Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 48



Sesampainya didepan kediaman Alena, Nino hanya berdiri didepan mobilnya dengan menyilangkan kedua tangannya didada, ia memperhatikan rumah yang bisa dibilang sangat besar itu dengan penuh harap.


Tidak lama kemudian ia dikejutkan dengan suara mobil yang melintas disampingnya, tidak lama orang itu keluar dari pintu belakang mobil, menatap Nino dengan pandangan menyelidik, kemudian lelaki paruh baya itu datang menghampirinya.


"Kamu--?" sapanya, ia terlihat tengah meraba-raba nama orang dihadapannya.


"Selamat malam om," ucapnya kemudian.


"Ia malam, sepertinya saya pernah bertemu dengan mu ?


apa kau salah satu teman Alena ?" tanya laki-laki paruh baya itu yang ternyata adalah orangtua dari Alena.


"Ia om, nama saya Nino, saya teman sekolahnya Alena," jawabnya gugup.


"Sedang apa kamu berada diluar malam-malam begini ?"


"E--mm-- saya, saya ingin memberikan catatan hari ini pada Alena om, karena hari ini Alena tidak masuk,"


"Wah baik sekali kamu, sepertinya kau tidak ingin Alena tertinggal pelajaran," ucapnya seraya menepuk-nepuk bahu Nino.


"Lalu dimana buku pelajaran yang kau maksud itu ?"


Pertanyaan dari ayah Alena membuat Nino kembali kebingungan.


"Ada didalam mobil om, saya ambil dulu," jawabnya gugup, dan tergesa-gesa mengambil buku apa-pun yang ada didalam mobilnya.


"Ini om," ucapnya seraya memberikan buku catatannya.


"Kenapa tidak kau berikan sendiri ?


ayo masuk bersama !


Alena pasti senang mengetahui ada temannya yang datang menjenguk sekaligus meminjaminya buku catatan,


ayo !" ajak ayah Alena.


"Tapi om saya--"


"Ayo !" ajaknya, kali ini laki-laki paruh baya itu menarik lengan Nino yang artinya perintahnya tidak bisa dibantah lagi.


Akhirnya Nino pun masuk kedalam rumah Alena.


"Duduk lah, dan tunggu disini, Alena akan segera turun !" perintahnya.


Nino duduk dengan perasaan gelisah, menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tidak lama kemudian Alena terlihat menatapnya dari ujung atas tangga, dengan malas Alena menuruni satu persatu anak tangga itu, kemudian berdiri tepat dihadapan Nino.


"Hai," sapa Nino seraya berdiri dari duduknya dan melambaikan tangan.


Alena diam tidak menjawabnya, ia juga masih tetap berdiri memalingkan wajahnya seolah ia tidak ingin melihat orang dihadapannya itu.


"Hm, gua kesini tidak sengaja melewati depan rumah lo, saat itu gua ketemu ayah lo dan beliau meminta gua untuk masuk kedalam, kalau lo tidak suka gua disini, gua bisa pulang sekarang," ucap Nino.


"Yang penting gua sudah tahu kalau lo ternyata masih disini dan baik-baik saja," gumamnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Alena tetap bertahan dengan diamnya, saat Nino benar-benar melangkahkan kakinya untuk pergi, tiba-tiba saja ayah Alena datang menghampiri keduanya.


"Hai anak muda, mau kemana kau ?" tanya ayah Alena.


"Nino permisi Pulang om," jawabnya seraya berbalik menghadap arah suara yang menyapanya.


"Kenapa terburu-buru sekali, diam dan makan malam dulu, setelah itu kau baru diperbolehkan pulang !" serunya.


"Nino sudah makan om, dan--"


"Jangan tahan pa, biarkan dia pergi, kedatangannya juga tidak disengaja, kan !" seru Alena memotong kata-kata Nino.


"Alena jangan bersikap tidak sopan pada tamu !


dan kau, tidak ada tamu yang diperbolehkan keluar dari rumah ini dengan perut kosong !" tegas ayah Alena.


Mendengar ayah Alena yang mulai bernada tinggi akhirnya Nino dan Alena mengalah.


Dimeja makan semua orang diam, Alena juga terlihat tidak memiliki nafsu makan, yang ia lakukan hanya mengaduk makanan dihadapannya, sementara Nino makan dengan wajah yang terus menunduk.


