
Sepulang kuliah Alvin menjemput Alena, seperti biasanya ia membukakan pintu mobil untuk nona muda itu.
"Ada apa lagi dengan wajah kusut mu kali ini ?
apa anak itu mengganggu mu lagi ?" tanya Alvin.
"Tidak apa-apa mas, Alena hanya tengah memikirkan sesuatu yang lain," jawab Alena datar.
"Oh," jawab Alvin singkat, kemudian ia kembali fokus pada perjalanan dan kembali terdiam, tidak lagi memaksa Alena untuk bercerita seperti biasanya.
"Hanya oh saja ?
dan kenapa juga dengan mas Alvin siang ini, sepertinya mas juga sedang ada masalah ?"
"Maaf-maaf, mas fikir kamu tidak ingin cerita, jadi mas tidak lagi bertanya,
dan juga mas memang tengah memikirkan kata-kata teman mas tadi dikampus, tapi ya sudahlah tidak penting.
Jadi apa yang mengganggu fikiran mu ?" tanya Alvin.
"Hm, tadi seseorang memperingati Alena untuk menjauh dari Mas Alvin," ungkapnya.
"Peringatan macam apa itu ?
dan siapa dia berani memerintahmu begitu ?"
"Dia mengatakan bahwa Alena saat ini tengah berusaha merusak rumah tangga mas Alvin, jadi apa benar mas Alvin sudah mempunyai istri ?" tanya Alena mulai mengintrogasi Alvin.
Alvin yang terkejut dengan pertanyaan Alena pun tiba-tiba menghentikan laju mobil itu secara mendadak.
"Siapa dia Alena ?
kenapa sepertinya dia sangat mengenal ku ?"
"Alena fikir dia memang tahu tentang siapa mas Alvin, jadi jawab saja mas, apa benar mas Alvin sudah mempunyai istri ?"
"Iya benar, mas memang sudah mempunyai istri,"
"Kenapa mas Alvin tidak pernah cerita apa-apa soal ini sama Alena mas ?"
"Kenapa mas harus cerita ?
yang mas tahu pekerjaan mas hanyalah mengantarmu kemana pun kamu ingin pergi, dan tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi mas diluar pekerjaan, kan Alena ?"
"Iya tapi--" kata-kata Alena terhenti saat perasaan kecewa mulai menusuk hatinya.
"Tapi apa ?"
"Sudahlah mas tidak perlu dibahas, antar Alena pulang kerumah, Alena lelah ingin segera istirahat," ucapnya.
Alena terdiam, begitu juga dengan Alvin yang tidak tahu harus memulai pembicaraan tentang apa lagi hari itu.
#
Dirumah Nino seperti biasa setiap harinya Yaya selalu menunggunya didepan pintu rumah Nino.
"Lemas sekali hari ini, apa uang saku yang ayah mu berikan tidak cukup untuk membeli makanan ?" goda Yaya.
Nino tetap diam, mulutnya terkunci rapat pandangannya sayu menatap Yaya yang tengah tersenyum.
Nino berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, yang diikuti oleh Yaya yang masih terus saja berusaha mengajaknya bicara.
"Nino ?
aku tengah bicara, kenapa kau tidak menjawabku ?" tanya Yaya.
Sampai didepan pintu kamar Nino, Yaya menarik ujung baju bagian belakang Nino dan membuatnya berhenti melangkah.
"Nino ada apa dengan kamu--" belum selesai Yaya dengan pertanyaannya, Nino segera membalikan badannya dan memeluk Yaya dengan erat.
"Maafin gua," gumamnya.
"Nino lepaskan !
kau membuatku kesulitan bernafas !" seru Yaya seraya melepaskan pelukan Nino yang membuatnya cukup terkejut.
"Nino apa yang kamu lakukan, aku sudah sering sekali mengatakan padamu bahwa aku adalah seorang istri dari laki-laki yang kucintai, kenapa kamu terus bersikap seperti ini !" teriak Yaya marah.
Nino menghampiri Yaya dengan wajah yang mulai merah padam.
"Nino, apa yang kau inginkan ?" tanya Yaya gemetar.
