Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 27



"Yaya, jangan dengarkan apa yang Ajeng katakan tadi, anggap saja penyakit lamanya belum sepenuhnya membaik, makanya dia tidak bisa menjaga mulutnya," ucap Ocha menenangkan Yaya.


"Tapi, mungkin juga apa yang Ajeng katakan ada benarnya Cha," jawab Yaya.


"Yaya kau tidak harus memikirkannya, ingat baik-baik kau masih memiliki aku dan Fellix jika kau membutuhkan tempat untuk mengadu kau tahu harus kemana,"


"Hm, terimakasih Cha,"


"Yaya, kita harus pulang sekarang, sudah terlalu malam, tidak enak dengan mama dan papa, jika kita pulang terlambat," ajak Alvin yang mulai kesal sedari tadi semua orang tidak menghiraukan keberadaannya disekitar mereka, Alvin pun meraih pergelangan tangan Yaya, dan dengan cepat ditepiskan lagi oleh Yaya.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu, sekali lagi selamat atas pertunangan kalian berdua, ingat kalian harus akur dan bahagia, Fellix mau pun Ocha pesan ku untuk kalian harus saling terbuka satu sama lain, agar tidak akan ada kesalah fahaman dikemudian hari," tambah Yaya.


"Iya Yaya, terimakasih ya, kamu jaga dirimu, dan hati-hati dijalan, sampaikan salamku untuk Alya," jawab Ocha.


"Baiklah,"


Sementara Alvin ia tidak mengucapkan satu patah katapun untuk Ocha dan Fellix, ia hanya terlihat kesal dan begitu terburu-buru membawa Yaya pulang.


Diperjalanan Yaya terus diam menatap keluar jendela mobil, begitu juga dengan Alvin yang terlihat masih terus mencoba mengatur emosinya.


Sesampainya dirumah orangtuanya, Alvin dengan cepat turun dan menarik Yaya keluar untuk ikut dengannya, Alvin membawanya kekamar tamu dirumah itu, bukan kekamar yang mereka tempati selama ini.


"Kenapa kita masuk ke kamar ini Vin ?" tanya Yaya heran.


"Karena kita harus bicara !"


"Apa lagi yang harus kita bicarakan Vin ?


bicaralah kalau kau memang sudah bisa membuktikan bahwa apa yang kulihat semua tidak benar !


jangan hanya mengeluarkan omongkosong yang tidak berarti !"


"Aku janji sama kamu, aku akan membuktikan semua tuduhan kamu ke aku itu tidak benar.


Tapi sampai aku bisa membuktikan semuanya bisakah kau tidak perlu meminta perlindungan dari Fellix ataupun Nino ?"


"Maksud kamu apa Vin ?"


"Jangan berpura-pura bodoh Yaya, aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri, kau menangis dihadapan Fellix dan menceritakan semua masalah diantara kita !


bahkan kau tidak menolak saat dia memeluk mu !


kenapa ?


apa kau sedang berusaha mencari belas kasihan dari Fellix ?


atau kau sedang berusaha menggodanya lagi, hah !!!" teriak Alvin.


Tanpa fikir panjang Yaya mencoba menampar wajah Alvin, namun dengan cepat pula Alvin menangkap gerakan tangan Yaya.


"Kenapa mau menampar aku ?


kamu marah ?"


"Aku tidak marah, aku hanya minta kamu untuk menjaga kata-kata mu Vin !


apa kau bersikap seperti ini karena tengah mencari-cari kesalahanku ?


agar aku terpojok kemudiaan aku melupakan kesalahan mu, begitu Vin !"


"Fikiran kotor macam apa itu !


aku hanya ingin mengingatkan kamu bahwa kamu itu wanita, dan juga seorang istri, tidak pantas jika kau berpelukan dengan laki-laki lain seperti tadi, apa lagi kau tahu dia itu pernah mempunyai perasaan lebih untukmu, dan dia juga adalah tunangan dari sahabat mu sendiri !"


"Lalu apa kau fikir yang kau lakukan dengan wanita selingkuhan mu itu benar Vin !!!" teriak Yaya.


"Kecilkan suara mu Yaya, atau kau memang ingin membangunkan semua orang dirumah ini !"


"Biar saja !


biar semua orang tahu kelakuan kamu yang sebenarnya !"


"Kenapa tidak langsung kau umumkan saja pada semua orang !


"Aku mau kamu kembali kerumah kita,"


"Lalu bagaimana dengan kamu ?"


