
"Bye-bye nty..!!" Teriak si kembar Al dan El di dalam mobil dengan kaca nya yang terbuka.
Tak lupa kedua nya melambaikan tangan begitu gembira, begitu pun dengan Queen yang melambaikan tangan nya seiring dengan pergi nya mobil itu.
"Huuft.." Hela berat Queen setelah menghentikan lambaian tangan nya.
"Ayo masuk, cuaca nya dingin" Ajak Barra memeluk bahu Queen.
"Aku ingin melihat bintang dulu, kalau kamu mau masuk duluan aja"
Barra tak menyahut, sejenak pria itu menatap wajah Queen bergantian dengan langit yang terlihat terang di malam ini.
Setelah nya Barra berbalik, meninggalkan Queen di teras rumah besar itu.
"Huuft.." Hela Queen lagi dan lagi.
Cukup lama Queen terdiam dengan mata yang menatap bintang-bintang di atas sana sampai akhirnya kaki itu berniat melangkah sebelum di tahan oleh sepasang tangan pada bahu nya.
Queen menoleh mendapati bahu nya yang sudah tertutup oleh mantel berbulu lalu tangan berurat itu menuntun nya untuk berjalan.
"Say--"
"Ke taman 'kan?" Potong Barra yang mendapat anggukan dari Queen.
"Baiklah ayo kita lihat bintang dari sana, honey" Bisik nya mengecup sekilas pelipis Queen.
Barra terus menuntun Queen dari belakang melalui bahu wanita itu untuk berjalan. Tubuh sebatas dada nya terlihat begitu mungil dan selalu menggemaskan di mata nya.
Duduk berdampingan di bangku taman yang di terangi oleh lampu taman tersebut serta cahaya bulan yang begitu terang dan tak lupa angin malam yang sangat dingin itu m
Membuat kedua nya saling berpelukan, menikmati hawa dingin ini dengan mata yang terus menatap langit.
"Kapan bintang jatuh?" Tanya tiba-tiba Queen yang tak mengalih kan tatapan nya dari langit.
Barra yang mendengar itu pun langsung menunduk menatap wajah istri nya yang saat ini berada di dada nya.
"Kenapa?" Tanya Barra yang tak mendapat sahutan. "Kenapa nanya gitu?" Ulang Barra.
Queen tersenyum tipis. "Konon kata nya kalau bintang jatuh jika kita membuat permohonan dan permohonan itu akan terkabul"
Barra terkekeh pelan, harus kah Istri nya percaya dengan hal seperti itu? Dulu saat kecil Barra memang sering mendengar salah satu teman nya berkata seperti itu hingga Barra pun selalu memandang langit di malam hari.
Berharap bintang jatuh lalu mengabulkan permohonan nya agar bisa di sayang sang Mommy seperti anak-anak lain nya.
"Kamu menertawakan ku?" Queen menatap wajah Barra yang masih terkekeh pelan itu.
Barra pun menggeleng. "Bukan honey, hanya saja aku tidak percaya dengan hal seperti itu"
Queen menghela napas nya begitu kasar. Bahkan suami nya sendiri tidak percaya, lalu apa yang harus ia harapkan? Dan kapan bintang akan jatuh?
"Pelan-pelan saja, dulu aku ingin cepat memiliki keturunan karena para tikus di perusahaan ku yang mendesak ku. Tetapi sekarang mereka sudah tidak ada"
"Huh, setelah pesta pernikahan itu pun kamu terus membicarakan soal anak. Dan seingat aku saat itu orang-orang yang menjahati mu sudah tidak ada"
Barra terdiam. Memang nyata nya Barra sangat ingin memiliki beberapa orang putra atau putri yang akan menambah semangat nya selain sang istri.
Melihat raut Barra yang berubah, Queen pun kembali memeluk pinggang nya dan menduselkan pelan wajah nya pada dada bidang itu.
Barra tersenyum dan mengangguk tipis.
*
*
"Apa jadwal ku nanti sore, Ric?"
"Ada memiliki pertemuan dengan investor Mr.Yakazu dari jepang dan membahas kerja sama dengan CEO Star's Group" Jelas Ric dengan mata yang sesekali menatap layar ipad di tangan nya.
"Hum baiklah, persiapkan semua nya dan kirim data-data investor dari jepang itu"
"Baik tuan"
Ric pun berlalu meninggalkan sang boss yang terlihat begitu lelah, padahal ia baru saja menyelesaikan satu pertemuan dan masih banyak pertemuan lain nya hingga menjelang sore.
Menatap foto pernikahan nya yang sengaja Barra pasang sebagai wallpaper, pria itu pun menunjukkan senyum tipis dengan mata yang sayu.
"Aku rindu tawa lepas mu, honey.." Gumam Barra. "Harus seperti apa lagi aku menenangkan mu? Aku juga lelah, tapi ini semua memang tidak mudah untuk mu atau untuk ku"
Barra mengusap layar handphone nya sebelum pada akhirnya pria itu kembali meletakkan handphone di sebelah komputer nya.
*
*
Dasi yang sudah melonggar dan jas yang sudah terlepas entah di letak kan dimana, akhirnya kini Barra dapat menghembuskan napas lega nya.
Pria itu tengah duduk di salah satu ruang VIP sebuah night club, tentu nya dengan Ric yang duduk di samping nya dan beberapa bodyguard berjaga di luar.
"Pesan kan aku minuman terbaik di sini, Ric!" Perintah Barra.
"Kau sudah menghabiskan lima gelas The Winston Cocktail, Bar!"
"Aku belum puas, cepat pesan kan lagi!" Titah Barra tak ingin di bantah. "Pesan kan yang lain aku bosan dengan rasa ini!"
Ric hanya bisa mendengus pelan, keadaan Barra sudah cukup kacau. "Baiklah hanya segelas--"
"Tiga botol! Bawakan aku tiga!" Potong Barra dengan nada merancau nya.
Memilih mengalah akhirnya Ric beranjak dari posisi nya guna menemui pengantar minuman yang berjaga di depan ruangan itu.
Memesankan minuman yang kadar alkohol nya lebih rendah pada sang pengantar minuman, Ric pun kembali duduk di samping Barra.
"Baru kali ini aku melihat mu sekacau ini, Bar" Celetuk kesal Ric seraya meminum orange jus nya.
Demi menjaga Barra dari godaan para wanita nakal dan beberapa musuh di dalam dunia bisnis yang bisa saja bermain kotor di tempat ini.
Penjagaan di depan pun sangat ketat, Ric tidak akan menimbulkan masalah pada sahabat nya karena mabuk.
"Hah.. Aku sangat ingin meminum alkohol itu, Bar" Keluh Ric.
"Minum lah kawan, aku yang akan membayar nya hahaha"
...****************...