
"Sudah cukup,, huhh..." Ucap terengah Queen seraya menahan dada Barra.
"Sekali lagi, baby.." Sahut Barra seraya kembali mengecupi rahang Queen.
Queen menahan gerakan bibir Barra dengan kepala yang menggeleng, ia benar-benar tidak sanggup lagi meladeni kebuasan Barra di atas kasur yang sudah berantakan ini.
"Baby.." Rengek pelan Barra yang saat ini menatap wajah lelah Queen penuh harap. "Baru tiga ronde lho, aku mau nya sepuluh. Tapi kalau kamu ga sanggup minimal lima ronde deh"
Mata Queen yang awal nya terpejam dan hendak masuk ke dalam dunia mimpi nya, seketika langsung terbuka lebar.
"Kamu gila?!" Sentak kesal Queen.
Barra beringsut takut, pria itu menyembunyikan wajah nya di sela leher Queen. "Biar anak kita cepat jadi.." Cicit nya.
Queen yang geram pun lantas mencubit lengan keras Barra yang ternyata membuat pria itu mengaduh kesakitan di sela leher nya.
"Lihat sekarang jam berapa, dan sudah berapa lama kamu menggagahi ku tanpa henti! Bahkan kita belum makan siang!" Omel kesal Queen.
Barra yang mendengar omelan tersebut lantas sedikit mengangkat kepala nya dan melirik ke arah jam di dinding sana.
"Ja-jam enam.." Gumam Barra yang susah menelan salivanya sendiri.
"Dari jam satu siang sampai sekarang jam enam sore, berapa lama hah?!"
"Li-lima jam.." Jawab takut Barra. "Tapi kan baru tiga ronde.." Lanjut nya.
Queen meraung kesal, tiga ronde itu memakan waktu selama lima jam dan ini semua karena Barra yang terus menahan pel*pasan nya!.
"Jadi kalau di lanjutin sampai lima ronde butuh waktu berapa lama? Lalu kapan aku makan? Apa harus menunggu aku pingsan?"
Barra mengangkat kepala nya dan menggeleng begitu cepat. Wajah nya terlihat begitu menyedihkan.
"Ya-yaudah makan dulu, nanti habis makan lanjut lagi ya?"
Mata Queen membola semakin bulat, boleh kah ia mencabik-cabik wajah dengan ekspresi menyebalkan ini?.
Sungguh ia menyesal telah bertindak seperti tadi siang karena pada akhirnya ia lah yang jatuh ke dalam kungkungan Barra.
"Oke!" Sahut Queen begitu tegas.
Satu kata itu pun berhasil membuat senyum lebar menghiasi wajah menyedihkan Barra. Pria itu kembali bersemangat sebelum akhir nya..
"Tapi kita tidak jadi honeymoon!" Lanjut Queen dengan seringai tipis nya.
Bibir Barra terbuka berniat membantah perkataan Queen, tetapi wanita itu kembali mengeluarkan suara nya dengan cepat.
"Tidak ada beda nya honeymoon atau pun di rumah. Kita sama-sama akan berakhir di kasur 'bukan?"
Mata Barra menerjab pelan mendengar perkataan Queen. Istri nya ini benar-benar sudah berubah, bukan seperti Queen yang sebelum nya!.
Queen mendengus pelan, ia harus memutar otak nya agar rencana honeymoon nya gagal. Sungguh ia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti nya kebuasan Barra, pasti akan lebih dari ini.
"Ah sudah lah, lebih baik kita hentikan dari pada honeymoon kita gagal" Pasrah Barra yang hendak menarik tubuh nya dari Queen.
Namun dengan cepat Queen melingkarkan kaki nya pada pinggang Barra dan hal itu tentu membuat penyatuan mereka semakin menyatu begitu dalam.
"Queen.." Desah berat Barra dengan tangan yang meremat seprai menahan hasrat nya.
"Bagaimana honeymoon nya di ganti dengan baby moon saja?"
Barra masih memejamkan mata nya begitu erat, namun telinga nya mendengar begitu jelas tawaran Queen.
"Sejak kapan istri ku pintar menawar-nawar hal seperti ini?"
Queen mengigit bibir nya saat merasakan denyutan yang datang itu. "A-ayo lah, lagi pula aku harus menyiapkan keperluan ku untuk melanjutkan kuliah di sini"
"Bawahan ku sudah menyiapkan semua nya, kamu hanya perlu datang dan belajar"
"Tapi kamu juga kan harus kerja" Sahut Queen tak mau kalah.
"Aku bos nya, jadi aku bebas mau masuk kapan aja"
"Aahh..!!" Desah kaget Queen saat Barra kembali menghentakkan pinggull nya. "Berhenti ih..!!" Kesal nya.
Barra pun menghentikan gerakan nya dan mengunci tatapan Queen dengan penuh damba nya.
"Berhenti bernegosiasi dengan ku, karena keputusan ku sudah bulat!" Ucap berat Barra.
"Ayolah, lagi pula honeymoon dan baby moon sama saja" Bujuk Queen lagi dengan tatapan memelas nya.
"Beda, baby.." Barra menghela berat napas nya sebelum akhirnya mengusap pipi chubby sang istri.
"Kalau honeymoon kita menciptakan bayi nya. Sedangkan baby moon itu kegiatan bermesraan sebelum bayi kita lahir atau pun sesudah dia lahir, anggap saja baby moon itu sebagai refreshing setelah kita fokus pada kehamilan kamu nanti" Jelas panjang Barra.
Ekspresi memelas Queen semakin menjadi, tatapan penuh bujukan dan rayuan itu membuat Barra terdiam.
"Baby moon saja ya? Aku sedang tidak ingin kemana-mana, sayang.." Bujuk Queen lagi.
Barra menghela napas nya berat sebelum akhirnya pria itu mengangguk.
"Yeayy!! Terima kasih suami ku!" Pekik senang Queen yang langsung memeluk leher Barra.
"Tapi jangan pernah tolak keinginan aku" Ujar dingin Barra yang membuat suasana kamar seketika menjadi mencengkram.
...****************...