Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Part 61



"Mom.."


"Heum? Kenapa sayang?" Sahut Queen yang masih sibuk menyuapi anak nya.


"Leher Mommy kenapa?" Tanya nya dengan tatapan polos seraya menyentuh leher Queen


"Ukhukk.. Ukhuk.."


Ada yang tersedak makanan nya, tetapi bukan Queen melainkan Barra. Ya, Barra sangat terkejut mendengar pertanyaan putra nya.


"Astaga makan pelan-pelan" Omel Queen memberikan segelas air pada suami nya.


Dengan cepat Barra meneguk nya hingga habis tak tersisa.


"Sakit?" Tanya Queen mengusap leher Barra, lebih tepat nya pada bagian jakun pria itu.


Barra menggeleng pelan dan menahan pergerakan tangan Queen. "Jangan memancing ku, honey" Bisik nya.


"Ih mesum banget sih, orang aku tanya tenggorokan nya sakit atau ngga?!"


"Cukup bertanya saja, jangan mengusap nya jika tidak ingin berakhir seperti semalam" Peringat Barra.


Leher adalah bagian sensitif Barra dan mungkin itu juga berlaku bagi semua pria.


"Baiklah-baiklah habiskan sarapan nya" Ujar mengalah Queen dan kembali terfokus pada putra nya yang sedari tadi menyimak.


"Ayo makan lagi" Ujar Queen pada Marvin.


Marvin menoleh saat Queen hendak menyuapi nya. "Mommy belum jawab pertanyaan ku" Ujar nya dengan nada merajuk.


Queen dan Barra pun saling melirik.


"Ehmm,, itu semalam Mommy di gigit serangga" Jawab Queen membuat Barra melotot dan Marvin menatap nya.


"Serangga?" Ulang Marvin yang mendapat anggukan dari Queen. "Serangga apa sampai membuat leher Mommy merah-merah gini? Pasti sakit.."


Queen mengigit bibirnya menahan tawa namun berbeda dengan Barra yang wajah nya sudah memerah menahan kesal karena dirinya di sebut 'serangga'


"Ga sakit kok, sayang. Cuma ya gitu serangga nya sangat ganas" Jawab Queen melirik Barra.


"Ihh aku takut" Ringis kecil Marvin. "Daddy gimana sih, masa Mommy di gigit serangga ga nolongin!" Omel nya menatap galak Barra.


"Heh!" Barra melotot, bisa-bisa nya putra kecil nya itu memerahi diri nya.


"Daddy bilang aku harus menjaga Mommy, tapi kenapa Daddy ga nolong Mommy pas di gigit serangga?!"


Barra mendengus sebal, oke ia harus ekstra sabar menghadapi bocah di sebelah istri nya itu.


"Semalam Daddy sudah membantu Mommy menyingkirkan tubuh serangga itu, tetapi Mommy malah kembali memancing serangga itu agar mengigit Mommy"


Kini bergantian, Queen lah yang melotot tidak senang di sela seringai Barra yang membalas perkataan nya secara tidak langsung.


"Huh! Mommy ini ada-ada saja, bagaimana jika serangga nya beracun dan membahayakan Mommy?" Omel nya bergantian pada Queen dengan pelafalan yang cadel itu.


"Iya sayang, maafin Mommy ya? Besok-besok Mommy pasti akan langsung bunuh serangga itu jika mengigit Mommy lagi"


Barra kembali tersedak saat baru saja menelan makanan nya. Queen memang pintar mengancam nya secara tidak langsung seperti ini.


"Sudah-sudah makan dengan benar, nanti siang Daddy akan memanggil pembasmi SERANGGA!"


*


*


"Tuan.." Sapa seorang pria yang baru saja membuka kan pintu mobil Barra.


"Bagaimana?"


"Mereka berada di dalam tuan"


"Hm, kerja bagus dan kembali lah ke pada pekerjaan mu. Bonus sudah aku kirim" Ujar dingin Barra.


"Baik tuan, terima kasih"


Pria itu membungkuk hormat kemudian berlalu meninggalkan Barra yang tengah berdiri menatap gedung terbengkalai di depan nya dengan seringai menyeramkan nya.


"Mengusik keluarga ku, artinya kalian sudah bosan hidup.." Gumam Barra yang mulai melangkah memasuki gedung itu.


Di luar dalam gedung tersebut terdapat beberapa penjaga milik Barra dan di dalam nya terdapat dua orang pria yang terikat dengan mata tertutup.


"Kalian berjaga lah di luar" Titah Barra pada tiga penjaga di sisi depan dan samping dua orang yang terikat itu.


"Baik tuan" Sahut kompak ketiga penjaga itu yang langsung menuruti perintah Barra.


Setelah pintu ruangan itu tertutup langsung terdengar lah erangan kedua pria terikat itu, bahkan mulut nya pun di sumpal dengan kain.


"Hari ini jadwal ku padat.." Ujar Barra seraya menggulung lengan kemeja nya. "Jadi aku tidak bisa bermain lama-lama dengan kalian" Lanjut nya.


"Emmm..!! Emmm..!!" Erang kedua nya dengan mulut yang masih tersumpal.


Barra tak sedikit pun berniat menarik kain yang menyumpal mulut kedua pria itu atau pun melepaskan ikatan nya pada tubuh itu.


"Kau.. Reporter sialan, dan kau.. Pimpinan redaksi sialan.." Barra menginjak paha kedua pria itu membuat kedua nya mengerang kesakitan.


"Berani sekali membuat berita yang menjelekkan istri ku!"


"Eemmmm!!!"


"Bersyukur lah kematian mu akan mudah tanpa siksaan dari ku, walaupun sebenarnya aku ingin memotong jari-jari sialan itu yang membuat istri ku bersedih!"


"Emmmm.. Emmm.. Emmm..!!"


Kedua nya terus meraung, memohon ampun apalagi begitu mendengar suara sebuah tembakan yang entah di tembakkan ke arah mana.


"Tidak perlu mengucapkan selamat tinggal pada dunia karena aku jijik mendengar suara dari orang-orang yang menyakiti hati istri ku"


Dor! Dor! Dor! Dor!


Suara tembakan dengan puluhan peluru yang menghancurkan tubuh di depan nya itu memenuhi ruangan gelap tersebut.


Tak ada belas kasihan bagi orang-orang yang menyakiti Queen, wanita yang sangat ia cintai termasuk Tomi- Ayah tiri istri nya yang meninggal dua setengah tahun yang lalu karena ia bunuh.


"Fyuhh.." Barra meniup ujung pistol nya yang mengeluarkan asap itu pertanda bahwa kegiatan nya telah usai.


...****************...