Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
23. Salam perpisahan manis



Tepat pukul tiga pagi, Queen terbangun karena merasa lapar. Wanita itu bersama sang suami melewatkan makan malam karena Barra yang tidak mau berhenti.


Tubuh Queen terasa remuk, bahkan intinya terasa perih dan sakit. Namun perlahan ia bergerak melepaskan pelukan Barra pada tubuh nya.


Tetapi siapa sangka, pergerakan itu membuat Barra langsung membuka mata nya dan memeluk kembali tubuh Queen dengan begitu erat nya.


“Kak..” Lirih Queen merasa malu karena tubuh kedua nya masih polos tanpa terhalang sehelai benang pun.


“Mau kemana hmm?” Tanya Barra dengan suara serak nya.


“Qu-queen lapar”


Mata Barra yang sempat terpejam lagi, kini kembali terbuka dan pria itu pun mengurai pelukan nya. “Lapar?”


Queen mengangguk namun tak berani menatap wajah Barra, kegiatan panas kedua nya masih melekat di otak Queen hingga membuat wanita itu sangat malu.


Sesaat Barra mengusap pipi Queen yang terlihat memerah di bawah remang nya lampu tidur, hingga akhirnya pria itu mengecup sekilas bibir Queen dan bangun.


“Pakai ini dan ayo kita turun aku yang akan memasak” Ujar Barra yang sudah memakai boxer nya seraya menyodorkan kemeja putih milik nya pada Queen.


Perlahan Queen bangun dan tentu nya dengan menahan rasa sakit pada tubuh nya. Melihat itu pun Barra membantu nya.


“Ayo pakai” Barra berniat memakaikan kemeja tersebut, namun dengan cepat Queen mengambil alih.


“Qu-queen aja yang pakai, kakak berbalik” Ujar gugup Queen.


Barra menahan senyum nya melihat ekspresi malu-malu Queen, padahal sebelum nya wanita itu mend*sah begitu keras. Ah, Barra jadi ingin memasuki nya lagi!


“Kak?” Panggil Queen membuyarkan lamunan Barra.


Tanpa berkata-kata lagi Barra pun membalik tubuh nya, membiarkan Queen memakai kemeja milik nya sendiri.


“Sudah?” Tanya Barra.


“Celana nya mana kak?” Tanya balik Queen membuat Barra langsung berbalik menatap nya.


“Sudah begini saja, lagi pula hanya ada aku dan kamu di sini” Sahut Barra seraya menyingkap selimut yang menutupi kaki putih milik Queen.


“Ka-kak..!” Pekik tertahan Queen begitu Barra mengangkat dan menggendong diri nya.


“Mau makan apa?” Tanta Barra mengalihkan pembicaraan.


“Apa aja, Queen sangat lapar”


Barra mengangguk dan mulai menuruni beberapa anak tangga hingga sampai di lantai dasar dimana ia langsung menuju dapur.


Menghidupkan lampu dapur lalu mendudukkan Queen di kursi pantry, setelah nya Barra mulai memasak walaupun sebelum nya pria itu sempat tersenyum begitu lebar ketika mengingat momen sebelum ia berhasil mendapatkan Queen seutuh nya di dapur ini.


Tak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit kemudian masakan Barra telah siap. Walaupun hanya sekedar roti tawar yang di baluti oleh telur dan di tambah irisan kornet serta toping keju, hal itu pun membuat Queen terkekeh pelan.


“Queen kira kakak mau masak makanan” Ejek Queen.


“Ini makanan sayang, makanan penunda lapar” Sahut Barra memotong makanan di piring tersebut dan bersiap menyuapi Queen.


“Maksud aku, seperti nasi dan lauk nya” Queen menerima suapan Barra, dan ternyata sangat enak hampir mirip seperti rasa Pizza yang pernah ia makan!.


“Itu makanan berat, gak baik di makan di jam segini. Lagipula besok pagi kan kita bisa makan yang lagi banyak” Jelas Barra yang terus menyuapi Queen.


Queen sangat lahap memakan roti panggang itu, rasanya cocok di lidah Queen dan yang terpenting ia sangat lapar.


“Kakak juga makan” Ujar Queen yang baru teringat bahwa Barra juga belum makan.


