Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Terlalu merindukan mu



Suara gemercik air yang berasal dari kamar mandi, dan sorotan sinar matahari yang menembus lewat sela gorden membangunkan Queen dari tidur nya.


Sesaat wanita mencoba membuka kelopak mata nya yang terasa menempel seraya memijit pelan kening nya yang terasa pusing.


"Jam berapa ini?" Gumam nya dengan suara serak.


Menoleh ke arah jam dinding, lantas mata Queen langsung teralih pada pintu kamar mandi yang terbuka.


Barra keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang nya dan jangan lupakan beberapa tetes air yang mengalir di tubuh nya.


"Kapan bangun nya?" Tanya Barra yang baru saja duduk di tepi kasur. Lebih tepat nya di sisa kasur yang ada di sebelah Queen.


"Queen baru bangun kok"


Mendengar sahutan Queen dengan suara serak nya membuat senyum menghiasi wajah setengaj basah Barra.


"Sudah ayo tidur lagi masih jam tujuh pagi" Barra pun berbaring dan mendekap tubuh Queen.


Queen hanya diam, tidak menggerakkan tubuh nya yang terasa remuk dan nyeri di bagian inti nya.


"Mau ulangi yang semalam?" Tawar Barra seraya mengusap punggung polos Queen.


"Jangan gila kak!" Sentak kesal Queen.


Bagaimana tidak kesal jika pria itu malah menawarkan sesuatu yang baru di hentikan pukul empat dini hari.


Berhenti hanya untuk minum kemudian Barra kembali menerkam nya begitu buas, Barra terlihat sangat haus akan rasa itu.


"Yasudah ayo tidur lagi" Kekeh Barra menekan kepala sang istri pada dada bidang nya.


"Aku mau mandi kak" Ujar Queen memundurkan paksa kepala nya agar menjauhi dada yang terdapat beberapa bercak merah akibat ulah nya semalam.


"Sarapan dulu?"


Queen menggeleng. "Kenyang kak"


"Kenyang? Makan apa?"


Queen kembali menggeleng, ia pun tidak tau kenapa perut nya terasa begitu begah seakan baru saja menghabiskan segalon air.


Tangan Barra yang awal nya berada di punggung Queen Kini bergerak ke arah perut wanita itu. Di tekan nya pelan perut itu membuat Queen meringis.


"Oh shiit! Apa dia kenyang karena calon anak-anak ku?" Batin mengumpat Barra.


Pria itu ingat dengan jelas bahwa selama permainan ia tidak membiarkan sedikit pun calon anak-anak nya keluar dari tempat yang seharusnya.


Jika awal pertama melakukan nya Barra dengan berat hati mengeluarkan nya di luar, namun berbeda dengan tadi malam.


"Coba terlentang" Pinta Barra seraya bangun dari posisi nya.


Queen yang bingung pun hanya menurut dan memperhatikan pergerakan Barra yang mengambil minyak angin di dalam laci di sebelah nya, lantas berpindah ke sisi kasur yang lebih luas.


"Kak!" Pekik kaget Queen begitu Barra menyingkap selimut yang membalut tubuh nya. "Balikin selimut nya!!"


"Sutt diam lah" Desis pelan Barra.


Tanpa mendengarkan kekesalan Queen, Barra pun mulai menuang minyak angin ke tangan nya lalu di usapkan lembut ke perut Queen.


Dan hal itu pun membuat ocehan Queen terhenti, berganti menjadi rasa nyaman pada perut nya yang semula sangat tidak nyaman.


"Maaf aku terlalu merindukan mu hingga lupa dengan kondisi mu" Ujar Barra di sela usapan nya.


Mata Queen terus menatap wajah Barra yang sedari tadi terus menatap perut nya. Jika awal nya Queen ingin marah.


Tetapi langsung ia urungkan karena mau bagaimana pun ini sudah kewajiban nya, dan selama ia berasa di USA Queen meninggalkan kewajiban nya terhadap Barra.


"Sudah kak.."


Barra menghela napas panjang nya, lalu berbaring dan memeluk perut yang masih rata itu.


"Mulai semester depan aku akan mengurus mutasi mahasiswa kamu ke universitas yang ada di sini. Aku tidak bisa jauh dari mu lagi"


Sesaat Queen terdiam. Memang lebih baik seperti ini bukan? Selain ia bisa mengurus Barra yang sempat beberapa kali sakit saat kedua nya berjauhan.


Queen juga bisa lebih tenang, karena mau bagaimana pun di sini adalah tanah kelahiran nya.


"Baiklah terserah kak Barra saja"


Barra langsung mengangkat kepala nya menatap wajah Queen dari bawah. "Bisa ganti panggilan nya? Aku seperti kakak mu saja" Dengus nya pelan.


Queen terkekeh pelan. "Lalu Queen harus memanggil apa? Bukan kah sebelum nya kak Barra tidak keberatan?"


"Sekarang aku keberatan!" Sahut nya cepat. "Mulai sekarang panggil aku, sayang atau suami ku!" Tekan nya penuh perintah.


Mata Queen membulat sempurna, ia tidak bisa menyebut kata yang terdengar menggelitik telinga nya.


"Kak--"


"Pilihan mu hanya dua, panggil aku sayang atau suami ku!"


"Tidak ada pilihan lain kah?"


Barra menggeleng cepat, ia sangat ingin mendengar istri nya memanggil diri nya dengan sebutan tersebut.


"Tapi bukan lah itu agak, emm.." Queen tidak meneruskan perkataan nya.


"Kenapa? Kamu malu?"


"Ih bukan kak, tapi jika Queen memanggil kak Barra dengan sebutan seperti itu di depan orang. Bukan kah terdengar agak emm.." Lagi-lagi Queen tidak meneruskan perkataan nya.


"Inti nya hanya itu pilihan mu, tidak ada negosiasi lagi!" Putus Barra tak ingin di bantah dan kembali menyamakan posisi wajah nya dengan perut Queen.


...****************...