alvin kembali memberikan ponsel itu pada Alena.


"Ambil ponsel mu ini, dan baca !" tegas Alvin.


"Maksudmu ?"


"Baca saja !"


Alena menatap kelayar ponselnya, wajah yang awalnya terlihat sombong, kemudian berubah menjadi tegang.


"Nama mu--"


belum selesai Alena dengan kata-katanya, Alvin dengan cepat memotong.


"Iya, namaku Alvin Putra Adiwijaya, kau tahu siapa Adi Wijaya ?" tanya Alvin merasa menang.


"Kau menipu semua orang Vin !"


"Terserah apa katamu Alena, yang jelas aku menemui pak Yanto bukan untuk mengundurkan diri, melainkan untuk melaporkan semua kegiatan, dan perkembangan mu akhir-akhir ini, puas !" jelas Alvin seraya beranjak pergi, meninggalkan Alena yang masih diam mematung.


Jam kerja Alvin sudah berakhir sore itu, ia meminta Yaya untuk menunggunya dirumah Nino untuk menjemputnya.


Ketika sampai Alvin melihat Yaya menunggu didepan gerbang ditemani oleh Nino, ia pun segera turun, selain untuk membukakan pintu untuk Yaya, ia juga hendak menunjukan pada Nino bahwa ia dan Yaya sudah baik-baik saja.


"Masuklah tuan putri," ucap Alvin.


"Terimakasih Vin," jawab Yaya.


"Nino aku pulang dulu, oh iya jangan lupa kerjakan semua soal yang sudah ku buatkan tadi," ucapnya mengingatkan Nino.


Setelah Yaya masuk, Alvin melihat kearah Nino dengan tatapan kemenangan seraya tersenyum tipis, kemudian berlalu pergi dari hadapan Nino.


"Apa yang Yaya lihat dari suami macam Alvin, sikapnya terlalu kekanak-kanakan, gua bahkan jauh lebih baik dari Alvin, kasihan sekali Yaya," gumam Nino yang masih berdiri menatap kepergian mobil Alvin dari hadapannya.


#


"Bagaimana harimu sayang ?" tanya Alvin seraya mengusap lembut rambut Yaya.


"Semuanya baik Vin, lalu bagaimana dengan kamu ?


gadis cantik itu apa dia masih berharap padamu ?" tanya Yaya menyindir.


"Tidak ada gadis yang jauh lebih cantik dari istriku !" tegas Alvin.


"Baiklah-baiklah, jawab dulu pertanyaanku,"


"Tidak ada yang begitu penting tentang dia yang perlu kita bahas sayang, yang perlu kau ketahui adalah bahwa aku sudah memberitahunya untuk jangan pernah berani memfitnah istriku, karena aku tidak akan percaya dengan tipu muslihatnya lagi kali ini," jelas Alvin.


"Hm, begitukah ?"


"Iya,"


"Lalu sampai kapan kau akan bekerja dengannya ?"


"Sampai aku bisa menemukan pekerjaan yang baru,"


"Kalau begitu aku akan membantu mu menanyakannya pada Fellix,"


"Jangan !"


"Kenapa ?"


"Aku tidak membutuhkan bantuan dari siapa pun, kali ini biarkan aku mencarinya sendiri dengan kemampuan ku,"


"Vin, kau tidak sedang menganggap Fellix sebagai saingan, kan ?"


"Aku mungkin bisa menganggapnya begitu kalau itu orang lain, tapi untuk Fellix sepertinya tidak bisa, karena dia masih saja belum bisa melupakan mu !"


"Vin--"


"Sudahlah jangan bahas lagi.


Oh iya bukankah besok kau tidak mengajar ?"


"Iya, lalu ?"


"Bagaimana kalau besok kita ajak Ocha dan Fellix untuk makan malam bersama, bukankah sudah lama sekali kau tidak bertemu dengan Ocha ?"


"Apa kau yakin kau akan baik-baik saja ?"


"Tentu,"


"Baiklah, kalau begitu aku akan menghubungi Ocha,"


(Baguslah !


dengan begitu besok malam lo akan segera bangun dari mimpi lo Fellix, kali ini gua akan membuat lo percaya, bahwa sebesar apa-pun masalah yang gua dan Yaya hadapi, itu semua tidak akan pernah membuat kami akan berpisah,) gumam Alvin dalam hati dengan senyum mengembang dibibirnya.


"Kau tersenyum Vin ?


apa yang lucu ?" tanya Yaya merasa heran.


"Tidak, aku hanya tiba-tiba teringat akan kejadian-kejadian lucu saja.


Bagaimana apa Ocha setuju ?" tanya Alvin mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Ocha sudah setuju,"


"Baiklah, kau pasti senang akan bertemu dengan sahabat baik mu ?"


"Tentu saja, terimakasih sayang," ucapnya seraya memeluk Alvin yang sedang mengemudi.


#


Sementara itu.


"Yaya meminta kita untuk makan bersama besok malam," ucap Ocha.


"Hm," jawab Fellix malas.


"Kenapa ?"


"Apa yang kenapa ?"


"Kenapa kau melakukan ini Fell ?


kenapa kau masih belum bisa berhenti mengejar Yaya, kau tahu Yaya sudah dimiliki oranglain, kenapa walaupun sudah ada aku disamping mu, kau masih saja terus berharap padanya ?


aku tidak bisa menyalahkan Yaya, karena aku sadar semuanya bersal dari kamu !"


Fellix hanya bisa diam dan menundukan kepalanya seraya terus mengaduk minuman yang ada dihadapannya saat ini.