Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Bingung



"Rias istri ku, jangan sampai dia terbangun" Titah tegas Barra dengan suara rendah nya. "Jangan terlalu mencolok tetapi jangan terlalu sederhana!" Lanjut nya.


"Baik Mr., kami mengerti" Sahut seorang wanita yang saat ini berdiri di hadapan Barra.


Melirik sebentar Queen yang masih terlelap dalam tidur nya, Barra pun kembali bersuara. "Bantu istri ku memakai gaun yang sudah aku siap kan"


"Baik Mr."


Setelah nya Barra pun keluar dari kamar mewah itu, Barra menyerahkan sang istri pada beberapa orang wanita di dalam kamar itu.


"Beruntung sekali wanita ini" Gumam seorang wanita yang sedari tadi memandang wajah terlelap Queen.


"Pasti dia sangat di manja dengan Mr.Barra" Sambung wanita di sebelah nya.


"Apa sekarang mulut kalian di gunakan untuk mengutarakan rasa iri?" Tegas wanita yang sebelum nya menyahuti perkataan Barra.


Mendengar suara wanita itu, lantas luapan rasa iri para wanita itu terhenti.


"Bersikap profesional dan lakukan tugas kalian sekarang!"


Beberapa wanita itu pun lantas bergegas membuka kotak-kotak make up yang mereka bawa serta beberapa perlengkapan make up lainnya.


"Perlahan jangan sampai nona terbangun!"


"Baik Ms."


.


.


"Semua nya aman 'kan?"


"Aman tuan, seluruh bawahan sudah saya kerahkan untuk berjaga di setiap sudut aula ini dan yang lain nya berjaga di setiap pintu" Jelas Ric yang saat ini tengah mengikuti langkah Barra.


Terdengar helaan nafas berat keluar dari bibir Barra, bahkan hembusan nafas pria itu terdengar tidak teratur.


"Wanita tua itu akan datang 'bukan?"


"Sudah pasti tuan, keluarga anda juga akan datang jadi tidak mungkin Ibu anda sendiri tidak datang"


Barra menatap tajam Ric. Ingin rasa nya Barra meluapkan amarah nya sekarang juga tetapi Ric tidak salah.


Wanita tua yang ia sebut adalah Arcy-- sang Mommy. Wanita yang melahirkan Barra namun kehadiran nya selalu di benci oleh wanita itu.


"Maaf tuan" Ric menunduk menyesali perkataan nya.


"Huuft.. Sudah lah lebih baik sekarang hilangkan bahasa formal di antara kita, aku butuh seorang teman bukan asisten"


"Lalu bagaimana dengan gaji ku?"


Barra mendelik, menatap kesal Ric. "Berapa tahun kamu bekerja bersama ku, Ric?" Sahut nya kembali bertanya.


Ric menggaruk pelan pipi nya, ia hanya berniat bercanda namun seperti nya Barra sedang sensitif.


"Apa kamu ingin memeriksa yang lain, Bar?" Tawar Ric mengalihkan fokus Barra.


Barra menepuk pelan bahu Ric. "Aku percayakan ini semua pada mu" Ujar nya. "Masih ada waktu tiga jam sebelum para tamu datang, aku butuh istirahat sebentar"


"Baiklah istirahat lah, aku akan mengurus sisa nya sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan"


Barra mengangguk pelan, kemudian berlalu meninggalkan Ric di dalam aula besar yang sudah di hias begitu elegan dan sangat mewah tersebut.


"Kita sudah merencanakan ini sejak Queen pergi ke USA, jadi tidak mungkin aku akan membiarkan semua ini kacau" Gumam Ric menatap punggung Barra.


.


.


.


"Emm.." Queen menerjabkan mata nya, seketika gerakan para wanita yang tengah merias wajah nya terhenti padahal hanya tinggal satu langkah lagi.


"Selamat pagi, nona" Sapa mereka bersamaan begitu melihat Queen dengan tatapan bingung dan mengantuk nya.


"Emm,, kalian..?"


"Kami MUA yang di perintahkan oleh Mr.Barra, nona"


Alis Queen bertaut bingung, perlahan wanita itu bangun dari posisi nya dengan rasa aneh di wajah nya.


Baru saja berniat mengusap wajah nya, tetapi tangan Queen langsung di tahan membuat wanita itu terkejut.


"Astaga ma-maafkan saya nona, tetapi make up nya bisa berantakan"


"Make up? MUA? Sebenarnya ada apa dan untuk apa kak Barra menyuruh kalian merias wajah Queen?"


Queen bingung, benar-benar bingung. Pasal nya pria yang berstatus sebagai suami nya itu, sebelum terlihat begitu marah.


"Kami hanya di perintahkan, nona. Sekarang silahkan nona lihat apakah ini sesuai?" Wanita itu menyodorkan sebuah cermin ke hadapan Queen.


Begitu mata nya menatap cermin seketika Queen kembali memekik kaget. "Astaga siapa itu!" Pekik nya.


Mendengar pekikan itu membuat para keluarga MUA itu ketar-ketir.


"I-ini Queen?" Ucap terbata Queen begitu tersadar dan mengambil alih kaca tersebut.


"Kenapa nona, apa riasan ini tidak memuaskan?" Tanya takut wanita itu.


Queen menggeleng pelan. "Tidak, maksud Queen ini sangat cantik. Bahkan ini bukan seperti wajah Queen!" Heboh nya.


Seketika para MUA itu menghembuskan nafas nya lega mendengar pujian Queen.


"Baiklah jika begitu, ayo kami bantu untuk berganti pakaian nona"


Queen kembali mengernyit bingung. "Ganti pakaian?"


"Maksud kami, mengganti pakaian nona dengan gaun yang sudah di sediakan oleh Mr.Barra"


Mulut Queen menganga, diri nya semakin di buat bingung sebingung-bingung nya. Namun ekspresi bingung itu justru membuat para MUA terkekeh gemas.


"Ternyata dia wanita yang polos dan ceria, aku kira Mr.Barra terpincut oleh seorang wanita jallang" Batin salah satu dari mereka.


"Ayo nona, acara nya akan di mulai sebentar lagi. Jangan sampai nona terlambat dan berakhir kami yang terkena hukuman dari Mr.Barra"


Queen menatap wajah wanita di hadapan nya satu persatu, tidak ada yang mencurigakan atau pun terlihat seperti orang jahat.


Walau pun bingung pada akhirnya Queen bangkit dari kasur, dan itu pun di bantu oleh para wanita itu.


"Queen tidak sakit, kak. Queen bisa bangun sendiri" Rengek pelan Queen saat tubuh nya sudah berdiri begitu tegak.


"Maaf nona, tapi kami hanya menjalankan tugas"


...****************...