Enemy, I Love You S2

Enemy, I Love You S2
E'iLu 35



Keesokan harinya, Alvin kembali bekerja untuk Alena, namun tidak seramah seperti biasa yang ia lakukan.


(Mas Alvin sudah datang, tapi kenapa dia tidak keluar dan membukakan pintu untuk ku seperti biasanya ?


atau mungkin dia tidak melihat keberadaan ku ?) tanya Alena dalam hati.


"Pagi mas," sapa Alena saat ia sudah berada didalam mobil bersama Alvin.


"Pagi," jawab Alvin tanpa semangat.


"Mas Alvin kenapa ?


kelihatannya lesu, apa mas Alvin sedang tidak enak badan ?


coba aku periksa," ucapnya seraya mendekat untuk memeriksa suhu badan Alvin.


"Tidak perlu Alena, saya baik-baik saja," jawabnya ketus.


"Tapi mas Alvin terlihat pucat, mendekatlah padaku, akan kuperiksa," pintanya.


"Cukup Alena !" teriak Alvin.


"Mas Alvin membentak Alena ?"


"Duduk ditempatmu, saya akan mengantarkan mu kesekolah, jangan bertingkah !"


"Bertingkah ?


maksud mas Alvin apa ?


kenapa mas tiba-tiba bersikap kasar seperti ini ?


apa Alena melakukan hal yang mas tidak suka ?"


"Diamlah !"


"Mas kasar lagi ?"


"Mas,"


"Mas Alvin kenapa marah, apa salah ku ?"


"Mas," rengeknya kali ini seraya mengguncang-guncangkan lengan Alvin.


"Saya katakan diam !" bentak Alvin lagi.


"Kalau begitu jawab aku Alvin !" teriaknya.


Alvin menghentikan laju mobil yang ia bawa dengan segera ketika Alena berteriak.


"Kau ingin aku menjawab seperti apa ?"


"Kau menyebutku bertingkah, apa maksud kata-kata mu itu !"


"Baiklah aku akan menjelaskan semuanya kalau kau sangat ingin mendengarnya,


yang pertama, kau bersikap seolah kau adalah orang baik dihadapan ku, yang kedua kau berani memfitnah istriku memukuli mu dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas pada mu, dan yang ketiga gara-gara kau mengatakan yang tidak-tidak pada istriku hubungan kami hampir saja berakhir !"


"Jadi maksud mu hubungan kalian saat ini baik-baik saja ?" tanya Alena dengan tatapan kecewa.


"Tentu saja, memangnya apa yang kau harapkan ?"


"Aku ingin kalian berpisah !"


"Kenapa ?"


"Karena aku menyukai mu Vin, dan aku tidak ingin wanita itu terlalu lama memiliki mu, dia seharusnya sudah bisa mengikhlaskan mu bersama oranglain sekarang," jelasnya dengan wajah memohon dan airmata yang tidak ada hentinya membanjiri pipinya.


"Gila !" seru Alvin seraya menghidupkan kembali mesin mobil dan kembali melaju dijalan raya.


"Hentikan mobilnya, aku tidak ingin pergi sekolah !" teriaknya.


Alvin mengabaikan perintahnya.


"Aku bilang hentikan mobilnya !"


"Diam !!!" teriak Alvin.


Alena terdiam dan semakin dibuat terkejut oleh teriakan keras Alvin, ia juga baru mengetahui sifat Alvin yang sebenarnya.


Sesampainya disekolah tanpa berpamitan ia langsung saja turun dan berlari seraya menghapus air matanya.


Kemudian seseorang datang dan menghadang didepan Alena.


"Menyingkir !" seru Alena.


"Kenapa lo berlari dilingkungan sekolah, jika guru melihat, lo akan berada dalam masalah, mengerti !"


"Bukan urusan mu !" serunya lagi seraya hendak kembali berlari, namun dengan cepat Nino menangkap tangannya dan membawanya pergi.


"Kenapa kau membawa ku kesini ?


apa tujuan mu sebenarnya ?


Oh aku tahu kau pasti orang suruhan si Yaya istri Alvin yang tidak berguna itu untuk memperingatiku, kan ?"


"Tidak,"


"Lalu kau kemari untuk menertawakan ku ?


karena semua rencanaku yang gagal ?


dan mereka sudah baik-baik lagi sekarang ! atau kau ingin mengejek ku karena baru saja Alvin meneriaki ku dan mengatakan aku memfitnah istrinya, iya, kan ?"


"Apa kau memfitnah Yaya ?


apa maksud mu mengatakan mereka sudah baik-baik lagi ?"


