
"Daddy sama Mommy hati-hati 'ya di sana" Ujar Marvin seraya memeluk kedua orang tua nya yang saat ini berjongkok di depan nya.
Barra dan Queen mengangguk serempak sebelum pada akhirnya Marvin pun melepaskan pelukan nya.
"Kamu juga jangan nakal di sini, jangan buat ibu kelelahan dan harus nurut apa kata ibu. Oke?!" Ucap Queen dengan nada tegas.
Marvin mengangguk.
"Kamu tenang saja Queen, Marvin anak yang baik dan penurut" Sahut Bi Dazy mengusap kepala Marvin.
Queen yang mendengar itu pun tersenyum, lantas wanita itu bangun dan memeluk lembut Bi Dazy.
"Terima kasih ibu.." Ucap nya.
Bi Dazy membalas pelukan Queen cukup erat. "Hati-hati di jalan, jika sudah sampai kabari ya"
"Hm, pasti bu"
"Ingat pesan Mommy dan jangan membuat masalah di tempat les" Barra berucap kali ini seraya mengusap pipi sang putra.
"Iya Daddy.."
Usai dengan pamitan nya, kini sepasang pasutri yang akan berangkat babymoon ke swiss itu sudah berada di dalam mobil menuju bandara.
Tentu nya Barra dan Queen berangkat menggunakan pesawat pribadi milik pria itu, selain demi ketenangan Barra juga mementingkan kenyamanan sang istri dan calon anak nya.
Queen menghela napas beratnya berkali-kali dengan mata yang menatap jalanan di samping nya. Sampai pada akhirnya Barra yang selesai menghubungi seseorang pun menarik tubuh nya ke dalam pelukan.
"Kenapa hm?" Tanya lembut Barra
"Rasa nya cukup berat jika harus meninggalkan Marvin" Jawab Queen kembali menghela napas berat nya.
"Marvin anak yang pintar, jangan terlalu mengkhawatirkan nya sayang. Lagi pula ada Ibu yang menjaga Marvin"
"Tetap saja rasa nya beda.."
"Aku janji setelah babymoon kali ini, dan setelah anak kita lahir aku akan membawa kalian berlibur lagi. Tentu nya bersama Marvin juga"
Seketika kepala Queen mendongak menatap wajah Barra. "Serius?" Tanya nya tak percaya.
"Serius sayang, aku mana pernah bohong"
Queen tersenyum lebar mendengar hal itu, lantas lilitan tangan nya pada pinggang Barra pun semakin mengerat.
"Terima kasih, suami ku"
"Sama-sama istri ku"
...*...
...----------------...
...*...
Setelah menempuh waktu kurang lebih delapan belas jam perjalanan udara, kini sepasang pasutri itu telah menginjakkan kaki nya di negara Swiss sebagai tempat babymoon mereka.
Gagal honeymoon memang sempat membuat Barra kesal dan harus bersabar menunggu hingga saat ini. Dimana babymoon ini benar-benar terwujud dengan hadir nya sang buah hati.
"Sudah sayang, Mommy sudah sampai nih kamu lihat saja sendiri kalau tidak percaya" Ucap Queen Seraya mengalihkan kamera handphone nya pada pemandangan villa yang mereka tempati.
"Woah, indah sekali.." Pekik kagum Marvin di sebrang sana.
Ya, kedua nya sedang melakukan panggilan video dan panggilan itu terhubung sejak Queen sampai di villa ini.
Barra sama sekali tidak ia perhatikan karena pria itu juga sibuk dengan handphone nya, terdengar samar Barra sedang memerintahkan seseorang untuk menjaga villa ini.
"Indah 'kan?"
Marvin mengangguk cepat. "Hum, indah Mom. Marvin jadi pengen ke sana"
Melihat kekehan Marvin, Queen pun ikut terkekeh pelan. "Sabar ya sayang, nanti setelah adik kamu lahir Mommy dan Daddy akan mengajak kalian berlibur ke tempat yang lebih indah dari ini.
"Iya Mommy, Marvin mau!!"
