Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Part 62



Ting!


Handphone Barra berbunyi di saat pria itu tengah sibuk dengan laptop nya. Di raih nya handphone tersebut dengan mata yang terus terfokus pada layar laptop.


Sampai akhirnya kini Barra mengalihkan fokus nya dan menatap layar handphone milik nya yang sudah menyala.


'Maaf tuan, mungkin ini terlalu mendadak tetapi saya ingin mengajukan cuti selama satu minggu dan semua jadwal anda selama satu minggu ke depan sudah saya serahkan pada Aldo'


Pesan itu lah yang baru saja masuk ke handphone Barra, dan tentu nya pesan itu dari Ric- sang asisten.


Dengan lincah Barra mengetikkan balasan nya.


'Kenapa? Kau sakit?' Balas Barra.


Tak butuh waktu lama, pesan itu langsung di balas oleh Ric. 'Ada sedikit masalah tuan dan saya bisa menghandle nya sendiri'


"Cih, memang nya siapa yang ingin membantu mu?" Decih sinis Barra yang kembali menaruh handphone nya tanpa membalas pesan Ric lagi.


Barra pun kembali fokus pada laptop nya, memang hari ini ia benar-benar sibuk dan parah nya kenapa Ric harus izin sekarang?!


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu ruangan nya di ketuk, tanpa melihat Barra pun mengizinkan seseorang di luar sana untuk masuk.


"Tuan.." Sapa Aldo- tangan kiri Barra.


Jika Ric adalah tangan kanan Barra, maka kini pria gagah dan masih mudah itu yang berdiri di depan nya adalah tangan kiri nya.


"Hm, ada apa?"


"Sebelum nya saya akan mengantikan tuan Ric selama satu minggu ke depan" Ujar nya sopan.


Barra pun mengangkat pandangan nya. "Kau tau kenapa dia tiba-tiba mengambil cuti?"


"Maaf tuan, tapi saya tidak tau"


"Ck, kaku sekali!" Dengus kesal Barra. "Sudah lah katakan ada apa"


"Pagi ini dari jam sembilan sampai waktu makan siang, anda memiliki jadwal untuk turun ke lapangan. Mengecek pembangunan resort di kota Roma lalu di lanjut membahas sistem kerja sama dengan Mr.Vega dan--"


"Ah sudah lah cukup, lanjutkan nanti dan sekarang persiapkan segala nya!" Potong Barra.


Rasa nya ia sangat kenyang mendengar jadwal-jadwal nya dan berhadapan dengan Aldo sangat berbeda dengan Ric.


"Baik tuan, saya pamit undur diri" Ujar Aldo yang setengah membungkuk lalu berlalu meninggalkan sang bos.


"Awas saja kau, Ric! Saat masuk nanti semua pekerjaan akan aku limpahkan pada mu!" Gumam dendam Barra.


Bohong jika Barra tidak memikirkan sahabat yang selama ini selalu menemani nya. Ric terlalu tertutup pada nya padahal ia selalu terbuka pada pria itu.


...----------------...


"Masih ada lagi jadwal ku?" Tanya lelah Barra melonggarkan dasi yang terasa mencekik nya.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam tetapi pria sibuk itu masih berada di jalanan menuju salah satu restoran.


"Satu pertemuan terakhir dengan Nona Bianca, Tuan"


"Bianca? Bianca Yustian maksud mu?" Ulang Barra memastikan dan langsung mendapat anggukan dari Aldo.


"Shiit! Kenapa kau tidak bilang dari awal!" Geram Barra.


"Bukan kah tuan meminta untuk di beritahu setelah jadwal sebelum nya selesai?"


Barra menggeram kesal, memang bukan salah nya tetapi kenapa harus dengan wanita itu?


"Ada urusan apa aku dengan nya? Bukan kah sebelum nya tidak ada kontrak kerja sama dengan perusahaan keluarga Yustian?"


"Ada tuan, tiga hari yang lalu anda sudah menandatangani untuk menjadi investor"


"What?!" Pekik kaget Barra.


Kepala nya benar-benar pusing, bisa-bisa nya ia tidak sadar dan mungkin karena saat itu Barra terburu-buru untuk pulang hingga menandatangani beberapa berkas yang memang sebelum nya sudah ia cek dengan terburu-buru.


Tanpa tau bahwa berkas kontrak itu terselip di antara nya.


"Baiklah, siapkan pengawal tambahan untuk berjaga. Jangan sampai lengah karena aku tidak mau memiliki masalah dengan wanita ular itu!"


"Baik tuan"


"Oh iya, satu lagi. Selidiki apa yang terjadi dengan Ric!"


Sesaat Aldo terdiam bingung hingga akhirnya pria itu mengangguk ragu. "Baik tuan"


...----------------...


"Selamat malam, Mr.Barra" Sapa Bianca yang saat ini tengah berdiri menyambut kedatangan Barra.


Kedua nya berjabat tangan sekilas sebagai bentuk profesionalisme dalam dunia bisnis dan tidak ada sangkut-paut nya dengan dunia luar.


"Silahkan duduk" Ujar Bianca lagi.


Barra pun langsung duduk tanpa mengatakan apapun.


"Alangkah baik nya, bagaimana jika kita mengisi perut terlebih dahulu?" Tawar Bianca melirik berbagai jenis makanan di meja itu.


"Saya hanya memakan makanan buatan istri saya" Jawab dingin Barra.


Senyum yang awal nya tercetak begitu jelas di wajah itu, kini langsung menghilang. Menatap wajah tanpa ekspresi di depan nya.


"Tenang saja Mr., saya tidak mencampurkan apapun" Kekeh Bianca yang seakan mengerti.


Barra tak merespon ucapan itu. "Langsung saja kita mulai pembahasan nya" Ujar nya tak ingin berlama-lama.


Bianca terkekeh pelan, mata nya melirik beberapa bawahan Barra yang bahkan ikut masuk ke ruang privat itu.


"Sebelum nya saya hanya ingin memberitahu, saya tidak akan mengejar anda lagi, Mr.Barra"


"Bagus lah" Sahut acuh Barra.


Bianca tersenyum tipis melihat sikap pria di depan nya. "Baiklah mari kita mulai"


...****************...