Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 47



Sementara itu dari kejauhan sudah ada dua pasang mata yang juga memperhatikan apa yang tengah mereka berdua lakukan.


"Vin jangan ganggu mereka, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka berdua sendiri, diam dan perhatikan saja," ucap Yaya, saat Alvin berusaha turun dan hendak memisahkan mereka dari awal semenjak Nino mulai berani memegang tangan Alena, kemudian menciumnya.


Alvin menatap Yaya yang tengah tersenyum tersipu malu saat melihat apa yang Nino lakukan pada Alena.


"Kenapa kau tersenyum ?" tanya Alvin.


"Tiba-tiba saja aku melihat cerminan kita berdua dari diri kedua anak itu, saling menyukai tapi berusaha menipu diri sendiri, bukankah itu lucu jika diingat, tapi saat dijalani waktu itu cukup menyakitkan," jelas Yaya masih dengan senyum tersungging dibibirnya.


"Bukankah sekarang aku sudah berubah ?


dan tidak lagi menyakitimu ?" tanya Alvin.


"Hm, diamlah sayang, dan jadilah penonton yang baik," ucap Yaya.


Alvin akhirnya diam dan menuruti perintah Yaya, ia kembali duduk memperhatikan Alena dan Nino dari kejauhan.


#


"Nino jaga sikap mu !


kau tidak pantas melakukan itu padaku !" seru Alena.


"Kenapa ?


lo takut dituduh berselingkuh dari Raja ?" tanya Nino sinis.


"Apa-pun itu alasannya, tidak ada hubungannya dengan mu !"


"Jadi benar, kau dan Raja sedang dalam suatu hubungan ?" tanya Nino menyelidik.


Alena tidak menjawabnya ia hanya berusaha pergi dan menghindar dari Nino.


Nino kembali menarik tangan Alena dan menekannya sampai Alena meringis kesakitan.


"Lepaskan aku Nino, ini sakit !" pinta Alena.


"Lo belum jawab pertanyaan gua !"


"Nino lepaskan Alena !" teriak seseorang dari arah belakang Nino.


"Yaya, Alvin sudah berapa lama kalian disana ?" tanya Nino, ia terkejut dan dengan cepat melepaskan tangan Alena dari genggamannya.


"Tidak begitu lama, kami baru saja sampai, biarkan Alena pergi, dan kau cepat pulang, jangan membuat orangtua mu mengkhawatirkan mu, ini sudah terlalu larut untuk jam malam anak sekolah seperti mu !" tegas Yaya.


"Tapi--"


"Tidak ada kata tapi Nino, atau kau sudah tidak bisa mengikuti kata-kata guru mu ?" tanya Yaya.


"Hm, baiklah gua pulang sekarang !" ucap Nino kesal.


"Sangat penurut," gumam Alena.


"Ha ?" tanya Nino heran dengan gumaman Alena.


Alih-alih menjawab Alena lebih memilih segera berlari dan masuk kedalam mobil.


"Kita bahas masalah ini besok Nino, sekarang kau pulanglah, kami akan mengantar Alena pulang," ucap Yaya lagi.


"Hm," jawab Nino mengangguk.


Saat Yaya pergi kembali ke mobil, Alvin mendekati Nino dan menepuk pelan bahu Nino.


"Pelajari tentang perasaan lo sendiri Nino, jangan sampai sikap kasar lo ini melukai fisik dan hatinya, karena jika itu terjadi secara bersamaan, saat lo sadar kebenaran tentang perasaan lo sendiri, mungkin saja kesempatan lo akan menghilang, atau posisi lo sudah digantikan oleh oranglain yang lebih baik menurutnya," ucap Alvin menasehati Nino.


Nino mendengarkan nasehat Alvin dengan perasaan yang semakin bingung.


"Kenapa semua orang menyangka gua memiliki perasaan lebih terhadap dia ?


sementara yang gua tahu apa yang gua lakukan hanya karena gua tidak menyukai sifatnya ?" tanya Nino.


"Jawabannya ada didiri lo sendiri, saat dirumah lo bisa merenungkan apa yang gua katakan tadi," pesan Alvin, yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Nino yang masih berdiri tegak bersama dengan kebingungan yang luar biasa dikepalanya.


"Alena kau baik-baik saja ?" tanya Yaya.


"Hm,"


"Maaf Alvin terlambat menjemput mu, karena tadi ada sedikit masalah yang--"


"Tidak perlu dijelaskan, cepat antar aku pulang !" seru Alena memotong kata-kata Yaya.