Senyum Queen semakin lebar melihat keantusiasan bocah laki-laki di layar handphone nya, sampai akhirnya bocah itu kembali bersuara.
"Oh iya, dimana Daddy?"
"Daddy--"
"Daddy di sini, boy" Potong Barra yang tiba-tiba sudah berada di belakang Queen, bahkan tangan pria itu memeluk perut Queen yang mulai terasa perkembangan nya.
"Daddy kemana aja?"
"Tadi Daddy habis menelpon teman Daddy, boy" Jawab Barra tersenyum hangat pada putra nya.
Marvin pun terlihat mengangguk mengerti, obrolan mereka masih berlangsung sampai akhirnya bocah kecil itu bicara.
"Sudah dulu ya Mom, Dad. Aku mau les di temani ibu" Izin nya pada kedua orang tua nya.
"Iya sayang, hati-hati dan jangan nakal" Jawab Queen.
"Jangan jajan sembarangan" Timpal Barra.
"Siap Mom, Dad!"
Panggilan berakhir, senyum di bibir Queen terus menghias wajah nya mengingat wajah ceria putra nya.
Ia pikir Marvin akan murung bahkan menangis, tetapi tidak dan beruntunglah mereka yang memiliki putra seperti Marvin yang sangat pengertian di usia nya.
"Sudah tenang?" Tanya Barra yang mendapat anggukan dari Queen. "Baiklah kalau gitu sekarang kita istirahat karena besok kita akan mulai menikmati indah nya negara ini" Lanjut nya dengan nada berbisik.
Queen pun lantas berbalik menghadap pria itu dan memeluk leher nya. "Tapi aku belum lelah dan juga belum ngantuk, gimana dong?" Sahut nya dengan nada manja.
Tak lupa tangan wanita itu yang mulai bermain di leher Barra bahkan mengusap penuh arti leher serta kepala pria itu.
"Honey.." Panggil Barra dengan nada yang mulai terdengar berat.
"Jangan memancing. Aku benar-benar sangat susah menahan nya terlebih lagi aku harus puasa selama tiga bulan ini.." Ujar nya dengan deru napas yang terdengar memberat serta kedua tangan yang mulai mengusap-usap pinggang Queen.
Queen terkekeh samar lalu mengecup sekilas bibir Barra. "Sudah tiga bulan 'bukan?"
Barra mengangguk, tatapan nya mulai sayu.
"Berarti sudah boleh dong" Lanjut Queen.
Barra menggeleng samar. "Kita harus istirahat honey.."
"Apa ini, aku di tolak hum?" Sebelah tangan Queen semakin nakal, kini tangan itu mulai memainkan kancing meja Barra bahkan membuka tiga kancing itu.
"Honey..!" Barra menahan pergerakan tangan Queen dengan mata yang melotot.
"Stt,, aku akan menganti semua waktu mu untuk babymoon ini"
Setelah mengucapkan kalimat tersebut Queen pun berjinjit dan mengecup serta menghirup rakus leher Barra.
"Honey,, aku benar-benar tidak bisa menahan nya lagi jika kamu terus seperti ini"
"Maka jangan di tahan" Bisik Queen meniup penuh godaan leher Barra.
"Ahh,, Shiit!!" Erang Barra yang sedetik kemudian langsung mengangkat tubuh Queen.
Mel*mat rakus bibir mungil yang di balas tak kalah rakus oleh sang pemilik. Tangan mungil itu pun terus menggoda dada nya.
Mengusap bahkan memainkan choco chips milik Barra. Ah, Queen benar-benar nakal!.
"Aku merindukan mu, sayang uhh.." Lenguh Queen begitu Barra meny*sapi leher nya.
Barra tak lagi menghiraukan segala ucapan penuh godaan itu. Pria itu semakin di bakar oleh api gaiirah dan hasrat dalam diri nya.
Hingga kini tubuh kedua nya sudah berada di atas kasur tanpa sehelai benang pun yang menutupi.
Cup.. Cup.. Cup..
