Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Menjauh



"Ayo lah Queen, ikut kami ya?" Bujuk seorang wanita bernama Gabriel yang saat ini tengah mengelayuti lengan Queen.


"Tidak bisa Gab, aku tidak bisa ke sana" Tolak Queen terus menerus dengan nada lembut nya.


"Hari terakhir lho Queen, setelah ini kita tidak akan bertemu. Jadi mau ya?"


Queen terkekeh pelan dan menatap wajah penuh permohonan gadis berambut ikal dengan warna pirang nya. "Kita akan bertemu lagi setelah libur semester, Gab"


Gabriel mendengus pelan dengan kedua tangan yang melipat di depan dada. "Kita baru selesai ujian lho, masa kamu gak ada niat untuk party bersama kami"


Memang benar, hari ini adalah hari terakhir mereka melaksanakan ujian akhir semester. Dimana saat ini Queen tengah membereskan segala buku-buku milik nya untuk di bawa pulang ke apartemen dan Gabriel?


Wanita itu terus membujuk Queen karena kelas mereka akan mengadakan party di sebuah night club yang cukup hits dikawasan tersebut.


Lagi-lagi kepala Queen menggeleng, lantas wanita itu bangun dari posisi nya dengan tas dan tangan yang di penuhi buku-buku tebal nya. "Aku belum izin pada suami ku, Gab"


"Ck, tidak apa-apa hanya sekali. Lagi pula suami mu tidak akan tau"


"Dia akan tetap tau, Gab" Queen berlalu, berjalan mendahului Gabriel yang terus mengikuti langkah nya.


Mereka memang tau Queen sudah memiliki suami, tetapi mereka tidak tau siapa suami Queen yang sebenarnya.


"Queen.."


Sang pemilik nama menghentikan nama nya begitu seseorang dari samping memanggil nama nya. Queen menoleh mendapati sosok pria yang beberapa hari ini ia jauhi.


"Huu, untuk kamu datang Max. Ayo bantu aku membujuk wanita keras kepala ini!" Gemas Gabriel dengan nada penuh sindiran nya.


"Kamu tidak ikut?" Tanya Max dengan tatapan teduh nya.


Queen menggeleng. "Aku belum minta izin" Ujar nya.


"Izin, izin dan izin. Seposesif itu kah suami mu hingga apa-apa harus meminta izin?" Gerutu kesal Gabriel. "Lagi pula ini hanya sekali, semester depan kita mungkin tidak akan sekelas lagi!" Lanjut nya.


Queen tersenyum menanggapi gerutuan wanita di hadapan nya. "Aku pulang duluan" Pamit nya seraya hendak melangkah.


Tetapi langkah nya kembali tertahan begitu Max menggenggam lengan nya. Selama beberapa saat kedua nya saling terdiam hingga Gabriel kembali bersuara.


"Aku percayakan pada mu Max, inti nya kamu harus bisa membawa Queen ke party nanti malam!" Tegas Gabriel, setelah nya wanita itu berlalu meninggalkan kedua nya.


"Maaf Max" Queen menghempaskan pelan tangan Max.


"Ah tidak, maafkan aku" Ujar Max terperengah. "Emm.. Bisa kita bicara sebentar?"


"Maaf Max, tapi aku harus pulang sekarang" Tolak lembut Queen. Setelah mengatakan hal tersebut Queen langsung melangkah kan kaki nya.


"Kenapa kamu menjauhi ku, Queen?" Ucap tiba-tiba Max yang dapat di dengar oleh Queen.


Sontak saja Queen menghentikan langkah nya, namun ia tidak membalik tubuh nya.


"Kenapa sejak hari itu kamu menjauhi ku?" Ucap Max lagi namun Queen tetap terdiam di posisi nya. "Ini yang aku takut kan ketika kamu tau aku terluka karena siapa" Lanjut nya mulai melangkah mendekati Queen.


"Ini resiko yang aku terima, jadi aku benar-benar tidak masalah Queen"


Queen berbalik ketika mendengar suara Max berada tepat di belakang nya. Menatap wajah tampan yang memiliki rahang begitu tegas, lantas Queen mengeluarkan suara nya.