“Aku sudah kenyang, sayang” Barra tersenyum tipis dan kembali menyuapi Queen.


“Kenyang? Makan apa?” Tanya Queen di sela kunyahan nya.


“Kamu”


“Ukhuk.. Ukhuk..” Queen tersedak roti yang hampir ia telan begitu mendengar jawaban Barra yang terdengar sangat menggelitik.


“Astaga pelan-pelan” Panik Barra seraya membantu Queen meminum susu putih buatan nya.


Dengan rakus dan terburu-buru Queen meminum susu tersebut hingga habis tak tersisa, namun sebelum itu..


“Padahal kamu punya lho, kok suka banget sama susu?” Celetuk Barra di sela kegiatan minum Queen.


Seketika susu tersebut menyembur ke lantai sana dan Queen pun kembali terbatuk-batuk.


“E-eh..” Kaget Barra mengusap-usap punggung Queen.


“Kak Barra ih, ngeselin banget!” Geram Queen setelah rasa gatal di tenggorokan nya mereda.


“Lho, ngeselin kenapa?”


“Tau ah!” Rasa lapar Queen telah berganti menjadi rasa malu. Malu karena suami nya mengatakan hal-hal yang terdengar menggelitik.


Baru saja berniat bangun, tetapi Queen langsung memekik dan kembali duduk. “Stthh.. Kenapa sakit sekali..” Gumam Queen.


“Sakit?” Tanya Barra mengusap surai Queen. Tentu nya Queen langsung mengangguk.


“Gapapa nanti juga hilang, kamu belum terbiasa”


Queen yang sedang menahan rasa sakit nya hanya mengangguk tanpa menyimak apa yang Barra ucapkan.


“Aku lapar” Bisik Barra tepat di samping telinga Queen.


Queen menoleh mendengar bisikan itu, seketika bibir kedua nya bertemu karena saat ini Barra tengah membungkukkan tubuh nya


“Kak!!” Seru kaget Queen menjauhkan kepala nya.


“Aku lapar, sayang”


“Ya-ya sana makan, itu masih ada roti nya” Sahut gugup Queen namun Barra menggeleng.


Dalam sekali gerakan Queen telah berada di gendongan Barra, tentunya dengan cepat Queen memeluk leher Barra agar tidak terjatuh.


“Sekali lagi ya?” Pinta Barra dengan tampang memelas nya.


Queen menggeleng cepat, ini saja sangat sakit apalagi jika adik besar suami nya itu kembali menerobos masuk.


“Gak akan sakit sayang, aku janji deh sekali aja 'ya?” Barra menunjukkan raut memelas yang tidak pernah ia tunjukkan sebelum nya.


.


Bleshhh~


“Kak..!!” Pekik kesakitan Queen dengan kepala yang terangkat.


“Kenapa sayang hmm?” Tanya lembut Barra mengecupi rahang Queen.


“Kata nya sekali, udah dong. Sakit tau!”


“Tadi kan kamu yang keluar bukan aku”


Seketika mata Queen melotot lebar, jadi harus menunggu Barra keluar? Astaga sebelum nya saja pria itu bisa menahan nya hampir satu jam!.


“Siap sayang?" Tanya berbisik Barra seraya meniup pelan telinga Queen.


“Ka-kak, u-udah ya?” Bujuk gugup Queen yang langsung mendapat gelengan dari Barra.


“Anggap saja ini salam perpisaha untuk ku, sayang”


Sedetik kemudian pria itu langsung menggerakkan pinggull nya hingga suara benturan antar dua kulit itu menggema di dalam kamar yang semula hening.


“Emm.. Kak” Queen menekan tengkuk Barra saat pria itu bermain pada pucuk nya.


Cpkk.. Cpkk.. Cpkk..


Suara decapan mulut Barra mengadu bersama suara benturan itu. Awalnya saja Barra menggerakkan secara perlahan dan begitu lembut.


Namun pada akhirnya kini pria itu langsung bergerak bruntal dan begitu cepat memacu tubuh nya membuat tubuh Queen terhentak-hentak.


“Ahh.. Kak emmhh..!!”


“Sangat menjepit sayang..” Lirih Barra tak mampu menahan gaiirah nya.


...****************...