"Oh jadi kau tidak tahu apa-apa ?


kasihan sekali, ternyata kau sama seperti aku, hanya sebagai pengganti disaat mereka sedang bermasalah !


ini semua gara-gara kamu !"


Alena kembali berlari pergi setelah sebelumnya berhasil mendorong Nino yang tengah terdiam mematung.


Dari sudut bibirnya Nino tiba-tiba saja tersenyum, dan kemudian memaksakan diri untuk tertawa .


"Memang dari awal tidak seharusnya gua memiliki keinginan yang sama seperti Alena, sudah tahu akan seperti ini jadinya, kenapa gua tetap berharap, dasar bodoh !" Nino meneriaki dirinya sendiri.


#


Ketika sekolah selesai Nino bergegas kembali pulang kerumahnya, seperti biasa disana sudah ada Yaya yang tengah menunggunya.


"Hai," sapa Nino lemah.


"Hai Nino, kemarilah dan duduk, hari ini aku membawakan mu makan siang, aku memasaknya sendiri, ayo coba makan,"


Yaya memberikan kotak berisi makanan itu dengan tersenyum.


Perlahan Nino mulai memakan makanan itu.


"Bagaimana ?


enak, kan ?"


"Hm,"


"Nino, kau kenapa ?


wajah mu hari ini kusut sekali, apa yang terjadi disekolah ?


adakah yang mengganggumu ?


atau kau baru saja ditolak oleh seorang gadis ?" tanya Yaya menggoda Nino.


"Bahkan lebih dari itu,"


"Wah, benarkah ?


apa itu ?"


"Sudahlah tidak usah dibahas.


Oh iya, bagaimana dengan lo dan suami ?"


"Hm, jauh lebih baik, dan kesalahfahaman diantara kami sudah teratasi, ya walaupun aku masih belum tenang selama dia masih bekerja dengan gadis itu,"


"Oh, syukurlah kalau begitu,"


"Nino, sebenarnya apa yang terjadi ?"


"Tidak ada,"


"Aku tahu pasti ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku, iya, kan ?"


"Sebenarnya, gua kehilangan semangat gua saat tahu hubungan lo sudah baik-baik saja, tapi gua juga tidak bisa bersikap egois, karena bagaimana pun juga, dia adalah sumber kebahagiaan lo, benarkan ?"


"Pertama aku ingin meminta maaf karena sudah membuat mu kehilangan semangat, yang kedua aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau bisa mengerti dengan semua pilihan ku, dan ketiga belajarlah sampai kau pintar hingga kau tidak akan membutuhkan bantuan ku lagi, agar kau juga bisa dengan cepat melupakan ku, dan mendapatkan gadis manis yang lebih baik,"


"Jika gua tidak bisa ?"


"Tidak bisa apa ?"


"Melupakan lo !"


"Nino dengarkan aku, aku sangat yakin perasaan yang kau miliki untukku saat ini, hanyalah perasaan sayang terhadap seorang kakak saja.


Kau laki-laki yang gagah dan juga tampan, banyak gadis yang akan mengantri untuk memperebutkan mu Nino,"


"Kenapa lo tidak,"


"Karena aku sudah berkeluarga,"


"Jika belum ?


apa lo akan mempertimbangkan lagi perasaan gua ?"


"Mungkin saja,"


Dering ponsel Yaya tiba-tiba berbunyi.


"Sudahlah jangan dibahas lagi, habiskan makanan mu dan kita akan mulai belajar, aku permisi angkat telphone sebentar,"


"Hm,"


Nino melihat Yaya yang tersenyum dengan wajah memerah saat ia menerima telphone sedikit menjauh darinya.


(Gua berharap apa yang lo ucapkan benar bahwa perasaan yang saat ini mengganggu gua hanyalah perasaan adik untuk kakaknya saja,) gumam Nino.


"Sudah selesai, kah ?" tanya Yaya yang sudah kembali duduk didepan Nino.


"Hm,"


#


Sementara itu Alvin dan Alena tetap diam diperjalanan mereka pulang, tidak ada satupun dari mereka yang memulai percakapan.


Saat tiba, Alvin segera mencari kepala pekerja rumah tangga dirumah Alena.


(Untuk apa sebenarnya dia mencari kepala pekerja, jangan-jangan--


tidak aku harus tahu apa yang ingin dia sampaikan,) gumam Alena yang mengendap-endap mengikuti Alvin dan kepala pekerja keruangannya.


"Ada apa mas Alvin," tanya sang kepala pekerja.


"Saya ingin--" kata-kata Alvin terhenti saat mendengar Alena berteriak.


"Tidak !!!" teriak Alena yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan itu.