
"Aku benar-benar merindukan mu, sayang" Ujar sendu Barra menatap layar handphone nya.
Di sebrang sana, Queen yang tengah mengerjakan tugas nya sontak langsung menatap layar handphone nya. Lebih tepat nya wanita itu menatap wajah Barra.
Melayangkan senyuman tipis nya, lantas Queen mengeluarkan suara lembut nya. "Queen juga merindukan kakak, sangat rindu"
"Sudah sebulan kasur di sisi ku terasa dingin, tangan ku menganggur tidak ada yang bisa aku peluk"
Queen terkekeh. "Ada bantal guling 'bukan? Kakak peluk saja bantal guling itu haha" Sahut nya dengan nada mengejek.
"Heuhh.." Barra menghela napas berat lantas berguling menganti posisi nya hingga tengkurap.
"Bentar ya kak, dikit lagi tugas aku selesai kok"
Setelah mengucapkan hal tersebut Queen pun kembali mengerjakan tugasnya dan Barra, pria itu hanya menatap wajah fokus sang istri.
Selama beberapa saat baik Barra atau pun Queen tidak ada yang mengeluarkan suara, panggilan video itu masih tersambung di antara kedua nya.
"Tidak ada yang menganggu mu 'kan?" Tanya Barra yang langsung mendapat gelengan dari Queen.
"Tidak ada kak, mereka semua baik dan mau membantu Queen saat Queen kurang mengerti dengan penjelasan dosen" Jelas Queen tanpa menatap Barra.
"Syukur lah"
Tentu nya Barra tau kondisi Queen karena ia menempatkan berbagai bawahan nya di sisi Queen, bahkan tanpa wanita itu sadar salah satu teman Queen saat ini adalah orang suruhan Barra.
"Akhir nya selesai" Tutur lega Queen seraya menutup buku catatan milik nya dan merapihkan meja belajar nya.
"Sudah?" Tanya Barra memastikan.
Queen mengangguk, kini wanita itu terlihat memegang handphone nya yang sebelum nya ia sandarkan pada buku.
"Tadi siang ibu membeli cemilan 'kan?" Tanya Barra yang ikut memanggil Bi Dazy dengan sebutan Ibu karena permintaan Queen.
"Iya kak, tapi Ibu tidak membeli chiki. Padahal Queen suka banget sama semua jenis chiki"
"Sengaja, aku yang meminta Ibu untuk tidak membeli chiki"
"Ish kenapa?" Bibir Queen mengerucut kesal mendengar kejujuran yang Barra ucapkan.
"Chiki gak baik buat kesehatan kamu jika terlalu sering di makan, di tambah chiki banyak mengandung MSG"
"Tidak semua kak, ada juga yang--"
"Tetap saja, aku tidak mau kamu terlalu sering memakan chiki" Potong tegas Barra.
"Huuft.. Baiklah kak" Pasrah Queen.
Mata Barra terus mengikuti pergerakan Queen di sebrang sana, dan kini terlihat Queen yang berbaring sama seperti nya.
"Masih ingat dengan janji mu?"
"Tentu kak, setiap hari kakak menanyakan dan mengingatkan itu"
Barra terkekeh pelan, namun percaya lah di balik kekehan itu Barra memendam rasa cemburu dan khawatir secara bersamaan.
"Jangan dekat-dekat dengan pria itu" Ujar Barra yang pada akhirnya melontarkan kata-kata tersebut.
Terlihat alis Queen yang bertaut bersamaan dengan terdiam nya wanita itu.
"Bukan kah kamu mempunyai teman wanita?"
Queen mengangguk dengan mata yang tak berani menatap mata Barra.
"Huuft.." Barra menghela napas berat nya. Ia harus mengendalikan rasa cemburu nya walaupun rasanya Barra ingin memukul wajah Max!. "Aku hanya takut kamu nyaman dengan nya dan melupakan aku di sini"
Queen langsung menatap wajah Barra dengan kepala menggeleng cepat. "Tidak kak, tidak mungkin Queen melupakan kakak" Sahut nya cepat.
