Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Khawatir dan perkelahian



"Kakak sakit?" Tanya Queen yang terus menatap wajah Barra di layar handphone nya.


Seperti biasa sepasang suami-istri itu sedang melakukan panggilan video. Hanya ini lah yang dapat mereka lakukan untuk mengurangi rasa rindu selama satu tahun berjauhan.


"Tidak sayang"


Suara serak dan terdengar lemah itu tentu tidak dapat membohongi telinga tajam Queen. Serta jangan lupakan wajah pucat pria itu.


"Queen tidak suka kak Barra bohong seperti ini" Gumam sedih Queen.


Terdengar helaan napas berat Barra di sebrang sana, sampai akhirnya pria itu tersenyum tipis. "Seperti nya aku hanya sedikit kelelahan, sayang"


"Kakak berjanji akan menjaga diri dengan baik, lalu kenapa sekarang begini?" Air mata Queen rasa nya akan menetes saat ini juga. Ia ingin ada di samping Barra dan mengurus pria itu.


Karena saat ini Barra benar-benar tida terlihat baik-baik saja. Queen sangat khawatir, Queen ingin memeluk Barra.


"Jangan menangis sayang, aku baik-baik saja" Panik Barra di sebrang sana melihat air mata Queen yang mulai menetes.


Queen menggeleng pelan. "Telpon dokter sekarang, kakak harus di obati dan jangan matikan panggilan ini saat dokter memeriksa kakak hikss.." Pinta Queen terisak pelan.


"Baiklah-baiklah, aku akan menelpon dokter sekarang. Tapi hentikan tangis mu sayang, aku tidak ada di sana. Aku tidak bisa menyeka air mata mu"


Setelah beberapa saat Queen menyeka air mata nya, dan menahan tangis nya dengan senyuman yang di paksakan.


"Sudah, sekarang cepat telpon dokter nya"


Barra yang pasrah di sebrang sana harus menuruti permintaan sang istri. Pria itu bangun dan menelpon sang dokter dengan telpon rumah nya.


.


.


.


"Max.."


Pria yang di panggil itu pun menoleh ke asal suara, fokus nya teralihkan pada sosok wanita yang kini berdiri di samping nya.


"Ada apa Queen?" Sahut Max dengan senyum tipis nya.


"Astaga ada apa dengan wajah mu?" Pekik tertahan Queen yang kaget saat melihat wajah babak belur Max.


Andai saja saat ini bukan di perpustakaan, sudah di pastikan Queen akan berteriak dengan heboh. Pasalnya wajah Max terlihat sangat kacau.


"Tidak apa Queen, hanya terlibat sedikit pertengkaran"


Max kembali menatap buku nya, mencatat beberapa materi yang ia yakin akan keluar di ujian nanti.


"Sudah di obati?" Tanya Queen meringis kecil saat melihat darah keluar dari sudut bibir pria itu.


Max menggeleng, karena memang ia baru mendapatkan pukulan tersebut saat berangkat ke kampus nya ini.


"Tunggu sebentar!"


Setelah nya Queen beranjak meninggalkan buku dan tas nya membuat Max menatap punggung Queen yang mulai menghilang di balik pintu perpustakaan.


"Aku tau, aku salah karena jatuh hati pada istri orang" Batin Max.


Tak perlu waktu lama, kini Queen kembali dengan kotak obat yang pastinya hasil meminjam di UKS dan sekaleng minuman dingin.


"Kompres dulu" Ujar Queen menyerahkan kaleng minuman dingin tersebut.


Max menerima nya lalu mengompres lebam di pipi nya dengan kaleng dingin itu.


"Hadap sini, biar aku obati" Ujar Queen.


Sejenak Max terdiam, namun tak lama kemudian pria itu menghadap Queen hingga kedua nya saling berhadapan. Dengan penuh kehati-hatian Queen mulai mengobati sudut bibir Max dengan kapas yang sudah bercampur antiseptik dengan perlahan.


"Stthh.." Ringis Max.


"Astaga maaf, apa itu sakit?"


Max tersenyum tipis dan menggeleng pelan.


Hingga akhirnya Queen selesai mengobati beberapa luka di wajah Max, setelah nya wanita itu menatap wajah Max penuh selidik.


