Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Kedatangan Barra



"Bagaimana kabar mu, istri ku?" Sapa berat Barra yang kini berdiri tepat di hadapan tubuh mematung Queen.


Deru napas beraroma mint itu menyeruak memasuki indra penciuman Queen. Mata nya yang membulat sempurna kini terlihat sedikit berair.


"Aku bertanya, sayang.." Barra menarik pinggang Queen hingga tubuh kedua nya menempel tak berjarak sedikit pun.


"Ba-baik" Sahut terbata Queen masih belum tersadar dari keterkejutan nya.


"Semakin cantik" Puji Barra mengusap pipi Queen.


Cup


Satu kecupan mendapat di bibir pink yang tidak di polesi apapun. Air mata Queen menetes saat itu juga.


"Kak Barra.."


"Iya sayang, ini aku Barra. Suami mu"


Sedetik kemudian Queen langsung memeluk tubuh kekar itu, menenggelamkan wajah nya pada dada Barra yang selama ini ia rindukan aroma nya.


Tangis nya pun pecah, beberapa hari ini ia sangat merindukan Barra. Pria ini mengacuhkan nya dan sekarang tiba-tiba Barra ada di hadapan nya.


"Hikss.. Kak.. Hikss.."


"Sutt,, kok malah nangis sih" Lembut Barra menenangkan tubuh kecil sang istri yang saat ini bergetar karena tangis nya.


Queen tak mampu mengeluarkan kata-kata nya, hanya isak tangis yang terdengar mengisi hening nya kamar apartemen yang sangat mewah itu.


Hingga pada akhirnya entah bagaimana yang pasti saat ini Queen telah berada di pangkuan sang suami yang duduk di atas kasur milik nya.


"Sudah ya, jangan nangis lagi" Barra menyeka sisa air mata di pipi Queen.


Mata dan hidung wanita itu memerah, bahkan bibir nya terus mengeluarkan isak tangis nya.


"Kenapa kakak ada di sini hikss.." Tanya Queen yang masih terisak.


"Kenapa? Kamu tidak suka aku di sini?" Tanya balik Barra.


Queen menggeleng cepat, wanita itu langsung memeluk leher Barra dan menenggelamkan wajah nya pada sela leher nya.


"Queen sangat merindukan kak Barra" Bisik Queen. "Kenapa kakak tidak membalas pesan atau pun menjawab panggilan Queen, hikss.." Lanjut nya kembali terisak.


Entah kenapa kehadiran Barra yang tiba-tiba ada di hadapan nya membuat kesedihan dan penyesalan tersendiri di hati Queen.


"Aku juga merindukan mu sayang" Balas Barra memeluk semakin erat pinggang Queen dan terus mengecupi kepala Queen. "Dan aku sengaja melakukan itu karena sedang marah pada mu" Lanjut nya.


"Maaf hikss,, maafkan Queen"


"Sudah lah jangan membahas itu, aku semakin marah jika mengingat nya"


Queen menggeleng, ia semakin mengeratkan pelukan nya pada leher Barra. Suasana pun kembali hening selama beberapa saat.


Queen sibuk mengendusi harum khas tubuh Barra, sedangkan Barra? Pria itu terus mengusap-usap punggung Queen.


Hingga akhirnya Queen menjauhkan kepala nya dan menatap wajah bersih Barra. Tunggu, bersih? Kemana jambang tipis nya? Batin Queen yang tersadar.


"Kenapa?" Tanya Barra melihat wajah Queen dengan ekspresi penuh tanda tanya nya.


Queen mengusap pipi Barra hingga ke rahang tegas pria itu. "Kemana jambang tipis ini? Kenapa wajah kakak sangat bersih?"


Barra memejamkan mata nya dengan sebelah tangan yang meremat kasur, tidak tahu kah Queen jika saat ini Barra tengah menahan kerinduan nya. Terutama Bram sang adik.


Kini usapan lembut itu berhasil membangkitkan sang adik yang semula tenang dan damai.


Barra menahan tangan Queen yang terus mengusap rahang nya, hingga mata nya kembali terbuka dan menatap Queen dengan tatapan sulit diartikan nya.