"Cukup Max, kita hanya teman dan sampai kapan pun begitu. Aku tidak mau teman ku terluka jadi lebih baik sekarang kita bersikap sewajar nya saja"


"Kenapa?" Satu kata itu berhasil membuat Queen menatap bingung pria itu, pria dengan tatapan teduh nya.


"Nona, waktu nya pulang" Ujar seorang pria berpakaian hitam yang kini sudah berada di samping nya.


Queen menoleh menatap pria berpakaian hitam yang ia ketahui adalah supir pribadi nya. "Baik pak"


"Mari saya bawakan buku-buku nya"


"Maaf nona tapi ini sudah tugas saya" Potong pria berpakaian hitam itu seraya mengambil alih beberapa buku di tangan Queen.


"Emm.. Baiklah, terimakasih pak"


"Silahkan nona" Pria tersebut memberikan jalan untuk Queen agar sang nona bisa berjalan di depan nya.


"Aku duluan, Max" Pamit Queen kembali melanjutkan langkah nya.


"Queen--"


"Jaga sikap anda tuan, Mr.Barra tidak akan segan-segan menghancurkan semua di hidup anda" Potong pria berpakaian hitam itu dengan nada menekan dan wajah tanpa ekspresi nya.


Setelah nya pria itu berlalu menyusul langkah Queen dan meninggalkan Max yang kini hanya bisa mengepalkan tangan nya.


"Aku ingin jadi pria egois dan tak punya malu, Queen!" Batin nya.


.


.


"Ibu Queen pulang" Pekik Queen begitu membuka pintu apartemen nya.


Menganti sepatu dengan sandal rumahan nya, namun suara atau pun sosok Bi Dazy tidak kunjung muncul di hadapan nya.


"Tidak seperti biasa nya" Gumam bingung Queen.


Karena biasanya saat Queen baru membuka pintu saja Bi Dazy sudah menyambut nya namun kini sosok wanita paruh baya itu tidak menampakkan diri nya.


"Ibu" Panggil Queen mulai berteriak.


Lagi, lagi dan lagi. Queen tak kunjung mendapat sahutan. "Apa ibu sedang belanja?" Monolog nya pada diri sendiri.


Pada akhirnya Queen memilik memasuki kamar nya dan setelah itu baru Queen akan melanjutkan mencari sosok Ibu bagi nya.


Ceklek~


Queen membuka pintu kamar nya, tetapi yang ia dapati hanya kegelapan.


"Lho bukan nya tadi gorden nya sudah aku buka ya?" Gumam bingung Queen seraya melangkah ke arah meja belajar nya.


Menaruh buku dan tas nya pada kursi meja belajar tersebut, lantas Queen berjalan ke arah jendela kamar untuk membuka gorden kamar tersebut.


Tak hanya membuka gorden, Queen pun membuka jendela tersebut hingga hembusan angin dari luar menerpa wajah nya.


Memejamkan mata menikmati semilir angin itu, hingga tak lama kemudian terdengar helaan napas berat dari sela bibir.


"Kak Barra sedang apa 'ya di sana?" Gumam Queen seraya menghidupkan handphone.


Membuka salah satu aplikasi pesan, namun masih sama. Barra tak kunjung menjawab pesan nya sejak hari itu. Hari dimana Barra meluapkan kecemburuan dan ke marahan nya.


"Mau nelpon tapi takut kak Barra sudah tidur" Pikir nya kembali mengurungkan niat nya setelah mengirim beberapa pesan.


Barra benar-benar mendiami nya, jangan kan menjawab panggilan bahkan membalas pesan saja tidak.


Dan Queen hanya mengetahui keadaan sang suami dari Ric.


"Huuuft.." Helaan napas berat kembali keluar seiring dengan tubuh Queen yang berbalik.


Deg!


"Bagaimana kabar mu, istri ku?" Sapa berat Barra yang kini berdiri tepat di hadapan tubuh mematung Queen.


...****************...