"Aku masih ingin disini,"


"Kalau begitu aku juga akan tetap disini bersama mu !"


"Tidak !"


"Kenapa tidak ?"


"Karena aku tidak ingin melihat wajahmu untuk sementara waktu,"


"Apa maksud kata-kata mu itu Yaya,"


"Tidak ada maksud apa-apa, selain aku hanya butuh waktu untuk diriku sendiri,"


"Tapi kita suami istri tidak benar kalau kita tinggal terpisah,"


"Aku tidak perduli ini benar atau tidak Vin, yang jelas itu keinginan ku sekarang,"


"Yaya kau benar-benar keras kepala !" teriak Alvin.


"Terserah apa kata kamu Vin," jawab Yaya seraya melangkah menuju pintu keluar.


"Yaya tunggu !" teriak Alvin.


Namun Yaya sudah terlebih dahulu membuka pintu kamar itu.


"Papa," gumam Yaya terkejut melihat ayah mertuanya berdiri tepat didepan pintu kamar itu.


"Kalian berdua ikut papa keruang kerja papa sekarang !" tegas sang ayah.


###


"Apa yang terjadi diantara kalian berdua sebenarnya ?


kenapa kalian bertengkar dengan suara keras seperti tadi ?


suara kalian sangat mengganggu, atau kalian memang sengaja ingin membangunkan semua orang dirumah ini ?"


"Maaf pa," ucap Alvin dan Yaya.


"Alvin, apa benar yang papa dengar tadi, bahwa kau sedang dekat dengan wanita lain dibelakang Yaya ?" tanya sang ayah.


"Tidak pa, Yaya hanya salah faham,"


"Kalau memang menurutmu Yaya hanya salah faham, sebaiknya kamu cari cara agar Yaya bisa yakin dengan penjelasan yang kau berikan, dengan adanya bukti yang membenarkan mu, maka kau tidak perlu repot-repot untuk membela dirimu lewat pernyataan lagi, bahkan jika dibutuhkan bawa saja wanita yang membuat Yaya curiga itu, minta dia untuk menjelaskan yang sebenarnya kepada istri mu !" tegas sang ayah.


"Baik pa,"


"Yaya, disini papa tidak akan membela anak papa kalau memang dia bersalah, sekarang papa hanya ingin minta Yaya untuk mengeluarkan semua yang mengganjal dihati Yaya, agar Yaya juga tidak selalu berfikir buruk tentang Alvin,"


"Sebenarnya, semua diawali saat Alvin mulai masuk kerja pa, Yaya merasa aneh kenapa dia bisa mendapatkan fasilitas mobil dari perusahaannya dengan sangat mudah, dan yang kedua dia setiap pagi mampir kerumah wanita itu untuk mengantarkannya kesekolah, Yaya fikir Alvin tidak bekerja diperusahaan tapi malah bekerja dan dibayar untuk menemani wanita itu !"


"Apa pembelaan mu tentang yang Yaya katakan itu Vin ?" tanya sang ayah.


"Iya kau benar, aku memang bekerja untuk dia, aku memang dibayar untuk mengantarkan kemanapun dia inginkan, karena aku adalah seorang supir !" tegas Alvin.


"Supir !?" teriak heran Yaya dan ayahnya.


"Iya aku bekerja sebagai supir dirumah wanita yang kamu curigai sebagai selingkuhan ku itu, awalnya aku melamar pekerjaan diperusahaan seperti biasanya, namun jabatan yang kuinginkan sudah terisi, lalu mereka menawarkan ku pekerjaan lain yaitu supir pribadi anak pemilik perusahaan itu yang baru saja pulang dari luar negeri, karena mereka memberiku imbalan yang cukup besar aku menerima pekerjaan itu, aku fikir dengan aku sudah memiliki pekerjaan, aku bisa memberhentikan istriku bekerja agar dia bisa fokus padaku dan juga keluarga,"


"Lalu kenapa kau harus berbohong tentang semua ini Vin ?"


"Alasan ku hanya satu Yaya, aku hanya tidak ingin membuat mu malu mempunyai suami yang tidak berguna seperti aku, makanya aku berusaha menyembunyikannya dari kamu, karena aku tahu kamu pasti akan sedih jika mengetahuinya,"


Mendengar penjelasan Alvin hati Yaya sedikit tersentuh, ia terus menatap Alvin yang tertunduk malu dihadapan Yaya dan ayahnya.