
"Jadi.. Siapa dia?" Tanya Barra dengan nada dingin dan wajah tanpa ekspresi nya.
Tatapan nya begitu menyelidik pada pria di depan nya yang saat ini tengah menundukkan kepala nya. Bahkan sejak memasuki ruangan Barra.
"Sebenarnya aku sahabat mu atau bukan, Ric?" Ucap nya lagi membuat Ric seketika menatap nya.
"Huuuh.." Ric menghela napas berat begitu menatap wajah Barra. "Yang aku tau hanya nama dia dan ibu nya yang sudah meninggal, tetapi aku tidak mengetahui identitas Ayah nya" Jelas Ric.
"Berarti dia bukan perempuan sembarangan"
Ric menggeleng pelan. "Sebenarnya dia lahir dari seorang wanita malam, maka dari itu sejak dia tau bahwa sedang hamil anak ku. Dia berniat mengugurkan nya dengan segala cara"
Barra terdiam, cukup kaget mendengar penjelasan Ric yang saat ini mulai duduk di kursi depan nya.
"Dia selalu bilang bahwa anak yang di kandung nya nanti tidak akan mendapat kebahagiaan atau pun keadilan, sama seperti nya. Padahal jelas-jelas aku akan bertanggung jawab"
"Sudah jelas 'bukan bahwa dia tidak mendapat keadilan dari Ayah nya?" Hardik Barra membuat Ric mengangguk pelan.
"Aku juga baru tau, malam itu dia ada di jalanan yang jelas-jelas jauh dari tempat tinggal nya karena baru saja menghampiri Ayah nya. Tetapi dia di usir begitu saja"
"Dia bicara seperti itu?" Tanya Barra menyelidik.
"Lebih tepat nya aku yang memaksa dia berbicara"
"Lalu?"
"Tas nya di jambret jadi terpaksa dia jalan begitu jauh hingga akhirnya aku menculik nya" Ric terus menghembuskan napas kasar nya. Mengingat betapa keji nya ia saat itu.
Barra pun mengangguk pelan tanda mengerti. "Biar aku selidiki siapa Ayah wanita itu"
"Tidak perlu! untuk apa?!" Sahut cepat Ric. "Anggap saja Ayah nya sudah mati dan sekarang ada aku yang akan menjaga dan membiayai hidup nya!"
Hampir saja Barra menjatuhkan rahang nya begitu mendengar penuturan Ric, sang sahabat yang selalu bersikap tertutup pada nya.
"Hm, lalu sekarang dimana dia? Apa kau tidak takut jika dia mencoba membunuh calon anak mu lagi?"
Ric menggeleng lalu menunjukkan senyum menyebalkan nya yang Barra yakin ada sesuatu di balik senyum itu.
"Aku menitipkan Karin pada istri mu, tuan"
"What?!"
...----------------...
Queen menatap serius wajah pucat polos tanpa polesan make up yang berada di hadapan nya saat ini. "Bagaimana? Enak?" Tanya nya.
Karin mengangguk pelan membuat pria kecil di samping Queen memekik. "Sudah Marvin bilang, cake buatan Mommy sangat enak dan lezat!" Pekik nya bersemangat.
Astaga pria kecil yang bahkan mengucapkan huruf 'R' saja masih belum sempurna, bisa-bisa nya ia mengundang tawa kecil dari bibir Karin yang selama satu minggu ini terus mengeluarkan isak tangis nya.
"Jangan teriak-teriak dong sayang, nanti aunty Karin nya kaget lho" Peringat lembut Queen.
"Hihi maaf Mom" Kekeh Marvin menunjukkan gigi susu nya. "Habis nya tadi aunty Karin kayak ragu gitu makan cake buatan Mommy"
Mendengar itu Karin pun merasa tidak enak, pasalnya ia memang sedang menginginkan cake yang saat ini ada di hadapan nya. Tetapi ia malu.
"Gapapa, jangan dengarkan ucapan bocah cerewet ini" Potong gemas Queen mencubit pipi gembul Marvin. "Sana main sana Ibu, Mommy mau bicara sama aunty Karin dulu"
Menurut, Marvin pun turun dari kursi meja makan itu tanpa bantuan sang Mommy karena ia memang ingin sendiri. Lalu Marvin mendekati Karin.
"Nanti kita main bareng 'ya, nty? Marvin mau tunjukkin koleksi robot yang di belikan oleh Daddy" Ujar nya.
Karin mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Setelah melihat itu Marvin pun berlalu mendekati sang Ibu- Bi Dazy.
"Kalau gitu ibu sama Marvin ke taman belakang 'ya, Queen"
"Iya bu, tolong jagain anak cerewet itu" Jawab Queen dengan nada meledek.
"Ihh Mommy!" Dengus tak terima Marvin.
Queen terkekeh melihat kepergian sang anak yang terus menghentakkan kaki nya sebal, dan hal itu pun tak luput dari mata Karin hingga akhirnya Queen kembali mengalihkan tatapan nya.
"Kamu tau?" Ucap tiba-tiba Queen.
Karin yang kepergok sedang memperhatikan Queen pun lantas menundukkan kepala nya dan menggeleng.
"Marvin bukan anak ku" Lanjut nya yang membuat Karin kembali menatap nya.
Queen tidak bermaksud mengungkit hal ini, tetapi begitu mendengar cerita sekilas Ric pagi tadi. Seperti nya ia harus menyadarkan Karin bahwa anak adalah hal berharga.
"Sudah hampir tiga tahun aku menikah dengan suami ku, tetapi kami belum juga di karuniai seorang anak"
Karin meremat ujung baju nya dengan rasa penasaran namun tak ingin bertanya.
"Aku dan suami ku jelas sangat sehat, tetapi mungkin tuhan belum mempercayai kami untuk menjadi orang tua" Queen menghembuskan napas nya sesaat.
Sebelum pada akhirnya ia menggenggam tangan berkeringat milik Karin.
"Aku tau mungkin kejadian ini sangat menyakiti mu, tetapi mau bagaimana pun anak itu berhak lahir ke dunia"
Karin kembali menunduk. "Aku takut,, aku takut dia merasakan hal yang sama seperti ku"
"Tidak, aku tau Ric seperti apa. Dan suami ku bilang selama ini Ric tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun, dia penggila kerja sama seperti suami ku"
"Jadi aku yakin Ric akan memastikan kebahagiaan kalian, dan lagi baru hari ini aku melihat tatapan frustasi Ric saat meminta ku untuk berbicara dengan mu"
Karin terdiam, memang selama satu minggu ini ia di kurung oleh pria itu. Bahkan sekedar ke kamar mandi pun Ric mengikuti nya.
Tidak usah bertanya apa alasan pria itu mengikuti nya, karena kelakuan Karin lah yang membuat Ric harus melakukan itu.
"Bisa kah kamu mempertahankan janin tidak bersalah itu? Dia anugrah walau pun hadir di situasi yang tidak tepat" Tanya Queen mengangkat dagu Karin agar menatap nya.
...****************...
*
Up ke-dua, utamakan memberi like agar author semangat di setiap bab nya ya!🥰