
"Aduh Bi, Queen gugup banget.."
Queen terus menggenggam jari-jari nya yang saling bertautan menatap jalanan di samping nya dan sesekali menatap Bi Dazy di sebelah nya.
"Tenang non, mereka tidak mengigit kok" Canda Bi Dazy mencoba mencairkan rasa gugup Queen.
Saat ini kedua wanita dengan satu sopir di dalam mobil itu tengah menuju ke Universitas Johns Hopkins dimana Queen akan menuntut ilmu di sana.
Queen tentu nya gugup, walaupun ia lancar dalam berbahasa inggris. Namun tetap saja ia gugup karena sudah sangat lama Queen tidak bersosialisasi dengan orang-orang sekitar.
"Mereka jahat gak 'ya, Bi?" Tanya Queen menatap nanar wajah Bi Dazy.
"Non.." Bi Dazy menggenggam kedua tangan Queen yang saling bertautan itu dengan tatapan lembut nya. "Tidak ada yang tidak jahat di dunia ini, tapi nona harus bisa melawan mereka dan ingat di sini ada Bibi"
Mata Queen berkaca-kaca mendengar perkataan Bi Dazy, seketika Queen mengingat almarhumah sang Mama dimana saat itu Mama nya berkata seperti ini juga saat Queen bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti sekarang.
"Queen boleh peluk Bibi?" Tanya Queen dengan bibir bergetar.
Bi Dazy pun mengangguk lalu merentangkan tangan nya, dengan cepat Queen masuk ke dalam pelukan wanita paruh baya bersanggul itu.
"Mulai sekarang Bibi jangan panggil Queen dengan sebutan Nona lagi ya?" Pinta Queen yang masih berada di dalam pelukan Bi Dazy.
"Tapi--"
"Pokok nya Queen mau Bi Dazy panggil Queen dengan nama, bukan nona!" Paksa Queen mengurai pelukan nya dan memasang wajah galak nya.
Sesaat Bi Dazy terlihat seperti berfikir karena ia harus mendapatkan izin dari Barra walaupun hanya sekedar panggilan ini.
"Bi.. Mau ya?" Bujuk Queen.
"Emm, baiklah" Jawab Bi Dazy pada akhirnya, wanita itu akan menghubungi sang tuan untuk meminta izin nanti.
"Yeay!" Pekik riang Queen kembali memeluk Bi Dazy. "Dan mulai sekarang Queen akan memanggil Bibi dengan sebutan ibu, boleh?"
"Apa tidak terlalu..?" Bi Dazy tidak melanjutkan perkataan nya karena sejujurnya ia pun sangat senang jika Queen akan memanggil nya seperti itu hanya saja Bi Dazy ingat akan posisi nya.
Queen kembali melepaskan pelukan nya dan bergantian menggenggam tangan wanita itu. "Ibu.." Panggil Queen dengan senyum manis nya.
Mendengar panggilan itu sontak senyum hangat langsung terukir di bibir Bi Dazy. "Queen.." Sahut nya.
Sesaat suasana hangat menyelimuti mereka hingga membuat Queen lupa dengan rasa gugup nya. Sampai akhirnya di depan sana sang sopir mengeluarkan suara nya.
"Kita akan segera sampai, nona"
Deg!
Mata Queen langsung beralih menatap ke depan sana, dan benar saja gedung Universitas itu sudah terlihat. Gedung yang sempat ia lihat foto nya melalui salah satu laman.
"Ayo semangat, Queen pasti bisa dan Ibu tau Queen anak yang pintar" Ujar Bi Dazy penuh semangat.
Queen mengangguk mantap dan menarik napas nya begitu dalam. "Oke, Queen pasti bisa!" Semangat nya pada diri sendiri.
Mobil pun telah berhenti tepat di samping gerbang menjulang gedung Universitas tersebut. Dengan jantung yang berdebar begitu cepat Queen pun mulai menyampirkan tas nya di bahu nya dan memeluk beberapa buku tebal di tangan nya.
"Bi--Ibu hanya bisa antarkan Queen sampai di ruang dekan dan setelah itu Queen akan ke kelas sendiri, oke?" Ujar Bi Dazy yang langsung mendapat anggukan dari Queen.
