
Hari yang di nanti-nanti telah tiba, dimana semua proses kerja keras para mahasiswa selama kurang lebih empat tahun telah terbayarkan hari ini.
Bergelar sarjana dan mengenakan topi boga sebagai suatu kebanggaan atas diri sendiri. Segala sesi formal telah di lewatkan kini tinggalan sesi berbahagia.
Dimana momen tersebut selalu diabadikan dengan jepretan kamera pribadi masing-masing mahasiswa, seperti salah satu nya..
Cekrek~
"Benar-benar keluarga bahagia" Puji Barri melihat hasil fotonya.
Ya, pria itu baru saja mengambil foto keluarga kecil Barra. Dimana pria itu menggendong Marvin dengan sebelah tangan yang merengkuh pinggang Queen.
Sedangkan Queen, tentu nya wanita itu ikut memeluk pinggang Barra dengan sebelah tangan nya dan sebelah lagi ia gunakan untuk memegang buket bunga yang begitu besar.
"Gantian, aku juga ingin berfoto dengan kakak ipar ku" Ujar Barri yang langsung menyerahkan kamera pada fotografer.
"Bisa kah kau minggir dulu, kak?" Pinta Barri.
"Tidak--"
"Ayo lah, ini momen bahagia jangan merusak nya" Ujar lembut Queen di iringi senyuman nya.
Ah, rasa nya Barra ingin mengurung Queen sekarang juga. Wajah wanita itu begitu cantik dengan balutan make up simpel nya.
"Berikan Marvin pada ku" Pinta Barri pada Barra.
"Untuk apa?"
"Aku juga ingin menggendong nya dan--"
"Enak saja, sana hanya satu kali!" Putus tak senang Barra.
Queen terkekeh saat melihat suami nya yang begitu posesif pada Marvin. Bahkan sebelum tangan Barri menyentuh putra nya langsung di tepis oleh Barra.
"Haish sudah lah cepat, kapan kita foto bersama nya?" Gerutu kesal Anton.
Pasal nya rambut mengkilap milik pria paruh baya itu perlahan berantakan karena terpaan angin yang cukup sejuk ini.
Di tambah mereka sudah datang bahkan sebelum acara di mulai, ya mereka begitu antusias!.
Cekrek~
Cekrek~
Cekrek~
...----------------...
"Apa yang kamu tertawa kan, hm?" Tanya Barra mengusap surai Queen.
Wanita di samping nya Barra itu telah melepaskan segala hiasan di kepala nya dan juga menghapus make up nya. Walau pun wajah tanpa make up, Barra masih saja tergila-gila menatap wajah itu.
"Ini lho foto yang tadi" Ujar Queen menunjukkan foto tersebut.
Terlihat wajah kesal Barra dan wajah meledek Barri di kamera itu karena sebelumnya kedua pria itu berebut posisi.
Belum lagi Anton yang sibuk menahan rambut nya karena ia lupa menyemprotkan hairspray hingga rambut nya itu mudah sekali di terjang angin.
Tanpa sadar Barra pun ikut tertawa, namun tawanya langsung berhenti begitu merasakan pergerakan Marvin di pelukan nya.
Queen beralih, menaruh handphone nya dan mengusap pipi gembul milik putra nya perlahan.
"Perasaan dari sejak acara di mulai dia terus di gendong, kenapa sekarang keliatan lelah sekali?"
"Apa Kamu lupa pas sesi foto tadi aku melepaskan dia dari gendongan ku dan dia malah berlari-lari. Untung saja tidak ada kendaraan yang lewat"
Queen menepuk kening nya pelan. "Oh iya, aku lupa"
"Hiss dasar pelupa!" Gemas Barra mencubit hidung Queen.
"Hah.." Queen menghela napas nya begitu panjang lalu memeluk lengan Barra dengan mata yang menatap ke arah jalanan yang di lalui.
"Mau hadiah apa?" Tanya Barra.
Queen langsung menggeleng dan kembali menatap wajah tegas itu.
"Aku tidak mau hadiah apa-apa. Yang aku butuh cuma kamu dan Marvin, kalian harus tetap bersama ku"
Cup!.
Barra melayangkan kecupan nya begitu saja pada kening Queen membuat wanita itu memejamkan mata nya sesaat.
Sopir di depan sana hanya menjadi saksi bisu dari keromantisan sepasang pasutri ini di dalam mobil itu.
"Untuk hal itu tidak perlu di minta pun aku akan selalu di samping mu, begitu pun dengan Marvin"
"Aku harap begitu"
Barra mendelik kesal mendapat sahutan seperti itu. "Apa maksud dari perkataan itu?"
"Aku hanya takut kamu mengabaikan Marvin begitu anak kita lahir seperti beberapa waktu lalu sejak aku di nyatakan hamil"
Barra mengangkat sebelah tangan nya lalu membawa tubuh Queen agar bersandar di tubuh nya.
"Kamu masih meragukan aku?"
"Bukan begitu, hanya saja aku takut dan ingat sejak awal Marvin adalah keinginan mu" Peringat Queen memeluk pinggang Barra dan tubuh Marvin yang berada di pelukan suami nya itu.
"Aku sudah minta maaf soal hal itu honey, aku hanya terlalu takut kamu atau pun calon anak kita kenapa-napa" Bisik lirih Barra. "Kamu ingat 'bukan, mendapatkan dia bukan lah hal yang mudah"
Queen yang mendengar ucapan Barra pun lantas menatap perut nya yang masih rata itu.
"Aku tidak mau kamu memikirkan apapun yang membebani pikiran mu, mulai sekarang kamu hanya boleh fokus pada kehamilan mu. Oke!" Ucap Barra yang terdengar seperti perintah.
Queen hanya mengangguk dan memejamkan mata nya di pelukan Barra. Hari ini cukup melelahkan bagi nya.
Cup.
Barra kembali mengecup surai Queen. "Istirahat lah.."
"Terima kasih untuk hari ini, suami ku.." Gumam Queen yang membuat senyum manis terukir di wajah Barra.
"Sama-sama istri ku"
...****************...