Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Part 56



Panti asuhan, tempat itulah yang di tuju oleh sepasang pasutri Barra dan Queen. Dimana kedua nya saat ini tengah berdiri di depan gedung tersebut.


Setelah memikirkan segala hal termasuk kesiapan kedua nya, pada akhirnya mereka membulatkan keputusan nya untuk mengasuh seorang anak di panti asuhan.


Menatap anak-anak di pekarangan itu yang tengah bermain di sore hari. Tertawa, bercanda, dan ada juga yang menangis karena kalah bermain.


Dan hal itu pun berhasil membuat senyum terukir di bibir kedua nya, sampai saat mata Barra menangkap sosok anak laki-laki yang terdiam di kursi pekarangan itu.


"Honey.." Bisik Barra menyadarkan Queen dari keindahan di depan mata nya.


Queen menoleh dan mendongakkan kepala nya guna menatap Barra yang ternyata tengah fokus menatap sesuatu.


Lantas Queen pun mengikuti arah pandangan Barra di mata tatapan nya terkunci pada sosok anak laki-laki yang tengah menundukkan kepala nya.


"Ada apa dengan nya?"


Barra mengalihkan pandangan nya ke arah Queen. Kedua nya saling bertatapan seolah berbicara lewat tatapan itu.


Sampai akhirnya kini kedua nya sudah berdiri di hadapan anak laki-laki itu membuat sang pemilik tubuh kecil itu mengangkat pandangan nya.


Deg!.


"Tatapan ini.." Batin Barra melihat tatapan putus asa dari anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun.


"Hai.." Sapa Queen yang sudah berjongkok, menyamakan posisi nya dengan anak itu.


Anak laki-laki itu hanya diam tak menyahut, mata yang tadi nya menatap Barra kini berpindah menatap Queen.


"Nama kamu siapa?" Tanya Queen lagi.


Barra pun ikut berjongkok di sebelah sang istri dengan mata yang terus menatap anak itu.


Pipi nya terlihat cukup gembul, mata nya sipit namun jelas menampakkan sinar indah nya dan jangan lupakan hidung mancung itu.


"Selamat sore.." Sapa seseorang di belakang Barra dan Queen hingga membuat kedua nya sontak menoleh.


Wanita paruh baya yang di sanggul itu tersenyum kala Barra dan Queen menatap nya. Pasutri itu pun kembali berdiri.


"Ada yang bisa saya bantu tuan, nyonya?" Tanya nya ramah.


Queen dan Barra saling bertatapan selama beberapa saat sampai akhirnya mata kedua nya pun berpindah pada anak laki-laki itu.


*


"Nama nya Ragiel Desta Arival, dia baru tinggal di panti ini beberapa bulan lalu setelah kecelakaan kedua orang tua nya"


"Seorang pria bernama Ari yang mengirim Ragiel ke sini dengan kondisi mental yang cukup kacau saat itu untuk anak seusia nya"


"Tapi beruntung nya Ragiel mudah untuk di ajak terapi hingga akhirnya ia benar-benar sembuh tetapi sayang nya dia kehilangan keceriaan nya"


Barra dan Queen mendengarkan begitu serius penjelasan ibu panti di depan nya ini tentang anak laki-laki di bangku pekarangan tadi.


"Tidak perlu, saya ingin mengangkat Ragiel sebagai anak saya" Jawab cepat Barra yang langsung di angguki oleh Queen.


Queen pun sama seperti Barra, seakan tersihir dengan anak laki-laki itu padahal banyak di luar sana yang terlihat lebih ceria dan tentu nya menggemaskan.


"Apa tuan dan nyonya sudah yakin?" Tanya ibu panti sedikit ragu.


Pasalnya sudah ada beberapa orang tua yang datang ke sini dan berniat mengangkat Ragiel sebagai anak nya.


Tetapi begitu mendengar bahwa mental Ragiel sempat terganggu mereka langsung membatalkan nya dan memilih anak lain.


"Prosedur apa saja yang harus saya persiapkan untuk mengangkat Ragiel sebagai anak saya?" Tanya Barra penuh keyakinan.


*


Setelah menyelesaikan beberapa prosedur serta uji kelayakan orang tua angkat sesuai peraturan. Hari itu juga Barra dan Queen menyelesaikan semua nya hingga bulan menampakkan diri nya.


"Ragiel.." Panggil ibu panti pada anak laki-laki yang kini duduk di pangkuan nya.


Ragiel pun mengangkat pandangan nya menatap sang ibu panti.


"Mulai sekarang Ragiel akan mempunyai orang tua baru, bagaimana senang 'tidak?"


Ragiel beralih menatap Barra dan Queen secara bergantian, tangan mungil nya terangkat dan menunjuk kedua nya.


"Papa? Mama?" Dua kata seperti pertanyaan itu keluar dari bibir mungil yang sejak awal merapat.


Barra dan Queen sontak mengangguk. Barra pun merentangkan kedua tangan nya mengode agar Ragiel mendekat dan memeluk nya.


"Ayo sana, mulai sekarang mereka orang tua Ragiel"


"Papa, Mama" Gumam Ragiel lagi.


Bocah laki-laki berusia tiga tahun itu turun dari pangkuan ibu panti dan berjalan mendekati sepasang pasutri yang tengah mengembangkan senyum nya itu.


"Papa, Mama"


Barra mengangkat tubuh mungil itu kepangkuan nya dan menciumi gemas pipi gembul itu.


"Panggil aku, Daddy" Pinta lembut Barra menatap mata polos penuh binar itu.


"Daddy?"


Barra mengangguk. "Dan Mommy" Lanjut nya membawa bahu Queen agar semakin mendekat.


"Halo jagoan" Sapa Queen tersenyum begitu bahagia.


"Mommy.."


...****************...