"Setelah jam kuliah selesai Ibu akan menjemput Queen di sini juga" Lanjut nya yang masih terbata-bata karena belum terbiasa dengan panggilan untuk diri nya sendiri.
Queen mengangguk dan terus meyakinkan dirinya hingga pintu mobil di sebelah nya di buka oleh sang sopir.
"Silahkan nona"
Queen turun dari mobil lalu tersenyum kaku ke arah pria paruh baya yang menjadi sopir nya. "Terimakasih pak"
Setelah selesai dengan basa-basi dan ucapan penyemangat nya, kini Queen mulai melangkah memasuki Universitas tersebut tentu nya bersama Bi Dazy yang akan menemani nya ke ruang dekan universitas itu.
"Nanti Ibu akan bertanya dimana ruang dekan nya, soal nya Ibu juga tidak tau dimana ruangan itu" Jelas Bi Dazy di sela langkah kedua nya.
"Qu-queen ingin mencoba bertanya" Ujar gugup Queen yang mengajukan diri nya untuk bertanya.
"Serius Queen mau bertanya? Jika tidak biar Ibu saja"
Queen menggeleng, keputusan nya sudah bulat. Hingga kini akhirnya langkah Queen terhenti tepat di salah satu kumpulan para wanita yang terlihat dari kalangan atas.
"Emm.. Excuse me" Sapa Queen dengan tangan yang meremat buku-buku tebal nya.
Kumpulan wanita itu pun menoleh ke arah Queen, namun tatapan mereka terlihat begitu merendahkan hingga salah satu dari mereka menjawab sapaan Queen.
"Kami sibuk, jangan menganggu!" Sinis nya dengan nada ketus.
Queen yang awalnya sudah sangat percaya diri, namun kini rasa percaya diri itu langsung runtuh dan kepala nya langsung menunduk.
"Baiklah, maafkan aku karena menganggu kalian"
Setelah mengucapkan itu Queen langsung berlalu bahkan melupakan kehadiran Bi Dazy di sebelah nya.
Sejenak Bi Dazy menatap para wanita itu sebelum akhirnya wanita paruh baya yang tidak terlalu tua itu mendecih. "Kalian akan terima akibat nya!"
Setelah mengucapkan itu Bi Dazy berbalik menyusul langkah Queen yang hampir saja kehilangan jejak nya.
Brugh!
"Aww.." Queen meringis kala tubuh nya tak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Bahkan buku nya berserakan di lantai.
"Oh my gosh, I'm sorry" Seru seseorang yang bertabrakan dengan Queen.
"Tidak apa" Sahut Queen yang langsung berjongkok memunguti buku nya..
Namun seseorang itu tidak diam saja, ia juga ikut berjongkok dan membantu Queen memunguti buku nya.
"Terimakasih" Ujar Queen begitu buku nya terkumpul dan kedua nya kembali berdiri.
"Sama-sama dan sekali lagi maafkan aku"
Queen yang awal nya tidak tertarik dan sedikit takut dengan seseorang di depan nya, seketika saja Queen mengangkat pandangan nya menatap wajah seseorang itu.
"Ti-tidak apa" Sahut Queen yang kembali menundukkan kepala nya saat melihat wajah tegas nan mendominasi milik pria yang tidak sengaja ia tabrak. "Qu-queen yang seharusnya meminta maaf"
"Sangat cantik" Gumam pria itu yang dapat di dengar oleh Queen.
"Nona!" Bi Dazy berjalan cukup cepat hingga akhirnya kini ia berdiri di samping Queen dan memegang bahu wanita muda itu.
"Nona tidak apa-apa? Ada yang sakit?" Tanya panik Bi Dazy yang sempat melihat tubuh Queen terhuyung.
"Ibu.." Panggil pelan Queen mengingatkan Bi Dazy.
"Astaga iya maafkan Ibu, sekarang bagaimana kondisi Queen?"
"Queen tidak apa-apa" Sahut Queen tersenyum tipis melihat raut khawatir Bi Dazy.
Terdengar helaan napas lega Bi Dazy begitu mendengar jawaban Queen, namun tak lama kemudian mata nya tertuju pada pria yang bertabrakan dengan Queen.
...****************...