Don'T Touch My Baby!

Don'T Touch My Baby!
Part 67



Barra gelisah, khawatir, dan panik. Bahkan saat ini pria itu tidak bisa diam di posisi nya padahal pintu di depan nya masih tertutup rapat.


Mencoba mengintip dari sela pintu ruangan di depan nya namun Barra tak dapat melihat apapun dan hal itu mampu membuat diri nya meraung kesal.


"Brengsek! Apa yang mereka lakukan? Kenapa lama sekali!"


"Hei, Bar!" Panggil seseorang dari belakang sana.


Barra pun menoleh dan mendapati sang Daddy yang entah tau dari mana bahwa sekarang diri nya berada di sini.


"Dad--"


"Bagaimana dengan Queen?" Potong nya khawatir.


"Daddy tau dari mana--"


"Bi Dazy menghubungi Daddy, dan seperti nya Marvin terus menangis di rumah jadi tadi Daddy menghubungi Barri agar membawa istri dan anak-anak nya ke rumah mu" Jelas cepat Anton.


Barra menghela napas pelan, sedikit merasa tenang karena putra nya yang saat ia tinggal tadi terus menangisi Queen.


"Terima--"


"Ah iya, bagaimana dengan Queen?!" Potong Anton lagi yang teringat bahwa pertanyaan nya belum di jawab.


"Aku ga tau Dad, sampai sekarang dokter belum juga keluar"


"Kenapa bisa pingsan? Kalian bertengkar?"


Barra menggeleng cepat dengan tatapan kesal. "Enak saja, jangan asal menuduh ya" Elak nya tak senang.


"Lalu kenapa?"


"Daddy tau sendiri 'kan kalau kondisi lambung Queen tidak baik. Dan beberapa malam belakang ini dia tidak makan karena menunggu ku yang lembur"


Tk!.


Anton pun langsung menjitak kening Barra hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.


"Bisa-bisa nya kamu menyuruh istri mu untuk menunda makan--"


"Tidak Dad, aku tidak menyuruh nya tetapi dia yang berinisiatif sendiri!" Potong kesal Barra mengusap-usap kening nya yang cukup sakit.


Anton pun terdiam, tak lagi mengoceh layaknya ibu-ibu sosialita.


Hingga tak lama kemudian pintu ruang pemeriksaan itu pun terbuka menampilkan sang dokter perempuan yang memeriksa Queen.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" Tanya tidak sabar Barra.


Dokter tersebut menarik napas sesaat sebelum akhirnya mengeluarkan senyum nya, dan hal itu pun membuat Barra menggeram.


"Apa dia bodoh?! Kenapa dia tersenyum? Padahal istri ku sedang sakit!" Maki Barra dengan rahang yang mengetat.


"Selamat tuan, nyonya Queen saat ini tengah mengandung"


Deg!.


Tubuh Barra melemas, mulut yang tadi nya sudah terbuka dan berniat memaki sang dokter langsung mengatup sempurna.


Dan beruntung nya saat ini ada Anton di samping pria itu yang menahan tubuh nya yang hampir saja terjatuh ke lantai.


"Anda baik-baik saja, tuan?" Tanya kaget sang dokter.


"Astaga Bar--"


"Ba-bagaimana.. A-apa kata anda tadi, dok?" Tanya terbata Barra. "Is-istri saya hamil?"


Sang dokter mengangguk yakin. "Benar tuan, kami sudah memeriksa secara keseluruhan dan kandungan nyonya sudah-- Astaga tuan!" Jelas nya berganti dengan pekikan kala melihat Barra pingsan.


"Barra!!" Pekik Anton tak kalah kaget.


Pertama kali nya dalam hidup Anton melihat Barra pingsan seperti ini, pria itu benar-benar tidak sadarkan diri.


Beberapa perawat pun bergegas mendorong brankar dan mengangkat tubuh kekar itu yang tiba-tiba saja melemah.


"Astaga dasar bodoh, bisa-bisa nya kamu pingsan mendengar kabar bahagia ini!" Maki khawatir Anton.


Kemudian pria itu beralih menatap sang dokter. "Dok saya titip menantu saya, jangan sampai dia lecet"


"Baik tuan"


Setelah nya Anton mengejar kemana para perawat itu membawa Barra, sungguh ia sangat khawatir walaupun rasa senang nya begitu besar begitu mendengar bahwa menantu nya akhirnya hamil.


...----------------...


Jari-jari Barra bergerak perlahan, kelopak mata nya pun mulai tidak tenang dan terlihat gusar setelah satu jam lama nya begitu damai.


Saat ini di sebelah brankar itu ada Queen yang sudah tersadar beberapa menit yang lalu dengan selang infusan di tangan kiri nya.


Mengusap perlahan pipi Barra dengan tatapan khawatir, Queen pun mengeluarkan suara nya.


"Sayang.." Panggil nya lembut.


"Bangun lah pria lemah istri mu sudah di sini!" Hardik kesal dan khawatir Anton.


Samar-samar Barra mendengar perkataan itu, namun yang membuat diri nya memaksa agar mata itu terbuka adalah usapan lembut dan aroma khas milik istri nya.


"Honey.." Gumam lirih Barra dengan pandangan yang terasa masih buram.


"Iya sayang, ini aku. Ayo bangun" Sahut lembut Queen.


Sampai pada akhirnya kini kelopak mata Barra telah terbuka sempurna menampilkan netra coklat yang memancarkan sinar nya begitu menatap wajah pucat Queen.


"Sayang.."


"Aku tidak sedang bermimpi 'bukan?" Tanya sendu Barra.


Plak!.


"Awww!!" Barra memekik kesakitan saat pipi nya di tampar begitu saja oleh sang Daddy, dan Queen pun ikut memekik dengan mata melotot kaget.


"Gimana? Sakit 'kan?" Tanya sinis Anton.


"Daddy ada masalah apa sih sama aku?!"


"Daddy cuma mau menyadarkan kamu bahwa ini bukan mimpi!" Celetuk Anton sebelum pada akhirnya pria itu keluar meninggalkan kedua nya. Lebih tepat nya memberikan ruang untuk sepasang pasutri itu.


"Honey.." Rengek pelan Barra mengusap pipi nya.


"Sakit?" Tanya Queen meringis kecil melihat pipi yang memerah itu.


Barra mengangguk manja. "Sakit.."


Queen pun bangun dari posisi nya dan mengecup pipi merah itu. "Sudah tidak apa-apa, nanti sakit nya hilang"


Barra menggeleng dan bangun dari posisi nya. "Ini beneran bukan mimpi 'kan?"


Queen menggeleng dan mengusap pipi Barra. "Apa perlu aku tampar juga?"


Barra menggeleng cepat dan menyembunyikan wajah nya di dada Queen.


Sesaat ruangan itu hanya di isi keheningan, hingga tiba-tiba Barra memekik dan mengangkat tubuh Queen.


"Yeayyy!! I'm really happy!" Pekik nya membuat Queen kaget.


Memukul bahu Barra pelan agar pria itu menghentikan teriakan nya.


"Semua orang harus tau!! Semua nya harus tau bahwa istri tercinta ku sedang hamil yeayy!!!"


"Astaga sayang.." Gumam malu Queen yang memilih menyembunyikan wajah nya kala pintu ruangan itu di buka oleh orang-orang yang sudah menampakkan wajah nya.


...****************...