#


Keesokan harinya, dari pagi hari Nino tidak melihat Alena masuk kekelas, ada perasaan kesal terlihat dari raut wajahnya, karena sampai kelas berakhir, ia tetap tidak mengetahui apa alasan Alena tidak mengikuti kelas hari ini.


"Kenapa dengan wajah cemberut mu itu Nino ?" tanya Yaya.


"Benarkah ?


tapi wajah itu tidak menunjukan bahwa kau baik-baik saja ?" tanya Yaya lebih menyelidik.


Nino tidak menjawab.


"Nino jika kau menyukainya, kenapa kau harus bersikap seolah kau membencinya ?"


"Maksudnya ?"


"Nino apa yang kau alami hari ini, hampir sama dengan perjalanan ku dan Alvin, fikirkan baik-baik apa kau menyukainya ?"


"Siapa maksudmu ?"


Yaya berdecak kesal sebelum ia menjawabnya.


"Alena !


aku dan Alvin melihat semua yang kau lakukan malam itu pada Alena !" tegas Yaya.


"Kau dan Alvin memang sangat serasi, bahkan khayalan kalian tentang perasaan ku pun sama, sudahlah jangan dibahas lagi tentang malam itu, anggap saja itu hanya sebuah kesalahan !"


"Bagaimana jika dia menganggap itu serius ?


tapi terserah kau Nino, karena yang tahu isi hati mu itu kau sendiri.


Lalu sekarang jujurlah padaku apa yang tengah mengganggu fikiranmu ?"


"Baiklah aku akan memberitahu mu jika kau sangat ingin tahu, sebenarnya orang itu hari ini aku tidak melihatnya,"


"Siapa yang kau maksud ?"


"Seseorang," jawabnya penuh teka-teki.


"Seseorang siapa namanya ?"


"Seseorang yang tidak kau kenal," jawabnya seraya memalingkan wajah.


"Begitukah ?


hm, baiklah mungkin saja dia tidak masuk karena dia sakit, atau ada keperluan yang sangat penting yang membuatnya tidak bisa pergi sekolah, atau kenapa kau tidak mencoba bertanya langsung padanya ?"


"Itu tidak mungkin kalau untuk bertanya langsung, karena bertanya pada temannya pun pasti akan menjadi berita besar disekolah,"


"Apa separah itu ?"


"Hm, merepotkan," jawabnya singkat.


"Dasar keras kepala," gumam Yaya pelan, yang mungkin Nino pun bisa mendengarnya, namun karena ada sesuatu yang lain yang masih mengganjal difikirannya, ia tidak terlalu mau ambil pusing dengan gumaman Yaya.


#


Malam harinya.


"Vin kenapa kau sudah ada dirumah jam segini ?" tanya Yaya heran.


"Sebenarnya dari pagi aku tidak mempunyai pekerjaan,"


"Memangnya kemana Alena ?"


"Dia tidak enak badan dan tidak masuk sekolah hari ini," jawab Alvin.


Jawaban Alvin tiba-tiba membuat wajah khawatir Yaya berubah menjadi ada senyum diujung-ujung bibirnya.


"Kenapa kau tersenyum ?" tanya Alvin lagi.


Yaya menjelaskan apa yang menjadi kegelisahan Nino hari ini, setelah mengetahui alasan Yaya tersenyum Alvin pun ikut tersenyum setelahnya.


Yaya mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan.


(Chat)


Yaya : Nino, seseorang itu tidak masuk sekolah karena dia tidak sehat, jadi bisakah kau tenang sekarang karena sudah mengetahui alasan ketidak hadiran seseorang itu ?


Isi pesan Yaya untuk Nino.


Sementara itu wajah Nino memerah saat membaca pesan yang Yaya kirim padanya.


"Sangat sok tahu sekali kau ini Yaya, memangnya kau tahu siapa seseorang itu ?" tanya Nino dalam gumamannya.


Ia kembali mencerna semua masalah yang tengah mengganggunya, sesekali ia tersenyum karena dia ketahuan memikirkan Alena, namun disisi lain ia juga khawatir dengan keadaan Alena.


Nino bergegas menuju rumah Alena, ia berfikir untuk memeriksa keadaannya, walaupun tidak bisa bertemu, setidaknya ia sudah memiliki niat untuk menjenguknya yang sedang sakit.