"Aku teman mu 'kan?"


"Kalau begitu, katakan pada ku yang sebenarnya!"


"Katakan apa?"


"Siapa yang memukuli mu setiap hari seperti ini, eoh?!" Tanya galak Queen.


Melihat wajah galak itu Max benar-benar di buat gemas, ingin rasanya ia mencubit pipi dan hidung Queen namun ia harus menahan nya.


"Sudah aku bilang, aku terlibat sedikit perkelahian"


"Iya dengan siapa?" Desak Queen.


"Beberapa orang"


Queen membelalak. "Kamu sendirian?"


Max mengangguk, karena memang ia hanya sendirian menghadapi beberapa orang itu.


"Astaga sebenarnya perkelahian macam apa? Dan masalah nya apa?"


"Hanya masalah kecil Queen" Sahut lembut Max. "Sudah ayo kita belajar, kamu ke sini untuk belajar 'bukan?" Lanjut nya mengalihkan topik.


Queen mendengus kesal, pasal nya sudah beberapa bulan ini ia selalu mendapati wajah Max yang babak belur, bahkan pernah sekali pria itu sampai masuk rumah sakit.


Namun setiap di jawab pasti Max akan menjawab 'Hanya perkelahian kecil, Queen' itu lah yang membuat Queen sangat kesal.


Max yang baru saja menulis beberapa kata pada buku nya langsung terhenti begitu Queen menarik buku dan pulpen di tangan Max.


"Queen.."


"Bisa jujur pada ku?" Pinta Queen menahan kesal nya. "Aku selalu bercerita pada mu jika ada yang menjahati ku, dan kamu selalu menolong ku"


Pada akhirnya tangan yang sedari tadi Max tahan kini terangkat dan mengacak-acak surai Queen. "Sudah aku katakan dari awal aku akan menjaga mu, Queen"


"Tapi ini tidak adil, kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari ku. Sedangkan aku selalu bercerita dan tidak punya celah untuk membohongi mu"


"Tidak apa"


Singkat dan padat, jawaban iru berhasil membuat Queen bangun dari duduk nya dan menatap marah Max.


"Baiklah jika seperti itu mulai sekarang kita bukan teman lagi!"


Queen mengambil tas dan buku nya, wanita itu hendak meninggalkan Max dengan rasa kesal di hati nya.


"Jangan bicara seperti itu Queen" Ujar lembut Max menahan pergerakan Queen dengan menggenggam lengan wanita itu.


Queen menghempaskan tangan Max dan kembali menatap tajam wajah pria itu. "Katakan!" Ucap nya dengan nada menekan marah.


"Baiklah, tetapi duduk dulu" Pinta Max dengan senyum tipis yang terus terukir di bibir terluka itu.


Queen mendengus lantas kembali duduk dan menatap wajah Max serius.


"Janji jangan marah pada orang itu, dan ini semua pantas aku dapatkan. Oke?"


Sesaat Queen mengernyit bingung, namun raut nya masih menunjukkan kekesalan nya.


"Janji?" Max mengulurkan jari kelingking nya tepat di hadapan Queen.


Queen yang sedikit ragu pun menatap jari kelingking dan wajah Max secara bergantian, hingga akhirnya Queen menyatukan jari kelingking nya dengan jari Max.


"Suami mu" Ucap tiba-tiba Max setelah pinky promise itu terlepas.


"Apa?" Beo bingung Queen dengan raut yang berbeda dari sebelum nya.


Max menghela napas berat, sejujurnya ia tidak ingin mengatakan kebenaran ini kepada Queen karena memang ini konsekuensi yang harus ia terima akibat mendekati istri orang.


"Luka yang aku dapat selama ini karena orang suruhan suami mu, Mr.Barra"


Queen membeku, napas mya tercekat. Kenapa Barra melakukan ini pada Max? Apa karena ia berteman dengan Queen? Benak nya bertanya-tanya.


Max menggenggam tangan Queen dengan tatapan lembut nya. "Jangan marah pada dia, karena ini memang pantas aku dapatkan"


Queen tak mampu berkata-kata. Ia kembali teringat akan janji nya dahulu sebelum Queen sampai di negara ini pada Barra.


...****************...