Nino yang seperti orang kerasukan pun berusaha meraih pangkal leher Yaya agar bisa menciumnya dengan mudah.
Dengan sisa tenaganya Yaya mendorong Nino menjauh, ia berdiri dan mendaratkan jemari tangannya diwajah Nino sebanyak dua kali, dan berhasil membuat emosi Nino semakin memuncak.
"Tampar lagi !
lakukan sepuas lo !" teriak Nino.
"Nino kamu kenapa ?
kenapa kamu lakukan hal seperti ini padaku ?
aku sudah beribu kali mengatakan kalau aku itu sudah mempunyai suami !"
"Suami ?
suami macam apa yang lo punya ha ?
asal lo tahu Yaya, suami lo itu tidak pantas untuk lo perjuangkan, dan bahkan laki-laki bejat itu tidak pantas untuk menjadi suami lo !"
Yaya kembali menampar Nino saat ia menyelesaikan kata-katanya dan seketika membuat tangis Yaya juga pecah.
"Jaga bicara mu Nino !
atas dasar apa kau menghina suami ku seperti itu !
kamu tidak mengenal dia Nino !
jadi kau tidak berhak untuk menilainya !" Yaya terus berteriak didepan Nino.
"Iya gua memang tidak mengenal suami lo itu, tapi gua cukup pintar untuk mengetahui bahwa suami lo itu tidak cukup pantas untuk lo bela sampai seperti ini !
sementara dibelakang lo dia--" Nino menghentikan bicaranya saat Yaya menutup kedua telinganya, seperti tidak ingin mendengar apa-pun lagi yang akan Nino katakan.
"Baiklah Yaya, mungkin jika gua jelaskan lo tidak akan pernah percaya dan tidak ingin mendengarnya.
Kalau begitu lo harus melihat ini !" seru Nino seraya mengeluarkan ponselnya dan menunjukan sebuah foto yang berhasil ia abadikan pagi tadi.
"Lo lihat !
lihat baik-baik, siapa laki-laki didalam foto ini !"
"Alvin," gumam Yaya perlahan.
"Ya, dia adalah suami yang sangat lo cintai, dan yang sangat lo banggakan !
asal lo tahu perempuan ini adalah Alena ! seseorang yang menghubungi suami lo tengah malam saat itu !
puas lo !" teriak Nino.
Yaya yang masih memegang ponsel Nino itu pun terduduk lemas kembali diujung tempat tidur, dengan mata yang masih berkaca-kaca ia terus menatap layar ponsel Nino.
Melihat Yaya yang tidak berdaya Nino pun berdiri tepat didepannya, memeluk kepala Yaya dan membiarkannya menangis dipelukan Nino.
"Aku tidak percaya dia seperti itu Nino, aku tidak bisa mempercayai foto ini," gumam Yaya dengan suaranya yang bergetar dan terdengar menyayat hati Nino.
"Lo boleh tidak percaya dengan apa yang gua ucapkan, kalau memang foto itu masih belum membuat lo yakin, maka besok pagi ikut gua kesekolah dan lo bisa melihat semuanya dengan mata kepala lo sendiri !
berhenti menangis, tangisan lo tidak akan menyelesaikan apa-pun,"
Yaya tidak mengindahkan perintah Nino untuk berhenti menangis, tangisnya semakin lama semakin terdengar pilu, hal ini membuat Nino merasa bersalah, ia duduk bersimpuh dihadapan Yaya, menghapus air mata Yaya dengan tangannya sendiri.
"Maafin gua Yaya, gua melakukan ini karena gua tidak ingin lo terus-terusan dibodohi oleh suami lo sendiri, gua tau apa yang gua lakukan tadi sangat keterlaluan, tapi percayalah, niat gua tulus hanya ingin membuat lo bisa membuka mata lo dan melihat ketidak benaran yang ada dibelakang lo selama ini," ungkap Nino mencoba menenangkan Yaya.
"Nino, tolong bawa aku besok untuk melihat semuanya," pinta Yaya yang mulai membuka mulutnya.
"Lo yakin ?"
"Hm," jawabnya singkat.
Bibirnya bergetar ketika ia terus mencoba untuk menahan tangisnya.