Barra tersenyum tipis, ia sangat percaya pada Queen dan pasti nya Barra harus menekan rasa cemburu yang berlebihan ini.
"Baiklah pasti di sana sudah malam, cepat tidur" Titah Barra. "Dan jangan matikan panggilan ini" Lanjut nya.
Queen kembali mengangguk, ia sudah mulai terbiasa dengan sleep call ini. Dimana nanti saat Queen bangun panggilan tersebut sudah berakhir dan ada beberapa pesan manis dari Barra.
"I love you, my little wife" Ucap lirih Barra saat melihat mata Queen yang sudah terpejam.
.
.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Permisi tuan" Ujar Ric di balik pintu sana.
"Masuk" Titah Barra.
Setelah mendapatkan izin, Ric pun membuka pintu ruangan sang bos lalu masuk dan kembali menutup pintu ruangan tersebut.
"Ini data terkait kecurangan beberapa pemegang saham, tuan" Ric menyodorkan beberapa berkas ke hadapan Barra yang langsung di buka oleh pria itu.
"Ini bukan kecurangan biasa, dengan ini kita bisa menghempaskan mereka satu persatu"
Barra mengangkat pandangan nya, menatap Ric dengan raut tak biasa dan sulit diartikan.
"Ada apa tuan?" Tanya Ric karena melihat Barra tak kunjung bersuara.
"Aku curiga pada mu"
Mata Ric membola mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut Barra. "Apa maksud mu?" Tanya tak santai Ric.
"Jangan-jangan kau agen khusus yang menyamar jadi asisten ku"
Seketika Ric berdecih kesal dan duduk di hadapan pria itu dengan tatapan tak biasanya. "Aku begini karena kau, bodoh!"
"Hah?" Beo tak mengerti Ric.
"Jika bukan karena mu, aku tidak mungkin seperti ini dan semua ini aku dapatkan dari mu lebih tepat nya dari uang mu"
Barra mengangguk pelan dan menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi kebesaran nya. "Ternyata aku yang sangat berjasa dalam hidup mu" Ujar nya sombong.
"Ck!" Decak kesal Ric. "Bagaimana dengan langkah selanjutnya?"
"Tunggu salah satu dari manusia rakus itu membuat kesalahan, baru setelah itu kita bongkar ke curang ini"
"Sejauh ini mereka begitu berhati-hati, beberapa bawahan yang mengawasi mereka pun tidak menemukan celah untuk kesalahan mereka" Jelas Ric.
Barra terkekeh pelan. "Ini semua pasti sudah di perintah kan oleh wanita tua itu"
Ric menatap kekehan di bibir Barra. Bukan kekehan lucu melainkan kekehan miris akan hidup pria di hadapan nya.
"Sudah lah, kita tunggu saja selagi mereka tidak mendesak ku dengan hal konyol seperti penerus perusahaan ini" Putus Barra yang langsung mendapat anggukan dari Ric.
"Baiklah"
"Dan satu lagi" Ric yang tadi nya berniat bangun dari posisi nya, kini kembali duduk menatap sang bos di hadapan nya.
"Beri sedikit pelajaran pada pria itu" Titah Barra dengan nada serius nya.
"Pria yang mana?" Tanya bingung Ric.
Brakk!
Barra yang kesal akan kelemotan Ric di beberapa hal, lantas menggebrak meja kerja nya dengan mata melotot.
"Ah, pri-pria itu?" Sahut gugup Ric.
"Pria yang mana heuh?" Tanya Barra dengan dengusan kesal nya.
Ric terkekeh renyah seraya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "Tidak tau, tuan"
Barra benar-benar di buat geram dengan jawaban Ric, jika saja pria itu lemot di semua hal mungkin Barra sudah menendang nya menjadi seorang office boy.
"Pria yang ingin merebut istri ku!" Pekik Barra di depan wajah Ric.
Ric langsung bangun dan membungkuk hormat. "Baik tuan!" Sahut nya cepat kemudian langsung berlalu meninggalkan ruangan Barra.
...****************...