Sang ayah yang merasa ada yang aneh diantara keduanya pun sesekali menatap secara bergantian kearah keduanya.


"Ada apa diantara kalian sebenarnya ?


apa kalian sedang dalam masalah ?


atau kalian adalah sepasang kekasih ?"


"Bukan !" jawab keduanya bersamaan.


"Sikap kalian benar-benar membuat orang yang melihat akan berfikiran yang sama dengan papa, hahaha," jawab sang ayah diselingi dengan tawa besarnya.


Setelah makan malam selesai Nino kembali berpamitan pada ayah Alena, sementara Alena dengan cepat pergi duduk diberanda samping rumahnya.


"Tunggu sebentar Nino," pintanya.


"Ada apa om ?"


"Saya tahu siapa kau itu sebenarnya,"


"Maksud om ?" tanya Nino heran.


"Beberapa tahun lalu, kau yang membuat saya harus memindahkan putri saya sekolah keluar negri, apa saya benar ?"


"Maaf om," ucap Nino kembali menundukan wajah menyadari kesalahannya.


"Sudahlah Nino, itu semua sudah berlalu untuk saya, tapi mungkin bagi Alena dia masih belum bisa melupakan apa yang kau lakukan padanya dimasa lalu,"


"Ia om, Nino sangat faham, dan Nino juga bisa merasakannya hanya dengan melihat sikap Alena saat pertama kali bertemu lagi, dia bahkan berpura-pura tidak mengenal Nino om," jawabnya.


"Lalu jika kau faham apa yang kau inginkan dari putri om sebenarnya ?"


"Tidak ada om, Nino hanya ingin berusaha memperbaiki kesalahan Nino dimasalalu padanya, tapi sepertinya kesalahan Nino sangat tidak mungkin untuk dia maafkan om,"


"Jadi apa kamu akan menyerah begitu saja ?


tidak seperti kau bersemangat saat menjatuhkannya dulu, kemana perginya semangat itu ?"


"Apa yang harus Nino lakukan om, sementara dia sama sekali tidak memberi kesempatan untuk Nino bisa memperbaikinya ?"


"Temui dia, dan utarakan kembali niat mu !" tegas laki-laki paruh baya itu.


"Tapi om--" bantahnya.


"Cepat !" serunya lagi.


Nino akhirnya mengalah dan melangkah mendekati Alena.


"Apa tidak dingin duduk diluar," ucapnya seraya duduk tepat disamping Alena.


"Sedang apa kamu disini ?" tanya Alena kesal.


"Sedang duduk, lo tidak bisa melihat,"


"Cepat pulang kerumah mu !" seru Alena seraya berdiri dan menunjuk kearah jalan keluar.


"Duduk !" seru Nino dengan menggertakan gigi dan membelalakan matanya.


"Ini rumah ku, kau tidak punya hak untuk memerintah disini !"


"Oh ya ?


tapi sayangnya gua sudah dapat izin untuk duduk disini dan bicara sama lo !"


"Kalau papa ku tahu siapa kau sebenarnya, dia pasti akan berfikir ribuan kali untuk memerintahkan mu tetap berada disekitarku !"


"Kalau ternyata papa lo sudah tahu bagaimana ?"


"Maksud mu ?"


"Sudahlah Alena, papa lo sudah tahu semuanya, dan dia mendukung semua yang akan gua lakukan sama lo, jadi lo persiapkan saja diri lo !"


"Melakukan apa maksud mu Nino ?"


Sebelum menjawab pertanyaan Alena, Nino terlebih dahulu mengarahkan pandangannya kesemua penjuru untuk melihat ada orang yang memperhatikan mereka atau tidak.


"Melakukan ini--" jawabnya seraya mendekatkan wajahnya kearah wajah Alena.


Alena yang terkejut dengan cepat menutup matanya, cukup lama tiba-tiba Alena mendengar suara Nino tertawa geli.


"Apa yang lucu ?" tanya Alena.


"Wajah lo lucu, hahaha, lo fikir gua akan mencium lo untuk yang kedua kalinya ?


sangat serakah, mencium lo itu sekali saja sudah lebih dari cukup, haha"


Nino terus tertawa geli, dan menganggap Alena sebagai lelucon untuknya.


Dengan kesal Alena mendekat kearah Nino dan tiba-tiba Alena mengecup sekilas pipi Nino, yang Alena lakukan berhasil membuat Nino diam mematung dan berhenti tertawa seketika.