Padahal jambang tipis itu lah yang membuat Barra semakin tampan, dan tentu nya menambah kesan hot nya.


"Bagaimana, ujian nya lancar?" Tanya Barra yang langsung mendapat anggukan dari Queen namun tak lama kemudian wanita itu kembali menggeleng.


Alis Barra bertaut bingung melihat anggukan dan gelengan yang nampak ragu itu. "Kenapa?"


"Ujian nya lancar dan Queen berusaha sangat keras. Tapi Queen tidak semangat karena kak Barra mengabaikan Queen" Jujur Queen.


Mendengar itu tanpa sadar senyum tipis terukir di bibir Barra namun tak lama kemudian ekspresi nya kembali datar. "Aku sakit hati" Celetuk Barra.


Wajah Queen yang semula mulai terlihat ceria kini kembali murung saat mengingat kesalahan nya. "Maaf kak.. Queen benar-benar sudah menjauhi Ma--Mhppp!!" Ucapan Queen tertahan kala Barra menyerang bibir nya begitu saja.


Mellumat begitu rakus dan kasar, begitu lama hingga di rasa Queen sudah kesulitan bernapas baru lah Barra menjauhkan kepala nya.


"Jangan menyebut nama pria lain di hadapan ku" Geram tertahan Barra dengan hidung kedua nya yang menempel.


"Aku bingung, aku juga takut" Lirih Queen setelah beberapa saat mengatur napas nya.


Barra tak menyahut, tetapi ia terus mengunci tatapan mata Queen yang berada di hadapan nya.


"Kenapa sampai harus di bunuh?"


"Dia mendekati milik ku" Sahut cepat Barra seraya mengangkat tubuh Queen dan memindahkan nya di kasur. "Sudah aku bilang waktu itu, saat sebelum kamu memasuki pesawat. Tapi seperti nya kamu lupa" Lanjut nya yang kini sudah berdiri di hadapan Queen.


Tak ada lagi tatapan lembut dan penuh kehangatan, yang ada hanya tatapan tajam nan menusuk.


Queen menunduk, tak berani menatap Barra. Bahkan untuk menjawab pun rasa nya Queen tidak mampu.


"Beruntung saja pria itu anak dari rekan bisnis ku di negara ini, jika tidak sudah aku pastikan hanya tinggal nama"


"Kak.." Queen mengangkat pandangan perlahan, menatap wajah Barra yang terlihat mulai terbakar amarah nya.


"Tanpa sepengetahuan mu, pria brengsek yang sudah mati itu. Mereka berniat melecehkan mu, Queen!" Barra meninggikan suara nya begitu mengingat rencana dua mahasiswa yang sudah meninggal itu.


Queen menutup mulut nya tak percaya, kepala nya menggeleng pelan karena setahu Queen kedua pria itu adalah pria baik-baik.


"Jangan lihat seorang pria dari luar nya saja" Lanjut Barra seakan tau apa yang Queen pikir kan.


"Kak--"


"Sudah lah, bereskan pakaian mu. Kita pulang malam ini juga!" Potong Barra tak ingin mendengar ucapan Queen.


"Pu-pulang?" Ulang terbata Queen.


"Kenapa? Tidak mau?"


Queen langsung menggeleng dan bangkit dari kasur nya. Walau pun bingung tetapi untuk saat ini lebih baik ia menuruti ucapan Barra. Lagi pula selama beberapa minggu ke depan ia libur semester.


Queen mulai mengemas pakaian nya tanpa mengatakan apa-apa. Dan Barra tentu nya menatap pergerakan sang istri yang terlihat memilih-milih pakaian yang di kemas ke dalam koper nya.


.


.


Sedangkan di sisi lain, kepergian Barra tadi malam ke USA ternyata sudah di ketahui oleh Arcy sang Mommy


"Jadi, selama ini Barra menyembunyikan istri nya di USA?" Duga Arcy menatap parah bawahan nya.


"Kemungkinan besar seperti itu Nyonya, karena Mr.Barra tidak memiliki jadwal dengan rekan mana pun yang berasal dari USA"


"Brengsek ternyata dia sangat pintar menyembunyikan nya!"


...****************...