Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Part 46



"Kapan kamu mulai kerja lagi?" Tanya Queen pada Barra yang berjalan di belakang nya.


Sudah lebih dari seminggu sejak resepsi pernikahan Barra dan Queen sekaligus pesta ulang tahun wanita mungil itu.


Namun sampai saat ini Barra belum juga kembali bekerja, dan hal ini pun berhasil membuat Queen jengah.


Bukan bosan, tetapi kemana pun Queen melangkah walaupun di dalan kamar, Barra pasti akan mengikuti langkah nya. Termasuk ke kamar mandi!.


"Nanti" Jawab Barra yang terus terlontarkan dari mulut nya ketika Queen menanyakan hal tersebut.


Queen menghentikan langkah nya dan berbalik menatap jengah Barra. "Nanti nya kapan?"


Barra mengangkat kedua bahu nya. " Ga tau"


Astaga, sudah cukup. Queen tidak ingin marah-marah hari ini, wanita itu pun kembali melanjutkan langkah nya menuju dapur.


Membuka kulkas dan mengambil sekaleng soda, baru saja Queen berniat membuka penutup soda tersebut untuk di minum.


Namun dengan cepat tangan panjang Barra merebut nya, tak lupa pria itu melayangkan tatapan tajam nya.


"Astaga ayo lah sekali saja, kepala ku sedang pusing ingin meminum minuman bersoda seperti itu"


"Seperti nya aku harus membuang semua minuman bersoda ini" Ujar dingin Barra.


Sungguh Barra tidak suka melihat Queen merengek demi sekaleng minuman bersoda itu. Apapun akan Barra berikan kecuali sesuatu yang akan mengancam masa depan nya.


"Sedikit saja" Bujuk Queen. "Lagi pula aku tidak dalam kondisi mengandung atau pun--"


"Kamu sedang dalam program hamil, honey!" Potong tegas Barra.


"Aku tidak ikut program itu, sayang.." Jengah Queen lagi dan lagi.


Barra mendengus. "Anggap saja kamu sedang ikut program itu!" Cetus Barra.


Oke, Queen menyerah meladeni Barra. Kini wanita itu berganti kotak jus di dalam kulkas besar itu lalu langsung meneguk nya begitu saja.


Bersendawa pelan, lalu Queen menyerahkan kotak jus itu pada Barra. "Puas?!" Tanya nya kesal.


Barra tersenyum tipis lalu mengangguk. "Aku suka istri penurut" Ucap nya dengan nada bangga.


Lagi-lagi Queen memutar malas bola mata nya, sebelum akhirnya wanita itu berjalan meninggalkan dapur.


Tentu nya dengan cepat Barra mengikuti nya, mengikuti langkah kecil itu menuju ruang bersantai.


"Kapan aku masuk kuliah?" Tanya Queen yang baru saja mendudukkan diri nya di sofa lalu di iringi Barra di sebelah nya.


"Tanggal delapan"


"What?!" Kaget Queen memekik cukup keras.


"Lusa dong?" Barra mengangguk sebagai jawaban. "Astaga kenapa ga bilang dari awal!!" Lanjut kesal Queen.


"Lho kamu nya ga nanya, dan aku pikir kamu udah tau"


Queen mengacak kesal rambut nya, lantas wanita itu menghempaskan punggung nya ke sandaran sofa cukup keras.


"Aku ga tau, dan jadwal masuk di sini lebih cepat dari pada di USA"


Melihat wajah frustasi dan kesal Queen membuat Barra langsung menarik tubuh itu agar bersandar di tubuh nya.


Memberikan usapan pada surai dan punggung Queen bermaksud menenangkan wanita itu.


"Kamu tenang aja, semua nya sudah beres dan perlengkapan kamu juga udah ada di ruang kerja aku"


"Tapi--"


"Stt, kamu ga boleh mikirin apapun. Kamu harus fokus pada kesehatan dan jangan membebani pikiran dengan hal tidak penting. 'karena jika kamu terlalu stres atau sakit, anak kita akan lama tumbuh nya" Potong Barra yang tak berani mengutarakan kalimat terakhir nya.


"Gimana cerita nya? Semua manusia normal pasti mikirin sesuatu dong, kecuali jika aku gila" Sahut ketus Queen.


Tak!.


Barra langsung menghadiahkan sentilan padan kening sang istri saat mendengar sahutan itu.


"Aku bilang jangan mikirin hal yang ga penting, honey" Ulang gemas Barra. "Dan apapun yang membebani pikiran kamu, intinya harus cerita pada ku!"


"Baiklah baginda raja.." Sahut dramatis Queen yang tak ingin melanjutkan perdebatan kecil ini.


Baiklah, sahutan barusan membuat Barra semakin gemas dengan tingkah Queen. Lantas pria itu melayangkan kecupan basah nya yang begitu lama pada pipi Queen.


Tak segan-segan, pria itu juga mengh*sap pipi Queen hingga meninggalkan jejak merah seperti memakai blush on.


"Ih Barra!!!" Erang kesal Queen.


Barra menerjab pelan, apa ia tidak salah dengar? Baru kali ini ia mendengar Queen menyebut nama nya dan kenapa itu terdengar begitu menggemaskan?!.


"Astaga aku benar-benar seperti remaja yang sedang di mabuk cinta!" Batin Barra yang kembali melayangkan kecupan di wajah Queen.


Di saat sepasang pasutri itu tengah sibuk bercanda, namun lain hal nya di depan sana lebih tepat nya di pintu utama.


Seorang pria paruh baya baru saja menginjakkan kaki nya di teras luas dan mewah rumah itu, bahkan pria paruh baya itu menatap pintu besar di hadapan nya dengan penuh binar.


"Uang, aku datang.."


...****************...