Barra mengecup berkali-kali perut Queen yang mulai terlihat membesar dengan begitu hangat dan lama.
"Tunggu Daddy, sayang. Daddy akan mengunjungi mu.." Bisik Barra di depan perut buncit Queen.
Queen terkekeh samar dan hal itu pun membuat Barra kembali mengangkat kepala nya dan menyamakan posisi nya.
"Maka kunjungi aku, Daddy" Jawab Queen dengan nada menggoda bahkan mengecup hidung mancung yang berada di atas nya.
Barra tersenyum miring dan menggenggam tangan Queen yang berada di sisi kepala wanita itu.
"Kalau sakit bilang oke?"
Queen mengangguk dan mengigit bibirnya. "Kenapa tiba-tiba aku gugup" Batin nya.
"Stt,, tenang jangan gugup. Aku ga mau calon anak kita kaget" Ucap lembut Barra sebelum pada akhirnya pria itu kembali menyerang bibir Queen yang sudah membengkak.
Di saat Queen kembali hanyut dalam ciuman itu, di bawah sana pun Barra mengarahkan sang adik untuk memasuki rumah nya yang sudah tiga bulan tidak ia masuki.
Hingga akhirnya lenguh kedua nya menyatu, mengisi hening nya kamar villa itu. Membaur menjadi satu hingga keringat menetes membasahi kasur.
"Terima kasih sudah melawan nya untuk ku, dan terima kasih kamu mau hidup bersama ku.." Bisik Barra di samping telinga Queen.
"Terima kasih juga sudah menjadi pahlawan untuk ku. Jika tidak ada kamu yang berkedok menjadikan aku istri sirih untuk melahirkan seorang pewaris untuk mu, mungkin saat ini hidup ku semakin kelam di tempat itu"
Barra mengangkat kapala nya dan mengusap pipi sang istri.
"Hidup bahagia yang awal nya aku pikir hanya ada dalam mimpi ku sejak meninggalnya Mama. Ternyata itu semua terwujud dan aku tidak sedang bermimpi bisa hidup bersama pria penyayang dan sangat mencintai ku"
Air mata Queen menetes begitu mengucapkan kalimat panjang tersebut. Rasa bahagia, beruntung, dan bangga menyatu dalam diri nya karena bisa hidup bersama Barra.
"Aku tidak ingin melihat air mata ini, honey" Ujar Barra menyeka air mata Queen.
"Ini air mata kebahagiaan honey" Sahut Queen terisak pelan.
"Haha baiklah, maka jangan pernah tinggalkan aku" Jawab Barra dengan tawa kecil nya.
"Aku yang seharusnya bicara seperti itu. Tanpa kamu hidup ku mungkin sudah berakhir hikss.."
Barra pun kembali memeluk tubuh yang berada di bawah nya, mengecupi beberapa kali pipi wanita itu.
"Masih mau nangis atau kita lanjutin nih?" Tanya Barra.
"Lanjutin hikss.."
Tawa Barra pecah, tidak menyangka tetapi Queen begitu lucu saat ini. "Baiklah, peluk aku erat-erat"
Queen pun menurut dan memeluk begitu erat punggung Barra lalu menenggelamkan wajah nya pada tengkuk pria itu sebelum pada akhirnya kegiatan panas itu kembali berlanjut..
...********END********...
*
*
Seperti ini lah ending dari kisah cinta kedua nya. Saling membutuhkan dan mencintai satu sama lain.
Melawan semua rintangan yang menyerang mereka, terutama Barra.
Maaf di sini author ga bikin part mereka babymoon soalnya author juga kurang tau Babymoon tuh ngapain ajaš„²
But, terima kasih untuk para pembaca ku yang benar-benar setia mengikuti cerita ini sampai selesaiā¤ļøāš©¹
Terima kasih atas dukungan kalian pada karya ini yang alur ceritanya masih ngasal dan jarang ada konflik karena aku sendiri kesulitan membuat konflik.
And, see you next karya atau mungkin next season dari karya ini?š¤
...****************...